Tak Terpengaruh Pelantikan Jokowi, Pasar Obligasi Tunggu Kabinet
Reporter:
Bisnis.com
Editor:
Rahma Tri
Senin, 21 Oktober 2019 09:15 WIB
*TEMPO.CO*,*Jakarta*-Pelantikan
<https://bisnis.tempo.co/read/1262217/bambang-brodjonegoro-banyak-prospek-dan-tantangan-untuk-jokowi><https://bisnis.tempo.co/read/1262217/bambang-brodjonegoro-banyak-prospek-dan-tantangan-untuk-jokowi>Jokowi
<https://bisnis.tempo.co/read/1262217/bambang-brodjonegoro-banyak-prospek-dan-tantangan-untuk-jokowi> - Ma'ruf Amin
pada Ahad 20 Oktober 2019 kemarin diprediksi tak berpengaruh besar pada
perdagangan obligasi hari ini. Pelaku pasar diduga lebih penasaran
menanti tim ekonomi Kabinet Jokowi Jilid II misalnya Menteri Badan Usaha
Milik Negara (BUMN) yang biasanya menerbitkan surat utang dengan nilai
cukup tinggi.
Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, Ramdhan
Ario Maruto mengatakan pelantikan presiden dan wakil presiden hanyalah
acara seremonial sehingga pasar obligasi tak terlalu terpengaruh. “Kalau
pelantikannya,/nggak/terlalu pengaruh karena [investor] sudah tahu. Yang
ditunggu ini menteri ekonomi, kayak menteri BUMN karena BUMN banyak
terbitkan surat utang,” ujarnya, Ahad.
Dikutip dari data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), mandat
penerbitan surat utang menyentuh Rp46,02 triliun. Berdasarkan
institusinya, terdapat 26 perusahaan swasta yang akan menerbitkan surat
utang dengan nilai Rp 26,12 triliun. Sisanya, surat utang yang akan
diterbitkan berasal dari delapan BUMN dengan nilai Rp19,9 triliun.
Pada semester I/2019, surat utang BUMN membanjiri pasar dengan nilai
Rp33,9 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan emiten
swasta yakni dengan Rp25,3 triliun. Kendati demikian, bila dibandingkan
dengan capaian tahun sebelumnya, di tahun 2018 justru emiten swasta
menerbitkan surat utang dengan nilai lebih tinggi yakni Rp72,7 triliun
sedangkan BUMN menerbitkan Rp59,8 triliun.
Di sisi lain, Ramdhan menyebut pasar obligasi lebih sensitif terhadap
sentimen eksternal. Mengingat, investor asing memiliki kontribusi cukup
besar dan memiliki kemampuan untuk menggerakkan pasar.
Dikutip dari data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko
(DJPPR) pada 17 Oktober 2019, kepemilikan asing dalam instrumen surat
utang negara (SUN) dan sukuk negara sebesar Rp1.036,54 triliun atau
38,77 persen dari total Rp2.673,85 triliun surat utang yang beredar.
Penurunan suku bunga acuan oleh The Fed dan perang dagang Cina-Amerika
Serikat, katanya, lebih mampu mendorong pasar dibandingkan sentimen
domestik.
ADVERTISEMENT
Pasalnya, penurunan suku bunga acuan akan membuat pasar RI semakin
menarik sehingga merangsang aliran dana asing. Sementara itu,
meruncingnya perang dagang Cina-Amerika Serikat membuat aset seperti
rupiah dan SUN dijauhi investor karena berisiko tinggi. “Pasar lebih
dipengaruhi [sentimen] eksternal,” kata Ramdhan.
Sementara itu, kondisi pasar pascapelantikan Jokowi
<https://bisnis.tempo.co/read/1262104/jokowi-yakin-ri-keluar-dari-jebakan-kelas-menengah-2045>diperkirakan
relatif stagnan, cenderung turun tipis karena menjelang lelang SUN.
Seperti diketahui, pemerintah akan melelang tujuh seri SUN dengan satu
seri baru. Targetnya, pada kuartal IV/2019 pemerintah bisa meraup
Rp101,47 triliun dari lima kali lelang SUN dan enam kali lelang sukuk.
“Menjelang lelang, pasar turun besok tetapi enggak terlalu signifikan,”
Ramdhan memprediksi.
*BISNIS*