https://tabaos.id/dari-dwinpantara-hindia-belanda-hingga-indonesia-inilah-asal-usul-sejarah-nama-indonesia/




Dari Dwinpantara, Hindia Belanda, Hingga Indonesia, Inilah Asal-usul
Sejarah Nama Indonesia
By
 Redaksi <https://tabaos.id/author/redaksi/>
 -
07/07/2019
0
<https://tabaos.id/dari-dwinpantara-hindia-belanda-hingga-indonesia-inilah-asal-usul-sejarah-nama-indonesia/#respond>
204

Share
<https://www.facebook.com/sharer.php?u=https%3A%2F%2Ftabaos.id%2Fdari-dwinpantara-hindia-belanda-hingga-indonesia-inilah-asal-usul-sejarah-nama-indonesia%2F>
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Dari+Dwinpantara%2C+Hindia+Belanda%2C+Hingga+Indonesia%2C+Inilah+Asal-usul+Sejarah+Nama+Indonesia&url=https%3A%2F%2Ftabaos.id%2Fdari-dwinpantara-hindia-belanda-hingga-indonesia-inilah-asal-usul-sejarah-nama-indonesia%2F&via=Tabaos.id>
<https://plus.google.com/share?url=https://tabaos.id/dari-dwinpantara-hindia-belanda-hingga-indonesia-inilah-asal-usul-sejarah-nama-indonesia/>
<https://pinterest.com/pin/create/button/?url=https://tabaos.id/dari-dwinpantara-hindia-belanda-hingga-indonesia-inilah-asal-usul-sejarah-nama-indonesia/&media=https://tabaos.id/wp-content/uploads/Sejarah-dan-Asal-Usul-Nama-Indonesia-2.jpg&description=Dari+Dwinpantara%2C+Hindia+Belanda%2C+Hingga+Indonesia%2C+Inilah+Asal-usul+Sejarah+Nama+Indonesia>
<https://i1.wp.com/tabaos.id/wp-content/uploads/Sejarah-dan-Asal-Usul-Nama-Indonesia-2.jpg?fit=609%2C480&ssl=1>

*TABAOS.ID <http://TABAOS.ID>*,- berbagai catatan ataupun tulisan telah
ditulis oleh para penulis maupun sejarawan pada masa lalu tentang asal
muasal atau asal usul nama Indonesia. Tak banyak anak bangsa ini mengetahui
sejarah maupun asal-usul Indonesia.

Kebanyakan sejarah Indonesia berkembang Ketika Sumpah Pemuda dicetuskan
pada 28 Oktober 1928, nama Indonesia sebagai identitas pemersatu sebuah
bangsa modern di Asia menjadi perekat lintas suku bangsa, agama, dan
sekat-sekat primordial.

Pernahkan Anda berpikir bagaimana Indonesia
<https://intisari.grid.id/tag/indonesia> bisa mendapatkan namanya? Mungkin
sulit untuk dijelaskan, sebab nama suatu negara bukanlah hal sederhana yang
bisa diperoleh dalam waktu singkat.

Kata tunggal ‘Indonesia <https://intisari.grid.id/tag/indonesia>‘ telah
menandakan jalan dan sejarah panjang yang rumit bagi bangsa
<https://intisari.grid.id/tag/bangsa> ini. Semua ini berkaitan dengan
perjuangan untuk kemerdekaan <https://intisari.grid.id/tag/kemerdekaan>,
identitas nasional, dan politik yang meyatukan berbagai ras dari seluruh
wilayah dalam satu identitas bernama ‘Indonesia
<https://intisari.grid.id/tag/indonesia>‘. Sebelum *tabaos.id
<http://tabaos.id>* membahas bagaimana Indonesia
<https://intisari.grid.id/tag/indonesia> memperoleh namanya, jauh sebelum
merdeka, banyak negara di dunia memanggil Indonesia
<https://intisari.grid.id/tag/indonesia> dengan sebutan berbeda-beda.

Catatan masa lalu menyebut kepulauan di antara Indocina
<http://id.wikipedia.org/wiki/Indocina> dan Australia
<http://id.wikipedia.org/wiki/Australia> dengan aneka nama. Kronik-kronik
<http://id.wikipedia.org/wiki/Kronik> bangsa Tionghoa
<http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa> menyebut kawasan ini sebagai
*Nan-hai* (“Kepulauan Laut Selatan”).

