Rezim neo-Mojopahit tidak ada kekecualiannya siapaun presidennya untuk
berlaku adil, karena lihat kementrian agamanya yang harus suci, menjadi
sarang penyamun, jadi belum tentu Maluku memperoleh 10% hasil gas Masela.
NTT juga mau minta bahagian 5%, Cilaka! Sejak tahun 1965 hingga kini saja
tidak berikan kursi menteri, apalagi mau diberikan hasil dari Blok Masela
yang menghasilkan banyak fulus untuk kaum berkuasa neo-Mojopahit.

https://tabaos.id/ppm_95-wacana-bagi-hasil-blok-masela-maluku-ntt-diduga-strategi-adu-domba/


PPM_95 : Wacana Bagi Hasil Blok Masela, Maluku-NTT Diduga Strategi Adu Domba

By

 *Redaksi* <https://tabaos.id/author/redaksi/>

 27/10/2019

*
<https://i1.wp.com/tabaos.id/wp-content/uploads/BLOK-MASELA-BARU.jpg?fit=800%2C533&ssl=1>*Peta
Pengoperasian Blok Masela di Maluku

*TABAOS.ID <http://TABAOS.ID>*,- Wacana bagi hasil 10 % dari keuntungan
Blok Nasela untuk Provinsi Maluku dan Nusa Tenggara Timur (NTT) diduga kuat
merupakan strategi adu domba Pasalnya, wacana ini dapat menimbulkan
hubungan yang buruk antara Provinsi Maluku dan NTT, yang merupakan dua
provinsi miskin di Indonesia.

Penilaian tersebut disampaikan Koordinator Paparisa Perjuangan Maluku
(PPM_95), Adhy Fadly lewat rilisnya yang diterima redaksi *tabaos.id
<http://tabaos.id>* ini, Minggu (27/10/2019). Menurut Fadhly, Blok masela
atau yang lebih sering diistilahkan dengan sebutan lumbung gas abadi
merupakan salah satu pintu bagi Maluku dalam merubah nasib, meningkatkan
taraf hidup masyarakat Maluku yang terpuruk,miskin bahkan terkesan
dimiskinkan selama ini.

“Namun perlu saya ingatkan, blok masela juga merupakan salah satu pintu
Maluku berpisah dari NKRI, jika tidak dikelolah secara baik profesional
yang diletakan diatas pondasi keadilan,”ucapnya.

Menurutnya, pernyataan gubernur NTT, Victor Laiskodat bahwa daerahnya akan
mendapatkan 5 persen dari 10 persen yang menjadi hak Maluku terhitung sejak
tahun 2025 nanti karena sudah disetujui presiden, dapat memicu hubungan
yang buruk antara kedua daerah miskin ini.

Adhy Fadly Tuhulele, Koordinator Paparisa Perjuangan Maluku (PPM_95)

Dari aspek peluang serta keinginan untuk mengembangkan daerahnya, Fadhly
mengakui manuver Victor Laiskodat adalah sesuatu yang wajar, namun
seharusnya kembali berpikir sejenak, Blok Masela itu milik siapa.

“Semua pihak janganlah segala sesuatu selalu berpulang pada pasal 33 UUD
1945,namun substansi dari pasal tersebut diabaikan. Perlu saya tekankan,
blok masela milik rakyat Maluku,bukan milik siapa siapa,terlebih
presiden,”tukasnya.

Dengan demikian lanjut Fadhly, dalam mengambil keputusan terkait blok
masela, negara dalam hal ini Presiden Jokowi harus bisa menghargai rakyat
Maluku yang memiliki gubernur,bupati maupun walikota, bahkan DPRD sebagai
representatif raktar.

Dia juga menegaskan, wacana bagi hasil dengan NTT ini boleh saja, asalkan
tidak mengganggu 10% milik Maluku. Bahkan seharusnya sebagai pemilik,
Maluku harus mendapatkan lebih dari 10% jika, negara mau adil, serta Pemda
Maluku mau berpikir keras demi kesejahteraan dan kemaslahatan rakyatnya.

*Baca Juga*  *BMKG : Tsunami di Selat Sunda Beberapa Waktu Lalu, Juga Bisa
Terjadi di Maluku. Apa Alasannya ?*
<https://tabaos.id/bmkg-tsunami-di-selat-sunda-beberapa-waktu-lalu-juga-bisa-terjadi-di-maluku-apa-alasannya/>

Fadhly juga meminta agar Gubernur NTT jangan mau diadu domba. “saya selaku
bagian dari rakyat Maluku ingin berpesan kepada Gubernur NTT, janganlah mau
di adu, sebab rakyat Maluku pun akan sama. Atas sebuah kebenaran untuk yang
namanya keadilan,selangkahpun kita tidak akan mundur,”tegasnya.

Bagi Presiden Jokowi dalam mengawali periode ke dua ini Fadhly juga meminta
janganlah memancing di air keruh, sebab kekecewaaan rakyat Maluku sudah
sangat menumpuk. Jangan sampai dengan kebijakan yang selalu tidak
menguntungkan maluku, akan terakumulasi dalam sebuah pernyataan Maluku
Berpisah. Signal itu sebut dia semakin kuat, jika melihat kebijakan yang
tidak adil yang belakangan ini dikeluarkan pemerintah.

Untuk Gubernur Maluku, saya yakin seorang jenderal seperti pak Murad Ismail
mampu mengambil sikap tegas demi rakyatnya. Tidak berlebihan Maluku
kibarkan bendera “*perang*“, dengan memboikot semua pejabat dari pusat yang
datang ke Maluku. Dan soal Masela Maluku, dapat melakukan Sasi adat, kenapa
tidak?,”pungkasnya (*T05*)

Kirim email ke