Berikut santapan di hari minggu. Nikmatilah. 
Lusi.-

Buzzer Menggonggong, Kakak Pembina Berlalu

Opini - SABTU, 05 OKTOBER 2019 , 22:42:00 WIB | 

OLEH: HERSUBENO ARIEF


 EKSISTENSI buzzer pemerintah tengah digugat. Inilah untuk pertama
 kalinya keberadaan para penggonggong dipersoalkan secara serius oleh
 publik dan media. Termasuk sejumlah media yang selama ini dikenal
 sebagai pendukung pemerintah. 

Selama ini para penggonggong hidup bebas merdeka. Mereka bebas menebar
kabar bohong, fitnah, dan mem-bully oposisi dan kelompok-kelompok yang
kritis terhadap pemerintah.

Ada  yang bersembunyi di ruang gelap digital, menggunakan akun palsu.
Namun banyak pula yang tampil secara terbuka.  

Jangan pernah coba-coba mempersoalkan dan bersikap kritis terhadap
pemerintah, apalagi Presiden Jokowi. Tak ada ampun, mereka akan
menggonggong, menyalak, mengejar dan mem-bully Anda sampai habis.

Mereka tak pernah bisa dijamah. Tidak tersentuh hukum. Percuma saja
melaporkan mereka. Dijamin kasusnya tidak akan berlanjut. Dengan
posisinya sebagai pendukung rezim penguasa, mereka masuk dalam kelompok
manusia istimewa. The Untouchable.

Saat ini situasinya mulai sedikit berubah. Majalah Tempo mulai
mempersoalkan keberadaan mereka yang dinilai bisa membahayakan
demokrasi.

Majalah ini juga secara tegas menuding mereka adalah pendukung Jokowi.
Tugas mereka menyebarkan kabar bohong mempengaruhi opini publik dan
sikap publik. Tujuan jangka pendeknya mengamankan kebijakan pemerintah.

Laman tirto.id malah melangkah lebih jauh. Dengan memanfaatkan momentum
keterlibatan unjuk rasa pelajar STM, mereka menguak hubungan antara
para buzzer dan aparat kepolisian.

Para buzzer ini mencoba mengamplifikasi operasi pembusukan terhadap
anak-anak STM sebagai unjuk rasa bayaran. Namun melalui penelusuran
reporter tirto.id, mereka mendapatkan fakta berbeda.

Diduga sejumlah nomor yang terdapat dalam tangkapan layar (creenshoot)
yang disebut-sebut sebagai group percakapan WhatsApp (WAG) anak STM,
milik oknum polisi.

Sudah tentu dugaan itu dibantah oleh Mabes Polri. Polisi malah mengaku
sudah menangkap sejumlah orang yang disebut sebagai admin WAG tersebut.

Mengetahui operasi manipulatifnya terbongkar, beberapa orang buzzer
segera menghapus cuitannya. Namun jejak digital mereka sudah telanjur
terekam.

Bukan hanya kali ini tirto.id membongkar perilaku lancung para buzzer
pendukung pemerintah. Pada aksi #GejayanMemanggil yang mendorong aksi
mahasiswa besar-besaran di Indonesia, tirto.id malah menunjukkan sikap
tegas. tirto.id menampilkan editorial Kami Bersama #GejayanMemanggil.”

Sikap itu mereka ambil sebagai reaksi dari aksi para buzzer membusukkan
aksi #GejayanMemanggil. Para buzzer menyebut aksi ini ditungganggi oleh
kelompok Islam radikal dan pengusung khilafah.

Tekanan publik dan media terhadap para penggonggong ini kian keras.
Dalam pekan ini beredar hasil penelitian perilaku buzzer hasil riset
dua orang peneliti dari Universitas Oxford, Inggris.

Judulnya: The Global Disinformation Order: 2019 Global Information of
Organized Social Media Manipulation. Ditulis oleh Samantha Bradshaw dan
Philip N Howard.

Hasil penelitian di 70 negara termasuk Indonesia itu, menemukan bukti
pemerintah menggunakan buzzer untuk menekan kelompok oposisi dan
memecah belah rakyat.

Sudah Berlangsung Lama

Kecurigaan bahwa para buzzer punya hubungan langsung dengan pusat
kekuasaan, sesungguhnya sudah berlangsung lama. Keberadaan mereka yang
tak tersentuh hukum, menunjukkan mereka sengaja dipelihara dan
dilindungi.

