----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: ChanCT [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: GELORA_In 
<[email protected]>Terkirim: Minggu, 20 Oktober 2019 13.55.06 
GMT+2Judul: [GELORA45] Fwd: Mengintip stagnasi pertumbuhan ekonomi pemerintahan 
Jokowi
     
 


 
 
 
 -------- Forwarded Message -------- 
| Subject:  | Mengintip stagnasi pertumbuhan ekonomi pemerintahan Jokowi |
| Date:  | Sun, 20 Oct 2019 09:52:31 +0800 |
| From:  | ChanCT <[email protected]> |
| To:  | GELORA_In <[email protected]> |

 
 
  Ke depan, regulasi Indonesia harus lebih fleksibel dan adaptif terhadap pasar 
sehingga membantu mendorong pertumbuhan ekonomi Jakarta (ANTARA) - "Dengan 
berbagai kebijakan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat tajam sejak 
tahun 2016, menjadi 7,1 persen pada tahun 2017, dan terus meningkat pada tahun 
2018 dan 2019 masing-masing sebesar 7,5 persen dan 8 persen".
 
 Data tersebut tercatat jelas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah 
Nasional (RPJMN) 2015-2019, yang merupakan penjabaran dari visi dan misi 
Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang memenangkan pemilu 
lima tahun lalu.
 
 Namun, hingga berakhirnya pemerintahan Jokowi-JK menunjukkan realita yang tak 
senada.
 
 Ekonomi domestik pada 2015 justru tumbuh di bawah lima persen, tepatnya 4,79 
persen, meleset dari sasaran 5,8 persen.
 
 Setahun setelahnya, ekonomi juga tak tumbuh setajam yang diprediksikan.
 
 Pada 2016, pertumbuhan ekonomi meningkat dibandingkan tahun sebelumnya tapi 
hanya menyentuh 5,02 persen, jauh dari proyeksi dalam RPJMN yang mencapai 6,6 
persen.
 
 Di titik ini, target pertumbuhan ekonomi dalam RPJMN 2015-2019 semakin tampak 
tak relevan.
 
 Di saat bersamaan, pertumbuhan ekonomi pun tampak enggan menjauh dari kisaran 
lima persen, alias stagnan.
 
 Pada 2017 dan 2018, perekonomian domestik masing-masing mencapai 5,07 persen 
dan 5,06 persen.
 
 Bagaimana dengan 2019 dengan target 8 persen? Kemungkinan besar tak akan jauh 
berbeda dari tahun-tahun sebelumnya realisasinya di level 5 persen..
 
 Paruh pertama tahun 2019 saja, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan 
angka pertumbuhan 5,05 persen.
 
 Pemerintah beralasan pelaksanaan RPJMN 2015-2019 menghadapi berbagai tantangan 
peristiwa ekonomi global seperti krisis utang Yunani, Brexit, ketidakpastian 
kebijakan Amerika Serikat seperti proteksionisme perdagangan dan normalisasi 
kebijakan moneter, proses "rebalancing" ekonomi China dan berakhirnya era 
"commodity boom".
 
 Baca juga: IMF pangkas perkiraan pertumbuhan global 2019 menjadi tiga persen
 
 Meski begitu, Pemerintah mengklaim bahwa perekonomian domestik yang tiap 
tahunnya tumbuh di kisaran lima persen, dianggap masih lebih baik dibandingkan 
dengan rata-rata negara berkembang dunia sebesar 4,5 persen per tahun.
 
 Pemerintah juga mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam empat tahun 
terakhir memang stagnan. Sejak krisis ekonomi 1998, rata-rata pertumbuhan 
ekonomi Indonesia hanya 5,3 persen per tahun.
 
 Pemerintah menyadari, dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang stagnan 
tersebut, sulit bagi Indonesia untuk dapat naik kelas menjadi negara 
berpendapatan tinggi atau mengejar ketertinggalan pendapatan per kapita negara 
"peers".
 
 Baca juga: Bambang Soesatyo kasih pesan pertumbuhan ekonomi 100 hari pertama
 Baca juga: Darmin sebut kualitas pertumbuhan ekonomi membaik lima tahun 
terakhir
 
 Bappenas dalam kajian "Growth Constraint Study" menyebutkan ada dua faktor 
utama yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi terhambat, yaitu regulasi dan 
institusi.
 
 Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Bambang Brodjonegoro 
mengatakan, banyak pelaku usaha yang menilai aturan-aturan yang berlaku di 
Indonesia masih terlalu kaku dan institusinya cenderung tertutup dan 
berkualitas rendah dengan adanya masalah korupsi, sehingga membuat investor 
menjadi galau untuk menanamkan investasi di Tanah Air.
 
