Tiga Partai Lempar Sinyal Keberatan Gerindra ke Koalisi Jokowi
Reporter:
Budiarti Utami Putri
Editor:
Amirullah
Rabu, 16 Oktober 2019 10:20 WIB
Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh bersama Ketua Umum Partai Gerindra
Prabowo Subianto memberikan keterangan usai melakukan pertemuan di
kediaman Surya Paloh di Kawasan Permata Hijau, Jakarta, Ahad, 13 Oktober
2019. Dalam keterangannya, Surya mengatakan tidak mempermasalahkan jika
Gerindra bergabung ke koalisi Jokowi. TEMPO/Muhammad HidayatKetua Umum
Partai Nasdem Surya Paloh bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo
Subianto memberikan keterangan usai melakukan pertemuan di kediaman
Surya Paloh di Kawasan Permata Hijau, Jakarta, Ahad, 13 Oktober 2019.
Dalam keterangannya, Surya mengatakan tidak mempermasalahkan jika
Gerindra bergabung ke koalisi Jokowi. TEMPO/Muhammad Hidayat
*TEMPO.CO*,*Jakarta*- Ketua Umum
PartaiGerindra<https://www.tempo.co/tag/gerindra>Prabowo Subianto
melakukan safari politik ke partai koalisi Joko Widodo-Ma'ruf Amin.
Plesir yang dilakukan menjelang pelantikan presiden-wakil presiden serta
kabinet ini pun dianggap sebagai upaya Gerindra meluluhkan koalisi
Jokowi agar bisa masuk ke pemerintahan.
Selain itu, safari politik Prabowo juga dikaitkan dengan isu jatah kursi
Menteri Pertanian untuk Gerindra. "Ha-ha-ha wartawan lebih tahu," kata
Prabowo soal isu kursi Menteri Pertanian untuk Gerindra, ketika ditemui
di kantor DPP Golkar, Jakarta Barat, Selasa, 15 Oktober 2019.
Meski begitu, tiga partai koalisi pengusung Joko Widodo-Ma'ruf Amin yang
dikunjungi Prabowo mengisyaratkan tak setuju Partai Gerindra bergabung
dan mendapatkan jatah di kabinet.
Prabowo mengawali safari politik ke tiga partai koalisi Jokowi pada
Ahad, 13 Oktober, dengan berkunjung ke rumah Ketua Umum Nasdem Surya
Paloh. Seusai pertemuan, Surya Paloh memang menyatakan tak masalah jika
Gerindra bergabung ke pemerintahan.
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memberikan keterangan
setelah melakukan pertemuan dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar di
DPP PKB, Jakarta, Senin, 14 Oktober 2019. Dalam pertemuan tersebut,
keduanya membahas berbagai isu-isu kebangsaan. TEMPO/Hilman Fathurrahman W
"Saya mana ada masalah. Kami yakin jika Pak Prabowo bergabung dengan
koalisi pemerintahan, ini bersama-sama dengan tekad yang sama," kata
Surya Paloh di rumahnya, kawasan Permata Hijau, Jakarta Barat, Ahad
malam, 13 Oktober 2019.
Meski begitu, Sekretaris Jenderal Partai Nasdem Johnny G. Plate
mengklaim yang dimaksud Surya adalah menyerahkan urusan bertambahnya
koalisi kepada Presiden Joko Widodo. Dia membantah pertemuan Surya dan
Prabowo membicarakan merapatnya Gerindra ke koalisi Jokowi.
"Pak Jokowi yang wacana, ya keputusannya Pak Jokowi. Itu haknya Presiden
bahwa dia bicara dengan kami," kata Johnny, Senin, 15 Oktober.
Sehari setelahnya, giliran Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menerima
kunjungan Prabowo. Seusai pertemuan, Muhaimin mengatakan tak masalah
Gerindra bergabung. Namun dia sekaligus mengimbuhkan Gerindra adalah
makmum masbuk.
"Iyalah, enggak apa-apa (masuk koalisi). Tapi, ibarat kalau kita sedang
salat itu ada imam dan makmum. Nah, makmum yang datangnya belakangan itu
namanya makmum masbuk," ujar Muhaimin di kantor DPP PKB, Jakarta pada
Senin malam, 14 Oktober 2019.
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memberikan keterangan
setelah menggelar pertemuan dengan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga di
kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Selasa, 15 Oktober 2019. TEMPO/M
Taufan Rengganis
ADVERTISEMENT
Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid menjelaskan, makmum masbuk adalah
istilah untuk jamaah yang datang belakangan saat salat berjamaah. Makmum
yang datang duluan dan di baris pertama itu layak mendapat unta,
sedangkan yang datang belakangan idealnya juga duduk di saf belakang.
Jazilul berharap Presiden Jokowi mempertimbangkan siapa yang sudah lebih
dulu dan bekerja untuk koalisi. Jika diibaratkan dengan makmum masbuk,
dia berpendapat, Gerindra pun semestinya mendapatkan tempat belakangan
di koalisi Jokowi.
"Kalau dianalogikan dengan makmum masbuk ya seperti itu. Yang datang
belakangan ya dapat jatah belakangan," kata Jazilul, Selasa, 15 Oktober
2019.
Kemarin, Prabowo menemui Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto. Seusai
pertemuan, Airlangga menyebut kerja sama yang mungkin antara Golkar dan
Gerindra ialah di parlemen. Dia menolak bicara soal kabinet dengan
alasan hal itu merupakan domain Presiden Jokowi.
"Tadi disampaikan Pak Prabowo bahwa kami punya banyak kesamaan, dan
tentu dalam konteks-konteks yang kami bicarakan adalah konteks
parlemen," kata Airlangga di kantor DPP Golkar, Jalan Anggrek Neli
Murni, Slipi Jakarta Barat, Selasa, 15 Oktober 2019.
Ketua Bidang Media dan Penggalangan Opini DPP Partai Golkar Ace Hasan
Syadzily secara terpisah pun menilai idealnya Partai Gerindra sebagai
pihak yang kalah dalam pemilu presiden tetap menjadi oposisi ketimbang
merapat ke koalisi pemerintah.
“Dalam konteks demokrasi tentu pihak yang kalah semestinya menjadi
kelompok oposisi. Idealnya seperti itu,” ujar Ace dijumpai di Cikini,
Jakarta, Selasa, 15 Oktober 2019.
*BUDIARTI UTAMI PUTRI | FIKRI ARIGI | DEWI NURITA*