Hersubeno Arief:
Deklarasi Oposisi Rocky Gerung, Siapa Mau Gabung?
Redaksi – Selasa, 14 Safar 1441 H / 15 Oktober 2019 18:00 WIB
https://www.eramuslim.com/berita/analisa/hersubeno-arief-deklarasi-oposisi-rocky-gerung-siapa-mau-bergabung.htm
BERITA TERKAIT
·Keangkuhan Jenderal
<https://www.eramuslim.com/berita/analisa/keangkuhan-jenderal.htm>
·Hersubeno Arief: Wiranto Ditusuk, Kok Banyak yang Bersyukur?
<https://www.eramuslim.com/berita/analisa/hersubeno-arief-wiranto-ditusuk-kok-banyak-yang-bersyukur.htm>
·Rizal Fadillah: Kampus Yang Diobok-Obok
<https://www.eramuslim.com/berita/analisa/rizal-fadillah-kampus-yang-diobok-obok.htm>
·Rizal Fadillah: Menafsir Cover Tempo
<https://www.eramuslim.com/berita/analisa/rizal-fadillah-menafsir-cover-tempo.htm>
·Asyari Usman: Bagi RRC, Indonesia Ini Seperti Kelinci Gemuk dan Gurih
<https://www.eramuslim.com/berita/analisa/asyari-usman-bagi-rrc-indonesia-ini-seperti-kelinci-gemuk-dan-gurih.htm>
Eramuslim.com – MANUVER dan pilihan politik Ketua Umum Partai Gerindra
Prabowo Subianto membuat Rocky Gerung “ingkar” janji.
Tanpa menunggu pelantikan presiden, dia sudah mengumumkan sikapnya:
Oposisi terhadap Prabowo!
Rocky bahkan berjanji akan berkeliling Indonesia, mengajak para kampret
(mantan pendukung Prabowo) bergabung bersamanya.
Benar. Deklarasi sebagai oposisi terhadap Prabowo terpaksa saya
majukan,” ujar Rocky dalam tayangan perdana resonansi.tv (berbasis
youtube) Selasa (15/10).
Bagi yang tidak paham konteks dan sikap politiknya, keputusan Rocky ini
agak membingungkan.
Pada kampanye pilpres lalu Rocky berjanji. “Pak Prabowo akan saya kritik
12 menit setelah dia dilantik, catat jejak digital hari ini,” kata Rocky
di hadapan ribuan alumni perguruan tinggi pendukung Prabowo-Sandi di
Gedung Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta Timur, Sabtu (26/1/2019).
Apa lacur ternyata Prabowo kalah. Seharusnya tidak ada pelantikan.
Seharusnya Prabowo tetap bersama kampret. Bersama Rocky menjadi oposisi.
Mengkritik pemerintah. Bukan dikritik.
Namun melihat manuvernya dalam beberapa hari terakhir, publik sadar,
Prabowo tidak akan pernah menjadi oposisi. Tidak akan timbul tenggelam
bersama rakyat, seperti yang dia janjikan.
Safari politiknya menunjukkan dia telah menjadi bagian terpenting dari
pemerintahan Jokowi. Menjadi aktor utama mewakili kepentingan Megawati
dan Jokowi.
Jumat (11/10), Prabowo bertemu dengan Jokowi di Istana. Saat itu dia
mengaku memenuhi undangan Jokowi.
Kepada media secara diplomatis Prabowo menyatakan siap membantu Jokowi
bila dibutuhkan. Namun seandainya tidak berada di kabinet, Gerindra akan
loyal sebagai penyeimbang. Bukan oposisi.
Basa-basi politisi yang sudah basi!
Setelah bertemu Jokowi, Ahad malam (13/10) Prabowo melanjutkan safari
politiknya. Secara mengejutkan dia bertandang ke rumah Ketua Umum Partai
Nasdem Surya Paloh.
Sebelumnya agak sulit membayangkan kedua figur ini bisa bertemu, apalagi
kemudian saling rangkul, peluk, tertawa bersama dan mengaku punya banyak
kesamaan pandangan.
Prabowo selama ini secara terbuka menyatakan ketidaksukaannya terhadap
Surya Paloh. Dia selalu menolak diwawancarai oleh Metro TV milik Surya.
Prabowo menyebut Metro TV tidak punya akhlak dan pencetak kebohongan.
Sebaliknya Metro TV juga selalu memberitakan Prabowo secara miring.
Termasuk dalam editorialnya sebagai sikap resmi redaksi.
Hubungan keduanya seperti anjing dan kucing. Seperti tokoh kartun
legendaris Tom and Jerry. Tak pernah akur.
“Permusuhan” keduanya terus berlanjut. Saat Prabowo bertemu Megawati
dalam diplomasi nasi goreng, pada saat yang sama Surya menggelar
pertemuan dengan Gubernur DKI Anies Baswedan.
Setelah itu Surya maupun media miliknya Metro TV dan Media Indonesia
mulai menyuarakan pentingnya oposisi. Surya juga mulai melakukan kritik
dan bersuara miring terhadap beberapa kebijakan pemerintahan Jokowi.