Berbagai catatan kuno bangsa India <http://id.wikipedia.org/wiki/India> menamai
kepulauan ini *Dwipantara* (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan
dari kata Sansekerta <http://id.wikipedia.org/wiki/Sansekerta> *dwipa* (pulau)
dan *antara* (luar, seberang). Kisah Ramayana
<http://id.wikipedia.org/wiki/Ramayana> karya pujangga Walmiki
<http://id.wikipedia.org/wiki/Walmiki> menceritakan pencarian terhadap Sinta
<http://id.wikipedia.org/wiki/Sinta>, istri Rama
<http://id.wikipedia.org/wiki/Rama> yang diculik Rahwana
<http://id.wikipedia.org/wiki/Rahwana>, sampai ke *Suwarnadwipa* (“Pulau
Emas”, diperkirakan Pulau Sumatera
<http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Sumatera> sekarang) yang terletak di
Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab <http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab> menyebut wilayah
kepulauan itu sebagai *Jaza’ir al-Jawi* (Kepulauan Jawa
<http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Jawa>). Nama Latin
<http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Latin> untuk kemenyan
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kemenyan&action=edit&redlink=1>,
*benzoe*, berasal dari nama bahasa Arab
<http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Arab>, *luban jawi* (“kemenyan Jawa”),
sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon *Styrax
sumatrana*
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Styrax_sumatrana&action=edit&redlink=1>
yang
dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih
sering dipanggil “orang Jawa” oleh orang Arab, termasuk untuk orang
Indonesia dari luar Jawa sekali pun. Dalam bahasa Arab juga dikenal
nama-nama *Samathrah* (Sumatera), *Sholibis* (Pulau Sulawesi
<http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Sulawesi>), dan *Sundah* (Sunda
<http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda>) yang disebut *kulluh Jawi* (“semuanya
Jawa”).

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya
terdiri dari orang Arab, Persia <http://id.wikipedia.org/wiki/Persia>, India
<http://id.wikipedia.org/wiki/India>, dan Tiongkok
<http://id.wikipedia.org/wiki/Tiongkok>. Bagi mereka, daerah yang
terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah *Hindia*.
Baca Juga  Sejarah Mencatat 17 Agustus 1945 Hari Perkabungan Bagi Orang
Maluku
<https://tabaos.id/sejarah-mencatat-17-agustus-1945-hari-perkabungan-bagi-orang-maluku/>

Jazirah Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara
<http://id.wikipedia.org/wiki/Asia_Tenggara> dinamai “Hindia Belakang”,
sementara kepulauan ini memperoleh nama *Kepulauan Hindia* (*Indische
Archipel*, *Indian Archipelago*, *l’Archipel Indien*) atau *Hindia
Timur* (*Oost
Indie*, *East Indies*, *Indes Orientales*). Nama lain yang kelak juga
dipakai adalah “*Kepulauan Melayu*” (*Maleische Archipel*, *Malay
Archipelago*, *l’Archipel Malais*).

Unit politik yang berada di bawah jajahan Belanda memiliki nama resmi
*Nederlandsch-Indie* (Hindia-Belanda
<http://id.wikipedia.org/wiki/Hindia-Belanda>). Pemerintah pendudukan Jepang
<http://id.wikipedia.org/wiki/Jepang> 1942
<http://id.wikipedia.org/wiki/1942>–1945
<http://id.wikipedia.org/wiki/1945> memakai
istilah *To-Indo* (Hindia Timur) untuk menyebut wilayah taklukannya di
kepulauan ini.

Eduard Douwes Dekker <http://id.wikipedia.org/wiki/Eduard_Douwes_Dekker> (
1820 <http://id.wikipedia.org/wiki/1820>–1887
<http://id.wikipedia.org/wiki/1887>), yang dikenal dengan nama samaran
Multatuli, pernah memakai nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan
Indonesia, yaitu *Insulinde*, yang artinya juga “Kepulauan Hindia”
(dalam bahasa
Latin <http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Latin> *insula* berarti pulau).
Nama Insulinde ini selanjutnya kurang populer, walau pernah menjadi nama
surat kabar dan organisasi pergerakan di awal abad ke-20.
Nama Indonesia