 "Kalau sudah kaku dan tertutup, pasti tidak atraktif bagi investor. Ke depan, 
regulasi Indonesia harus lebih fleksibel dan adaptif terhadap pasar sehingga 
membantu mendorong pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
 
 
 Lebih realistis
 
 Pada 2020-2024, pertumbuhan ekonomi diharapkan dapat mencapai 5,4 sampai 6 
persen per tahunnya. Sasaran pertumbuhan ekonomi kali ini dapat dikatakan lebih 
realistis dibandingkan RPJMN sebelumnya.
 
 Pemerintah pun menyebutkan, ekspansi perekonomian lima tahun ke depan akan 
didorong oleh peningkatan investasi yang ditargetkan tumbuh 6,88 sampai 8,11 
persen per tahun.
 
 Untuk mencapainya, investasi swasta, baik asing maupun dalam negeri, akan 
didorong melalui deregulasi prosedur investasi, sinkronisasi dan harmonisasi 
peraturan perizinan, termasuk meningkatkan kemudahan berusaha (Ease of Doing 
Business/EoDB) Indonesia dari peringkat 73 pada 2018 menuju peringkat 40 pada 
2024.
 
 Peningkatan investasi juga didorong oleh peningkatan investasi pemerintah, 
termasuk BUMN, terutama untuk infrastruktur.
 
 Selain itu, pemerintah juga akan meningkatkan ekspor barang dengan melakukan 
revitalisasi industri pengolahan yang mendorong diversifikasi produk ekspor non 
komoditas dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.
 
 Peningkatan juga akan didorong oleh lonjakan ekspor jasa, utamanya jasa 
perjalanan, melalui pengembangan sektor pariwisata.
 
 Pemerintah berharap, melalui kinerja perdagangan internasional yang membaik, 
akan mendorong penguatan stabilitas eksternal yang ditandai dengan perbaikan 
defisit transaksi berjalan menjadi 2 sampai 1,3 persen PDB dan juga peningkatan 
cadangan devisa menjadi 161,1 miliar dolar AS hingga 184,8 miliar dolar AS pada 
2024.
 
 Lagi-lagi pemerintah mengakui, tidak berkembangnya industri pengolahan, 
berdampak pada kinerja perdagangan internasional Indonesia.
 
 Hingga saat ini, ekspor Indonesia masih didominasi oleh ekspor komoditas 
dengan jasa transportasi asing, tidak berbeda dengan periode 40 tahun lalu.
 
 Rasio ekspor terhadap PDB juga terus menurun dari 41 persen pada 2000 menjadi 
21 persen pada 2018. Akibatnya, Indonesia masih mengalami defisit transaksi 
berjalan hingga mencapai 3 persen PDB di saat beberapa negara "peers" sudah 
mencatatkan surplus.
 
 Dari sisi fiskal, pemerintah berkomitmen untuk menjaga APBN yang sehat dengan 
tetap memberikan dorongan stimulus terhadap perekonomian.
 Baca juga: IMF revisi pertumbuhan global, Indonesia masih tumbuh 5,1 persen
 
 Sementara itu, dari sisi moneter, laju inflasi yang rendah dan stabil 
diharapkan dapat menjaga daya beli dan mendorong konsumsi masyarakat sehingga 
dapat mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.
 
 Pemerintah dan Bank Indonesia berkomitmen untuk menjaga tren penurunan laju 
inflasi rendah dan stabil dalam jangka menengah.
    Suasana deretan gedung bertingkat di kawasan Jakarta Selatan, Selasa 
(10/9/2019). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj. Deretan upaya pemerintah untuk 
meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional tersebut, tentu patut didukung 
sembari diawasi sehingga implementasi RPJMN tak lagi menjadi sekedar basa-basi.
 
 Stagnasi pertumbuhan ekonomi sudah selayaknya lebih serius dicermati.
 
 Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko 
Listiyanto mengatakan, apabila yang menjadi tolak ukur keberhasilan pemerintah 
itu dari RPJMN, maka target perekonomian belum tercapai, jika tidak ingin 
dikatakan gagal.
 
 “Secara umum paling gampang lihat perekonomian itu di pertumbuhan. Karena 
pertumbuhan itu merepresentasikan segala aktivitas yang ada di masyarakat," 
katanya.
 Baca juga: Kemenkeu yakin ekonomi RI bertahan meski IMF revisi pertumbuhan 
global
 
   
Oleh Citro Atmoko
 Editor: Royke Sinaga
      

Kirim email ke