Pada pelantikan anggota DPR RI (2/10) terjadi drama politik yang cukup
menarik. Mega tidak menyalami Surya. Padahal Surya sudah berdiri
menyambutnya.
Mustahil pertemuan Prabowo dengan Surya kali ini tanpa sepengetahuan dan
restu Megawati. Mereka saat ini telah menjadi satu paket yang solid.
Pemilihan ketua MPR adalah salah satu contohnya. Gerindra akhirnya
sepakat mendukung Bambang Soesatyo sebagai ketua MPR setelah Prabowo
menemui Megawati. Padahal sebelumnya mereka ngotot mengajukan Ahmad Muzani.
Sehari kemudian, Senin malam (14/10), Prabowo bertemu dengan Ketua Umum
PKB Muhaimin Iskandar. Setelah itu dia juga direncanakan akan bertemu
dengan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.
Pertemuan Prabowo dengan para ketua umum partai pendukung Jokowi ini
tentu saja sangat menarik dan menimbulkan tandatanya.
Dalam kapasitas apa, dan apa pula kepentingannya?
Prabowo tampaknya telah mendapat peran baru. Dia menjadi semacam
mediator mempertemukan kepentingan Megawati sebagai pemegang saham
mayoritas pemerintah, dengan para partner pemegang saham lainnya.
Safari politik itu juga sekaligus menjadi semacam pemberitahuan resmi
kepada partai-partai pendukung pemerintah. Bahwa saat ini dia yang
mengendalikan permainan.
Bila tidak mencapai titik temu, maka seperti dikatakan Rocky, bisa
terjadi kampret mengusir cebong.
Menjadi Perdana Menteri
“Kelihatannya Prabowo akan menjadi semacam Perdana Menteri. Menjalankan
peran yang selama ini dimainkan Luhut Panjaitan. Bahkan lebih besar,”
ujar Rocky.
Rocky menduga Prabowo akan menempati posisi sebagai Menko Polhukam,
sesuai dengan latar belakang dan keahliannya. Bukan posisi Wantimpres
seperti yang selama ini diduga.
Dengan posisinya tersebut, Prabowo juga akan mengambil alih peran Wapres
Maruf Amin, termasuk dalam diplomasi internasional. Peran itu selama ini
dijalankan oleh Wapres Jusuf Kalla dan tidak mungkin dimainkan Maruf.
Hanya saja dalam catatan Rocky kemungkinan besar Prabowo akan menghadapi
persoalan, terutama catatan lamanya yang berhubungan dengan kasus HAM.
Bila itu bisa diatasi, maka dia akan menjadi tokoh nomor dua di republik
ini setelah Jokowi.
Besarnya peran Prabowo itu tak lepas dari kepentingan politik Ketua Umum
PDIP Megawati. “Dia merasa lebih nyaman, dan sudah paham luar dalam soal
Prabowo,” ujar Rocky.
Megawati ingin mengamankan kepentingan politik dan keberlangsungan
kekuasaannya pasca Jokowi. Prabowo merupakan sekutu politik yang paling
tepat dibandingkan ketua umum partai lain, termasuk Surya.
Pertemuan Prabowo dengan para ketum parpol menjadi semacam negosiasi,
bagi-bagi kapling di kabinet.
Pos-pos penting dan strategis secara politik dan menghasilkan uang
dikuasai oleh Megawati dan Prabowo. Sementara pos-pos kabinet yang hanya
menghabiskan uang, silakan dibagi-bagi ke parpol lainnya.
Baku atur, cincai diantara para oligarki.
Tinggal rakyat bingung sendiri. Baik pemilih Jokowi, maupun Prabowo cuma
bisa melongo. Akal sehat mereka tidak bisa mencerna.
Mereka masih gontok-gontokan. Para politisi junjungan mereka
rangkul-rangkulan, bagi kapling rezeki dan kekuasaan. Tak perlu ada
oposisi, sehingga mereka bebas tanpa kontrol, melakukan apa saja.
“Beli nomor 1, kok dapatnya nomor 2. Promo berlaku selama 5 tahun”.
Begitulah meme menggambarkan suasana hati rakyat. Getir dan bikin kita
hanya bisa tersenyum kecut.
Demokrasi khas ala Indonesia. Ala Nusantara!
Tanpa representasi parpol sebagai oposisi di DPR, rakyat akan berhadapan
langsung dengan pemerintah. Hanya dengan PKS sebagai oposisi, perannya
tidak signifikan.
“Bila situasi ekonomi dan politik memburuk, sulit terhindarkan munculnya
DPR jalanan. Anak-anak STM bisa kuasai kabinet,” terang Rocky.
Itulah pentingnya rakyat yang tetap berakal sehat bergabung. Menjadi
kekuatan kontrol dan kritis terhadap pemerintah.
Apakah Rocky Gerung bersedia menjadi pemimpinnya? (*end)
/*) Penulis; Hersubeno Arief, pemerhati sosial./