Pada tahun 1847 <http://id.wikipedia.org/wiki/1847> di Singapura
<http://id.wikipedia.org/wiki/Singapura> terbit sebuah majalah ilmiah
tahunan, *Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia*
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Journal_of_the_Indian_Archipelago_and_Eastern_Asia&action=edit&redlink=1>
(JIAEA),
yang dikelola oleh James Richardson Logan
<http://id.wikipedia.org/wiki/James_Richardson_Logan> (1819
<http://id.wikipedia.org/wiki/1819>–1869 <http://id.wikipedia.org/wiki/1869>),
seorang Skotlandia <http://id.wikipedia.org/wiki/Skotlandia> yang meraih
sarjana hukum <http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum> dari Universitas
Edinburgh
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Universitas_Edinburgh&action=edit&redlink=1>.
Kemudian pada tahun 1849 <http://id.wikipedia.org/wiki/1849> seorang ahli
etnologi bangsa Inggris <http://id.wikipedia.org/wiki/Inggris>, George
Samuel Windsor Earl
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=George_Samuel_Windsor_Earl&action=edit&redlink=1>
 (1813 <http://id.wikipedia.org/wiki/1813>–1865
<http://id.wikipedia.org/wiki/1865>), menggabungkan diri sebagai redaksi
majalah <http://id.wikipedia.org/wiki/Majalah> JIAEA.

Dalam *JIAEA* volume IV tahun 1850 <http://id.wikipedia.org/wiki/1850>,
halaman 66-74, Earl menulis artikel *On the Leading Characteristics of the
Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations*. Dalam artikelnya itu Earl
menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau
Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (*a distinctive name*), sebab
nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang
lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: *Indunesia* atau *Malayunesia* (
*nesos* dalam bahasa Yunani
<http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Yunani> berarti
pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis

“*… the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would
become respectively Indunesians or Malayunesians*“.
Baca Juga  Inilah Sejarah Riwayat Keturunan Thomas Matulessy di Hulaliu
Pulau Haruku
<https://tabaos.id/inilah-sejarah-riwayat-keturunan-thomas-matulessy-di-hulaliu-pulau-haruku/>

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu)
daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk
ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka
<http://id.wikipedia.org/wiki/Srilanka>) dan Maldives (Maladewa
<http://id.wikipedia.org/wiki/Maladewa>). Earl berpendapat juga bahwa bahasa
Melayu <http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Melayu> dipakai di seluruh
kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah
Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan
menulis artikel The *Ethnology of the Indian Archipelago*. Pada awal
tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah
air kita, sebab istilah *Indian Archipelago* terlalu panjang dan
membingungkan.

Logan
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Logan&action=edit&redlink=1>
memungut
nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf *u* digantinya dengan
huruf *o* agar
ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah *Indonesia*.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada
halaman 254 dalam tulisan Logan:

“*Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in
favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia,
which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian
Archipelago*“.

Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di
kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara
konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan
lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang
etnologi <http://id.wikipedia.org/wiki/Etnologi> dan geografi
<http://id.wikipedia.org/wiki/Geografi>.

Pada tahun 1884 <http://id.wikipedia.org/wiki/1884> guru besar etnologi
<http://id.wikipedia.org/wiki/Etnologi> di Universitas Berlin
<http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Berlin> yang bernama Adolf Bastian
<http://id.wikipedia.org/wiki/Adolf_Bastian> (1826
<http://id.wikipedia.org/wiki/1826>–1905 <http://id.wikipedia.org/wiki/1905>)
menerbitkan buku *Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel*
(“Indonesia
atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu”) sebanyak lima volume, yang memuat
hasil penelitiannya ketika mengembara di kepulauan itu pada tahun 1864
<http://id.wikipedia.org/wiki/1864> sampai 1880
<http://id.wikipedia.org/wiki/1880>.

Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan
sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia”
itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum
dalam *Encyclopedie van Nederlandsch-Indië* tahun 1918
<http://id.wikipedia.org/wiki/1918>. Pada kenyataannya, Bastian mengambil
istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.

Pribumi <http://id.wikipedia.org/wiki/Inlanders> yang mula-mula menggunakan
istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara
<http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hajar_Dewantara>). Ketika dibuang ke
negeri Belanda tahun 1913 <http://id.wikipedia.org/wiki/1913> ia mendirikan
sebuah biro pers <http://id.wikipedia.org/wiki/Pers> dengan nama *Indonesische
Pers-bureau*.

