Cuma 30% dari PDB jadi dengan lain kata bisa pinjam banyak fulus.

http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/9641/sri_mulyani_puas_rasio_utang_ri_cuma_30_persen_dari_pdb


Sri Mulyani Puas Rasio Utang RI Cuma 30 Persen dari PDB

Senin , 04 November 2019 | 19:02


Listen to this

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani merasa puas dengan rasio utang
Indonesia yang lebih rendah dari sejumlah negara maju di Asia.

Pasalnya ia menyebut, perolehan rasio hutang Indonesia yang sebesar 30
persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mampu menjaga reputasi dan
sustainable Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ke depan.

"Rasio utang ini akan kita jaga supaya Indonesia tetap mampu menjaga
reputasi dan sustainable dari APBN," ujarnya dalam rapat kerja bersama
Komisi XI DPR, di Gedung Nusantara I, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta
Pusat, Senin (4/11/2019).

Direktur Pelaksana Bank Dunia itu membanding rasio utang Indonesia dengan
negara maju di Asia seperti Jepang dan Singapura. "Ekstremnya seperti
Jepang mencapai 200 persen, 113 persen seperti Singapore," ucap Sri.

Bahkan negara tetangga dekat RI seperti Malaysia dan Filipina juga memiliki
rasio utang yang jauh lebih besar, kata Menteri Keuangan yang akrab disapa
Bu Ani tersebut.

"Filipina, negara-negara advance yang bahkan mencapai 100 persen utangnya
terhadap GDP, dan Malaysia sekalipun juga mengalami rasio hutang diatas 50
persen dari ekonominya," dia menyebutkan.

Lebih lanjut, Sri juga memaparkan terkait rencana pembiayaan utang di dalam
APBN 2020. Katanya, pemerintah akan tetap menjaga prinsip kehati-hatian.

"Dari pengelolaan utang yang hati-hati dan selalu kita jaga dari segi
levelnya maupun pertumbuhannya, pembayaran utang kita telah mengalami
penurunan dilihat dari perkembangan yield untuk tenor 10 tahun SUN kita.
Untuk tahun 2020 ini juga kita melihat adanya growth yang menurun dari sisi
evaluasi pembayaran bunga hutang. Jadi ini adalah sejarah dengan prinsip
kehati-hatian kita," ungkapnya.

"Kita akan tetap menjaga agar efisiensi dari biaya utang tetap bisa kita
kendalikan sesuai dengan tren internasional dan dari sisi advantage ekonomi
kita sendiri. Kita juga akan meningkatkan dari sisi kesehatan perekonomian
kemudian juga terpengaruh pada ABPN kita," pungkas Sri.

Sebelumnya, Sri Mulyani juga telah memaparkan bahwa pemerintah telah
mencetak utang baru hingga 30 September 2019 sebesar Rp 317,7 triliun. Hal
tersebut tertuang dalam realisasi pembiayaan utang per September 2019.
*(Ryo)*

Kirim email ke