Rocky Gerung secara tidak langsung menyebut istana adalah pusat
penyebaran hoax. Melalui akun @rockygerung dia menyebut pusat hoax
nasional ada di Monas.

Presiden Jokowi diketahui setidaknya pernah dua kali mengundang
sejumlah orang yang disebut sebagai pegiat medsos ke istana. Pada 22
Juni 2017 dan kemudian sebulan kemudian pada tanggal 24 Agustus 2017.
Pertemuan pada bulan Agustus berlangsung tertutup. Saat itu mereka
hanya disebut sebagai pegiat medsos. Namun dilihat dari nama-nama yang
hadir, mayoritas adalah pendukung Jokowi.

Konfirmasi adanya hubungan istana dengan para buzzer ini pertama kali
dibocorkan oleh situs seword.com yang dikenal sebagai pembela garis
keras Jokowi.

Melalui akun fanpage Facebook (2/5/2019) Seword membocorkan pertemuan
puluhan orang buzzer dengan seseorang yang disebut sebagai "Kakak
Pembina.” Seorang figur pengarah gerak para buzzer pendukung Jokowi..

Seword menampilkan sejumlah orang yang tengah duduk disertai keterangan
foto. Nama-nama yang disebut adalah: Yusuf Muhammad, Denny Siregar,
Katakita, Abu Janda, Aldi El Kaezzar, Pepih Nugraha, Info Seputar
Presiden, Redaksi Indonesia, Eko Kuntadhi, Komik Kita, Komik Pinggiran,
Habib Think, Salman Faris, dan Sewordcom.

"Tim ini memang tak terlihat. Selain Kakak Pembina dan Presiden, tak
ada yang benar-benar tahu komposisi tim ini. Seperti halnya Avengers,
setiap orang saling menjaga, menahan diri untuk tidak mengambil gambar.
Tapi saya pikir momen ini sayang untuk tidak dibagikan dan
diceritakan," demikian tulis Seword.

Siapa "Kakak Pembina” ini? Masih menjadi spekulasi media dan medsos..
Kepala Staf Presiden Moeldoko membantah dirinya adalah "Kakak Pembina.”

Moeldoko mengakui para buzzer ini adalah pendukung Jokowi. Namun
keberadaan mereka saat ini mulai dirasakan mengganggu dan merugikan
Jokowi.

"Ya kita melihat dari emosi yang terbangun, emosi yang terbangun dari
kondisi yang tercipta itu merugikan. Jadi ya yang perlu dibangun emosi
positif lah," kata Moeldoko di Jakarta, Jumat (4/10).

Bagi Jokowi, keberadaan buzzer ini seperti buah simalakama. Mereka
sangat dibutuhkan, terutama menjelang dan selama Pilpres, termasuk
menjaga berbagai kebijakannya dari para pengeritik.

Disisi lain keberadaan buzzer mulai sangat mengganggu, termasuk bagi
kalangan pendukung Jokowi sendiri. Perilaku mereka tak terkendali.

Seperti anjing penjaga, mereka akan menggonggong, menyalak, mengejar,
dan meneror siapapun yang dianggap mengganggu tuannya.

Gonggongan dan salakan mereka yang sangat keras, bukan hanya mengganggu
orang lain, tapi juga sudah mulai mengganggu tuan mereka sendiri.

Ada baiknya mumpung RUU KUHP ditunda pengesahannya, pemerintah dan DPR
belajar dari Dewan Kota Saddle River.

Dewan kota di wilayah Bergen, Negara Bagian New Jersey, AS itu baru
saja meloloskan sebuah peraturan. Seorang pemilik akan dihukum bila
gonggongan anjingnya menganggu tetangga. Hukumannya bisa didenda atau
dihukum penjara.

Melalui peraturan tersebut seekor anjing peliharaan dilarang
menggonggong lebih dari 20 menit antara pukul 07.00 pagi hingga 22.00
malam.  Atau lebih dari 15 menit antara pukul 22.00 malam hingga 07.00
pagi.

Dalam KUHP yang baru akan sangat menarik dimasukkan pasal semacam itu.
Seorang buzzer yang menggonggong secara berlebihan, tanpa mengenal
waktu dan sangat mengganggu, maka si Kakak Pembina bisa didenda atau
dihukum penjara.

Dengan UU semacam itu diharapkan ada aturan dan tanggung jawab atas
perilaku buzzer.

Jangan sampai terjadi : BUZZER MENGGONGGONG, KAKAK PEMBINA BERLALU.
[ ***] 

Kirim email ke