Defisit Bengkak, Sri Mulyani Akan Terbitkan Surat Utang Valas
CNN Indonesia | Jumat, 25/10/2019 09:24 WIB
Bagikan :
Defisit Bengkak, Sri Mulyani Akan Terbitkan Surat Utang ValasMenteri
Keuangan Sri Mulyani. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan*Sri Mulyani
<https://www.cnnindonesia.com/tag/sri-mulyani>* Indrawati memberi sinyal
akan menerbitkan *surat utang
<https://www.cnnindonesia.com/tag/surat-utang>* berdenominasi valuta
asing (valas) alias/global bond/yang ditawarkan ke investor asing dalam
waktu dekat. Meski begitu, ia masih enggan memberi kepastian waktu
penerbitan tersebut.
Bendahara Negara memberi sinyal penerbitan/global bond/karena
mempertimbangkan kondisi tingkat bunga acuan yang tengah menurun di
dunia. Hal ini membuat tingkat imbal hasil (/yield/) surat utang luar
negeri tengah menurun dari sebelumnya.
Kondisi memungkinkan pemerintah bisa menarik utang dengan tingkat bunga
yang lebih rendah kepada pemberi utang. Namun, utang dari Indonesia bisa
menarik bagi investor karena/yield/-nya masih lebih tinggi dari
negara-negara lain.
"Secara internasional suku bunga sangat rendah. Jadi ini akan
memberikan/opportunity/(kesempatan) pada kita untuk mencari pembiayaan
paling baik bagi kita. Nanti kita akan lihat berapa," ucap Sri Mulyani
di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (24/10).
Lihat juga:
Sri Mulyani Resmi Naikkan Tarif Cukai Rokok Sebesar 25 Persen
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20191024135356-532-442525/sri-mulyani-resmi-naikkan-tarif-cukai-rokok-sebesar-25-persen/>
Lebih lanjut, sinyal penerbitan/global bond/sejatinya sah-sah saja
dilakukan lantaran ia sudah mengantisipasi dengan menerbitkan Peraturan
Menteri Keuangan (PMK) Nomor 144/PMK.05.2019 tentang Perkiraan Defisit
dan Tambahan Pembiayaan Defisit APBN Tahun Anggaran 2019.
"Ini dalam pembiayaan yang mungkin tidak terlalu besar, tapi kami tetap
mengkombinasikan antara domestik dan internasional," ujarnya.
Di sisi lain, penerbitan/global bond/ibarat jurus terakhir yang perlu
dilakukan mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu. Sebab, defisit
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 kian melebar. Defisit
anggaran sebesar Rp199,1 triliun atau 1,24 persen dari Produk Domestik
Bruto (PDB) pada akhir Agustus 2019.
Realisasi defisit itu sejatinya belum mencapai target yang dipasang
pemerintah sebesar Rp296 triliun atau sebesar 1,84 persen dari PDB.
Namun, kekurangan anggaran negara terus meningkat dari bulan ke bulan
jelang akhir tahun.
Lihat juga:
Jokowi Minta Bos Baru Bappenas Bantu RI Naik Kelas
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20191024094626-532-442448/jokowi-minta-bos-baru-bappenas-bantu-ri-naik-kelas/>
Defisit terus melebar karena kondisi perekonomian global dan domestik
sama-sama mendapat tekanan. Misalnya sektor manufaktur dan pertambangan
tertekan karena pengaruh gejolak harga komoditas di pasar internasional.
"Tekanan penerimaan sangat besar terutama berasal dari kondisi ekonomi.
Maka kami melihat defisit kemungkinan melebar," katanya.
Hal ini yang selanjutnya membuat aliran penerimaan negara menjadi seret.
Kantong penerimaan baru terisi Rp1.189,3 triliun per akhir Agustus 2019.
Sedangkan realisasi belanja negara pada periode yang sama sudah mencapai
Rp1.388,3 triliun. Pertumbuhan penerimaan hanya naik 3,2 persen,
sementara belanja mencapai 6,5 persen.
*(uli/lav)*