https://www.antaranews.com/berita/1139436/selamatkan-industri-tekstil-ikatsi-prioritaskan-restrukturisasi
Selamatkan industri tekstil, Ikatsi:
Prioritaskan restrukturisasi
Rabu, 30 Oktober 2019 22:42 WIB
Ketua Umum Ikatsi Suharno Rusdi saat menyampaikan keterangan di Jakarta,
Rabu (30/10/2019). ANTARA FOTO/Aji Cakti.
Restrukturisasi industri, karena kita melihat kapasitas industri
nasional sebesar 3,1 juta ton, namun yang jalan cuma sekitar satu juta ton
Jakarta (ANTARA) - Ikatan Ahli Tekstil Indonesia menyarankan
restrukturisasi industri tekstil dan produk tekstil perlu diprioritaskan
dalam rangka menyelamatkan sektor industri tersebut.
"Restrukturisasi industri, karena kita melihat kapasitas industri
nasional sebesar 3,1 juta ton, namun yang jalan cuma sekitar satu juta
ton," ujar Ketua Umum Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (Ikatsi) Suharno
Rusdi di Jakarta, Rabu.
Dia menjelaskan bahwa kemungkinan industri tekstil dan produk tekstil
nasional mengalami kemunduran dikarenakan oleh mesin-mesin tekstil yang
sudah tua, mengonsumsi listrik lebih banyak, kecepatan produksinya
lamban dan membutuhkan tenaga kerja lebih banyak karena mesinnya tidak
bersifat otomatis.
*Baca juga: Dirjen BC sebut ketentuan kelompok produk tekstil akan
direvisi
<https://www.antaranews.com/berita/1097362/dirjen-bc-sebut-ketentuan-kelompok-produk-tekstil-akan-direvisi>*
"Dengan demikian /cost/ per unit /output/-nya tinggi, maka dari itu
teknologi mesin tekstil industri nasional harus direnovasi dan
diperbarui," tuturnya.
Mesin-mesin industri tekstil nasional harus dibuat lebih efisien, ramah
lingkungan dan menurunkan konsumsi listrik.
Dalam paparannya di diskusi publik yang digelar Indef, ketua umum Ikatsi
tersebut menyampaikan bahwa restrukturisasi yang tidak tepat sasaran
menjadi salah satu penyebab industri tekstil dan produk tekstil
mengalami kemunduran signifikan.
*Baca juga: Menkeu pastikan impor tekstil ilegal tidak melalui PLB
<https://www.antaranews.com/berita/1097002/menkeu-pastikan-impor-tekstil-ilegal-tidak-melalui-plb>*
Maka dari itu restrukturisasi industri sektor tersebut perlu dilakukan
dalam rangka mengantisipasi revolusi industri 4.0, antara lain melalui
pemberian insentif dan modernisasi teknologi, terutama mesin-mesin
industri tekstil.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Institute for Development of
Economics and Finance (Indef), kinerja industri tekstil dan produk
tekstil nasional rata-rata pertumbuhan selama 10 tahun terakhir mencatat
kenaikan ekspor tiga persen, namun di sisi lain impor juga mengalami
kenaikan 10,4 persen. Sedangkan neraca perdagangannya terus tergerus
dari 6,08 miliar dolar AS menjadi 3,2 miliar dolar AS.
Salah satu alasan mengapa industri tekstil dan produk tekstil mengalami
kemunduran signifikan, karena mesin-mesin industri tekstil sudah tua.
Selain itu, alasan-alasan lainnya yang membuat kemunduran signifikan
sektor industri tersebut, antara lain serbuan impor produk tekstil ke
Indonesia, harga produk tekstil Indonesia tidak kompetitif dibandingkan
produk impor, pertumbuhan impor kain yang tidak diimbangi ekspor garment
telah merusak industri kain, benang dan serat, serta pertumbuhan
konsumsi domestik diambil impor.
*Baca juga: Sembilan perusahaan tekstil tutup karena produk impor
<https://www.antaranews.com/berita/1052216/sembilan-perusahaan-tekstil-tutup-karena-produk-impor>
Baca juga: Kemenperin targetkan 15 miliar dolar AS dari ekspor produk
tekstil
<https://www.antaranews.com/berita/1048710/kemenperin-targetkan-15-miliar-dolar-as-dari-ekspor-produk-tekstil>*Pewarta:
Aji Cakti
Editor: Chandra Hamdani Noor