https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1662-bila-gubernur-jadi-presiden
*Sabtu 02 November 2019, 05:30 WIB *//
//
//
/*Bila Gubernur Jadi Presiden*/
*Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group | podium
<https://mediaindonesia.com/podiums>*
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1662-bila-gubernur-jadi-presiden>
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Bila Gubernur Jadi Presiden
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1662-bila-gubernur-jadi-presiden
via @mediaindonesia>
Bila Gubernur Jadi Presiden
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/11/b427538d410be5900e9185681c0453ed.jpg>
/MI/
Ilustrasi
Gubernur rasa presiden. Begitu warganet kerap menyebut Gubernur DKI
Jakarta Anies Baswedan. Sebutan itu berkonotasi positif bahwa kerja
Gubernur Anies naik kelas, sekelas kerja Presiden Jokowi. Harap maklum
warganet yang menyebut gubernur rasa presiden itu para pendukung Anies.
Tjahjo Kumolo ketika menjadi menteri dalam negeri pernah menyebut Anies
Gubernur Indonesia. Itu karena Jakarta menjadi tempat bermukim orang
orang dari seluruh Indonesia.
Tetapi, Partai Solidaritas Indonesia menyebut Anies gubernur rasa wali
kota. Sebutan ini jelas berkonosi negatif bahwa kinerja Anies turun
kelas, sekelas kinerja wali kota. PSI memang pengkritik utama Anies.
Jadilah Anies gubernur rasa presiden, rasa gubernur Indonesia sekaligus
rasa wali kota, ramai rasanya, serupa permen Nano Nano.
Bicara kekritisan PSI, William Aditya Sarana, anggota DPRD asal PSI,
baru-baru ini mengungkap kejanggalan pengajuan anggaran pengadaan lem
yang mencapai Rp82 miliar lebih dalam APBD DKI 2020.
Anies menjawab bahwa ada kesalahan input yang diakibatkan sistem e
budgeting warisan yang kurang smart. Anies secara tidak langsung
mempersalahkan sistem. Anies juga mempersalahkan pendahulunya, Basuki
Tjahaja Purnama atau Ahok. Ini serupa pepatah, kita tak pandai menari,
lalu lantai kita persalahkan.
Gubernur Anies juga menyebut yang mengungkap pengajuan anggaran lem itu
cari panggung. Anies secara tidak langsung menyebut William atau PSI
cari panggung. Anies seperti hendak menyalahkan William atau PSI yang
mengumbar perkara lem itu ke publik. Coba kalau tidak diumbar, tidak
akan ketahuan, tidak akan bikin heboh. Toh, anggaran aneh itu pasti
dikoreksi.
Di media sosial, Anies dikritik habis-habisan. Istilah 'gluebernur'
muncul di media sosial. Glue bahasa Inggris yang artinya lem.
Sebutan gubernur rasa presiden muncul lagi di media sosial. Konotasinya
negatif, kok gubernur rasa presiden ceroboh seperti membiarkan anak buah
salah input.
Bila atasan bekerja cermat dan disiplin, tak mungkin anak buah berani
mengajukan anggaran untuk pembelian barang dengan harga gila-gilaan.
Supaya karakter gubernur dan karakter presiden menyatu dalam diri Anies,
mungkin harus direkatkan dengan lem seharga puluhan miliar rupiah. Itu
kata para pengkritik Anies.
Ada pembela Anies yang menjawab kritik itu dengan kasus Presiden Jokowi
yang pada 2015 meneken peraturan presiden ihwal penaikan tunjangan
kendaraan pejabat. Perpres itu dikritik karena tidak sensitif terhadap
beban rakyat yang baru saja menanggung penaikan harga bahan bakar
minyak. Presiden Jokowi terus terang mengakui dirinya menandatangani
perpres itu tanpa membacanya lebih dulu.
Pengakuan Presiden Jokowi merupakan satu kejujuran. Presiden
mempersalahkan dirinya sendiri. Presiden Jokowi menyiapkan dirinya untuk
menjadi sasaran kritikan, bahkan nyinyiran.
Presiden melokalisasi kecerobohan itu pada dirinya sendiri. Dia tidak
melemparkan kesalahan pada pihak lain. Presiden Jokowi betul-betul
bertanggung jawab.
Kebanyakan pejabat emoh menanggung, cuma gemar menjawab. Celakanya bila
jawabannya malah menyalahkan pihak lain. Tentu saja pihak lain yang
dipersalahkan tidak terima. Ahok, misalnya, membalasnya dengan
mengatakan Anies over smart, keminter, kata orang Jawa. Yang terjadi
berbalas pantun, bukan pencarian akar persoalan.
Okelah pengajuan anggaran pembelian lem dikoreksi. Tetapi, itu boleh
jadi merupakan langkah reaktif. Orang bisa saja menduga-duga, bila
William tidak berteriak, mungkin anggaran pembelian lem yang besarnya
tak masuk akal itu tetap lengket di dokumen APBD DKI 2020.
Untuk mencari akar persoalan, pertama-tama diperlukan jiwa besar untuk
mengakui kesalahan. Toh, presiden, pun gubernur, juga manusia yang
sesekali bikin kesalahan.
Ketika kesalahan itu terjadi, sebagai pemimpin dan negarawan, seorang
presiden sekali pun tak perlu ragu mengakui kesalahan. Anies semestinya
meniru Jokowi yang mengakui kesalahannya, bertanggung jawab, tidak
melempar tanggung jawab dan kesalahan kepada pihak lain.
Bila Anies melakukan serupa yang Jokowi lakukan, Anies sungguh-sungguh
gubernur rasa presiden. Siapa tahu kelak Anies betul-betul jadi presiden.
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1662-bila-gubernur-jadi-presiden>
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Bila Gubernur Jadi Presiden
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1662-bila-gubernur-jadi-presiden
via @mediaindonesia>