Bukan hal aneh kalau di Indonesia hutan dijadikan padang pasir, karena di
Indonesia mau diadakan peternakan unta, di china sudah ada unta. Perlu
adanya unta karena unta adalah limosin para nabi-nabi di zaman dulu kala.
Indonesia cinta nabi-nabi maka oleh sebab itu perlu adanya unta. Kencing
Unta adalah obat mujarab segala macam penyakit. Daging unta adalah daging
yang dimakan oleh para nabi. Susu unta juga sangat kaya dengan berbagai
substans untuk kesehatan. Itulah unsur-unsur penting adanya padang pasir di
Indonesia. Satu hal yang perlu ditambahkan ialah kemungkinan dibuatnya
perkebunan korma. Jadi bukan saja kelapa sawit yang menjadi komoditi dagang
utama.


http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/9391/di_china__padang_pasir_menjadi_hutan___di_indonesia__hutan_menjadi_padang_pasir


*Di China, Padang Pasir Menjadi Hutan, Di Indonesia, Hutan Menjadi Padang
Pasir*

Senin , 28 Oktober 2019 | 07:39


KENAPA China dalam jangka waktu singkat, dari negara yang terkebelakang
pada tahun 1993, ketika penulis pertama kali ke China, dan sekarang pada
tahun 2019, China menjadi negara nomor dua terkaya, setelah Amerika
Serikat? Jawabnya, adalah karena pemimpin China punya mimpi untuk membuat
negara China menjadi negara hebat di dunia. Kata isteri Presiden Amerika
Serikat Roosevelt, Eleanor Roosevelt, pada tahun 1940-an, “The future
belongs to those who be lieve in the beauty of their dream”.

Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis pada tahun 1811 sudah berujar, “Let
China sleep forever! Because when China wakes up, China will govern the
world!” Terjemahannya dari ucapan Napoleon Bonaparte itu ke dalam bahasa
Indonesia, adalah sebagai berikut, “Biarkanlah China tidur untuk selamanya.
Karena begitu China terbangun dari tidurnya, maka China akan menguasai
dunia!”.

Penulis tidak heran kenapa China, kok bisa menjadi begini, satu dan lain,
karena sejak tahun 1993, ketika China dijegal oleh Amerika Serikat untuk
tidak bisa menjadi Pendiri (Founder) dari World Trade Organization (WTO),
atau Organisasi Perdagangan Dunia (OPD). Bahkan, boro-boro untuk menjadi
Founder dari WTO, menjadi anggota saja juga dihalangi oleh Amerika Serikat.
Sedangkan Indonesia diterima sebagai Pendiri dan anggota dari WTO. China
baru diterima sebagai anggota WTO pada tahun 2002.

China pada waktu itu tidak berkecil hati, bahkan China bertekad untuk
menjadi pemenang (Winer) di dalam era perdagangan bebas, yang akan dimulai
tahun 2020, yakni dengan mengirim orang China muda, setiap tahun sebanyak
500.000,- orang per tahun untuk mengambil gelar Doktor, pada setiap cabang
ilmu pengetahuan, sejak tahun 1993. Hal ini berarti, pada tahun 1998, China
sudah memiliki 500.000,- (setengah juta) lulusan DR dari Perguruan Tinggi
di Amerika Serikat, seperti DR lulusan dari : Harvard University, Yale
University, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Duke University,
University of Chicago, University of California, Barkeley, dan seterusnya.
Hal ini berarti sekarang ini, tahun 2019 China sudah memiliki 10,5 juta
orang Doktor pada berbagai cabang ilmu pengetahuan, lulusan Amerika
Serikat. Dan belum lagi doktor-doktor lulusan dari Perguruan Tinggi di
Canada, Australia, dan Eropa.

Maka tidak heranlah kenapa China maju begitu pesat. Apa saja bisa ditiru
atau diduplikasi oleh China. Dan produk tiruan buatan China, itu bahkan
lebih bagus dari pada aslinya. Berita terakhir, China sudah bisa membuat
air dari udara, dan membuat listrik dari udara. Kalau ini menjadi produk
masal, maka bahan bakar : minyak bumi, gas, dan batu bara menjadi tidak
berharga lagi, alias obsolete.

Dan, China sudah pula membangun Kampung Bali di pulau Hainan, di China.
Kampung itu persis sama betul seperti kampung orang Bali di Bali. Di
kampung Bali di Pulau Hainan itu, rumahnya, dan puranya persis seperti di
Bali, dan bahkan, orang China di Kampung Bali itu berpakaian Bali,
berbahasa Bali, dan berbudaya Bali.

Semula penulis mengira, bahwa China berbuat seperti ini adalah untuk
memuaskan rakyat China, golongan menengah kebawah. Mereka tidak perlu lagi
berkunjung ke Pulau Bali, Indonesia, tetapi cukup pergi bertamasya ke
Kampung Bali di Pulau Hainan, China. Dan, bahkan China lebih jauh lagi,
silahkan anda buka aplikasi Blibli.com, dan di situ China menawarkan kepada
orang-orang Indonesia untuk berkunjung ke Kampung Bali, China. Dan ongkos
biayanya lebih murah dari pada berkunjung ke Pulau Bali. Kata teman penulis
di Kalimantan Barat, sudah banyak orang Kalimantan Barat yang berkunjung ke
Kampung Bali di China???

Penulis menduga, karena China sudah kaya, dan banyak orang pandainya, maka
dalam waktu dekat China akan membangun duplikasi Candi Borobudur di China.
Kemudian juga akan disusul dengan membangun duplikasi Danau Toba di China?
Apa akibatnya bagi kita yang berslogan, “Salam Dua Jari, Kemudian Salam
Tiga Jari”. Dan alangkah alangkah malangnya Indonesia menjadi terpaksa
bersalam gigit jari?

Sesuai dengan judul tulisan ini, memang betul China sudah bisa merubah
Padang Pasir menjadi hutan. Sedangkan kita di Indonesia selama ini
berpraktek membabat hutan menjadi padang pasir! Mohon periksa photo
terlampir, yang berjudul, “Kawasan Ekosistem Leuser Harapan Terakhir Hutan
Sumatera”. Disitu dapat dilihat bahwa, pulau Sumatera yang pada tahun 1932,
masih ditutupi oleh hutan yang hijau royo-royo. Pada tahun 2019, penulis
berkira bahwa, Pulau Sumatera sudah menjadi Padang Pasir. Penulis tidak
pernah mau menyerah. Kalau China bisa, maka Indonesiapun, juga harus
menjadi lebih bisa! Kenapa? Karena NKRI ini banyak sekali dikarunia Allah
segala macam nikmat, yakni yang berupa kekayaan alam, dan kekayaan budaya,
yang melimpah ruah dan seterusnya, namun kita kurang pandai mensyukuri
nikmat Allah itu. Marilah kita menjadi manusia yang selalu mensyukuri
nikmat Allah. Sesuai dengan janji Allah “Kalau engkau bersyukur, maka akan
aku tambah kenikmatannya. Namun, kalau engkau tidak bersyukur, maka azabku,
adalah sangat
pedih!”

Ya Allah, Ya Robb yang Maha Kuasa, mohon ampun-Mu kepada rakyat dan bangsa
Indonesia, dan jadikanlah dengan ridho-Mu, rakyat dan bangsa Indonesia
menjadi rakyat dan bangsa yang mensyukuri nikmat-Mu. Amin ya Robbal
alamin. *(Marzuki
Usman)*

*Penulis adalah ekonom dan pakar pasar modal.*

Kirim email ke