Nama *Indonesisch* (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch
(“Hindia”) oleh Prof Cornelis van Vollenhoven
<http://id.wikipedia.org/wiki/Cornelis_van_Vollenhoven> (1917). Sejalan
dengan itu, inlander <http://id.wikipedia.org/wiki/Inlander> (pribumi)
diganti dengan Indonesiër (orang Indonesia).
Baca Juga  18 Agustus 1945, Maluku Unrepresented atau Tidak Terwakili Dalam
Pembentukan RI
<https://tabaos.id/18-agustus-1945-maluku-unrepresented-atau-tidak-terwakili-dalam-pembentukan-ri/>
Politik

Pada dasawarsa 1920-an <http://id.wikipedia.org/wiki/1920-an>, nama
“Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu
diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga
nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu
bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai akibatnya, pemerintah
Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 <http://id.wikipedia.org/wiki/1922> atas inisiatif Mohammad
Hatta <http://id.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Hatta>, seorang mahasiswa *Handels
Hoogeschool* (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam
<http://id.wikipedia.org/wiki/Rotterdam>, organisasi pelajar dan mahasiswa
Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische
Vereeniging <http://id.wikipedia.org/wiki/Indische_Vereeniging>) berubah
nama menjadi *Indonesische Vereeniging*
<http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesische_Vereeniging> atau Perhimpoenan
Indonesia. Majalah mereka, *Hindia Poetra*, berganti nama menjadi *Indonesia
Merdeka*.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya,

“Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (*de toekomstige vrije
Indonesische staat*) mustahil disebut “Hindia-Belanda”. Juga tidak “Hindia”
saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli.

Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (*een politiek
doel*), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa
depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesiër) akan
berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”

Di Indonesia Dr. Sutomo <http://id.wikipedia.org/wiki/Sutomo>
mendirikan *Indonesische
Studie Club*
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Indonesische_Studie_Club&action=edit&redlink=1>
pada
tahun 1924 <http://id.wikipedia.org/wiki/1924>. Tahun itu juga Perserikatan
Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia
<http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Komunis_Indonesia> (PKI). Pada tahun
1925 <http://id.wikipedia.org/wiki/1925> Jong Islamieten Bond
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jong_Islamieten_Bond&action=edit&redlink=1>
membentuk
kepanduan *Nationaal Indonesische Padvinderij*
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Nationaal_Indonesische_Padvinderij&action=edit&redlink=1>
 (*Natipij*).

Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama
“Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air,
bangsa, dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28
Oktober <http://id.wikipedia.org/wiki/28_Oktober> 1928
<http://id.wikipedia.org/wiki/1928>, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah
Pemuda <http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Pemuda>.

Pada bulan Agustus 1939 <http://id.wikipedia.org/wiki/1939> tiga orang
anggota *Volksraad* <http://id.wikipedia.org/wiki/Volksraad> (Dewan Rakyat;
parlemen Hindia-Belanda), Muhammad Husni Thamrin
<http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Husni_Thamrin>, Wiwoho Purbohadidjojo
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wiwoho_Purbohadidjojo&action=edit&redlink=1>,
dan Sutardjo Kartohadikusumo
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sutardjo_Kartohadikusumo&action=edit&redlink=1>,
mengajukan mosi
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mosi&action=edit&redlink=1> kepada
Pemerintah Belanda agar nama *Indonesië* diresmikan sebagai pengganti nama
“Nederlandsch-Indie”. Permohonan ini ditolak.

Dengan pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret
<http://id.wikipedia.org/wiki/8_Maret> 1942
<http://id.wikipedia.org/wiki/1942>, lenyaplah nama “Hindia-Belanda”. Pada
tanggal 17 Agustus <http://id.wikipedia.org/wiki/17_Agustus> 1945
<http://id.wikipedia.org/wiki/1945>, menyusul deklarasi Proklamasi
Kemerdekaan, lahirlah (Republik Indonesia). (
tabaos.id/Wikipedia.org/kompas.com/intisari.online).

*Tulisan ini diambil dari beberapa Artikel Tulisan Pribadi Maupun Media
online*

Kirim email ke