Meluruskan Sejarah (Bagian 2)
6 November 2019

Pertempuran Sekutu dan Jepang di Papua pada Perang Dunia II/Istimewa
Koran Sulindo – Sekutu telah menyerahkan kembali Indonesia bagian timur kepada 
NICA sebelum Proklamasi Kemerdekaan 1945. Jepang kapitulasi dan Indonesia 
menyatakan tidak ingin kembali dijajah Belanda. Tapi, Inggris kirim tentara 
yang diboncengi NICA. Tujuannya memang untuk membantu Belanda memperoleh 
kembali jajahannya. Terbukti dalam surat perintah Laksamana Madya Mountbatten, 
Panglima Tertinggi Asia Tenggara, kepada Tentara Kerajaan, 22 Agustus 1945.
Di situ tertulis, “In keeping with the provisions of the Yalta Conference you 
will reestablish civilians rule and return the colony to the Dutch 
administration….” selanjutnya, “As you are no doubt aware, the local natives 
have declared a Republic, but we are bound to maintain the status quo which 
existed before the Japanese Invasion.”

Sama sekali tak mengherankan kolaborasi Inggris dengan Belanda. Sama-sama 
berwatak kolonial dan imperialis. Namun, rakyat Indonesia bersedia mengorbankan 
segala-galanya untuk membela kemerdekaannya. Terjadilah pertempuran di 
Surabaya, Semarang, Medan, Ambarawa, Batavia, Manado, Bali, Palembang dan 
lautan api di Bandung.

Konflik diakhiri dengan perundingan Linggarjati, Maret 1947, yang telah 
menciutkan wilayah RI, dan memaksanya untuk menerima persemakmuran di bawah 
naungan Ratu Belanda. Hanya Jawa, Sumatra, dan Madura yang diakui Belanda 
sebagai wilayah RI.

Linggarjati digunakan Belanda hanya untuk tarik napas sejenak. Di Juli 1947, 
agresi militer pertama dilancarkan untuk terus mencekik Republik. Diakhiri 
dengan perjanjian Renville yang lebih menciutkan lagi wilayah RI, hanya Jawa 
Tengah, Yogyakarta dan Sumatra. Belanda menguasai daerah dan pulau-pulau 
Nusantara lainnya. Negara-negara boneka Belanda didirikan, antara lain negara 
Borneo Barat, Negara Madura, Negara Sumatra Timur dan Negara Jawa Timur. 
Belanda melakukan blokade ekonomi terhadap daerah di bawah kekuasaan RI.

Belanda tetap tidak puas, karena tujuan menghancurkan dan menghilangkan RI dari 
muka bumi belum berhasil. Maka dilancarkan agresi militer kedua, Desember 1948. 
Yogyakarta diserang, presiden dan wakil presiden ditangkap. Hasilnya, 
perundingan Roem-Royen yang merupakan pendahuluan dari Konferensi Meja Bundar 
(KMB), 1949, yang menjanjikan penyelesaian masalah Papua dalam setahun. Tapi, 
Belanda terus mengulur-ulur penyelesaian soal kedaulatan atas Papua.

Konferensi Malino
Sementara di bagian barat, Belanda mencoba melenyapkan Indonesia melalui agresi 
militer dan blokade ekonomi, di bagian timur, Letnan Gubernur Jenderal Van 
Mook, mengkonsolidasi kekuasaannya melalui pembentukan negara boneka dan daerah 
otonomi yang pro-Belanda. Itulah tujuan Konferensi Malino, diteruskan dengan 
Konferensi Pangkal Pinang, Oktober 1946 dan akhirnya konferensi Denpasar, 
Desember 1946. Belanda memerlukan pribumi yang merupakan kepanjangan tangannya 
untuk menjaga kepentingan politik dan ekonominya.

Gerry van Klinken, antropolog dan Indonesianis dari Belanda mengakui bahwa 
konsep federal Van Mook merupakan kebijakan devide et impera.

Di Konferensi Malino, Franz Kaisiepo mewakili Papua. Di situlah dia mengusulkan 
agar nama Papua diganti dengan Irian. Ada sumber yang mengatakan, kata “Irian” 
berasal dari Biak dan berarti berjemur atau terpapar sinar matahari. Tapi ada 
lagi yang mengatakan Irian berarti “sinar yang menghalau kabut”. Dalam bahasa 
Merauke, kata “Iri” berarti “ditempatkan atau diangkat tinggi”, sementara kata 
“an” artinya bangsa. Jadi, kalau dikombinasi arti dalam dua bahasa itu, Irian 
berarti “bangsa yang diangkat tinggi bagaikan sinar yang menghalau kabut”. 
Sedangkan kata Papua cenderung merendahkan orang Papua. Arti kata Papua 
bermacam-macam. Bisa berarti hitam, keriting, bodoh atau budak.

Jan van Eechoud, Residen Belanda di Papua, dan Van Mook, tidak senang, Kaisiepo 
mengutarakan pikirannya sendiri, tanpa “kuasa” dari Tuan Belanda. Di Konferensi 
itu juga, Kaisiepo melihat Papua dipisahkan dari kepulauan Indonesia Timur. 
Permintaan Kaisiepo supaya Papua tetap bersama dengan Maluku, ditolak Van Mook.

Tiga tokoh Papua ketika itu, Marthin Indey, Corinus Crey dan Nicolas Jouwe, 
adalah anggota Komite Indonesia Merdeka (KIM) yang didirikan di Hollandia, 
November 1946 dan dipimpin Dr. Gerungan, seorang dokter wanita asal Manado.. 
Van Mook menolak permintaan KIM untuk hadir di Konferensi Denpasar.

KIM menentang keras rencana Belanda yang ingin memberi status khusus kepada 
Papua. Pada 12 Desember 1946, Marthin Indey, Corinus Crey dan Nicolaas Jouwe 
mengirim telegram kepada Van Mook di Denpasar yang berisi permintaan agar Papua 
tidak dipisahkan dari Indonesia. Marthin Indey menentang pembentukan Negara 
Indonesia Timur karena Papua tidak dimasukkan.

Salah satu argumentasi pembenaran hak menentukan nasib sendiri yang sering 
digunakan pendukung separatisme adalah Papua ada di bawah kekuasaan Belanda 
setelah Indonesia merdeka. Dari situ ditarik kesimpulan yang salah bahwa Papua 
tidak pernah menjadi bagian dari Indonesia.

Masalahnya adalah Belanda dan pendukung separatisme menolak mengakui bahwa 
Papua sudah menjadi bagian dari Indonesia sejak proklamasi 17 agustus 1945, 
sesuai dengan Uti Possidetis Juris. Belandalah yang berusaha mengubah status 
Papua sebagai bagian dari Hindia Belanda menjadi koloni langsung Belanda 
melalui Konferensi Malino dan Denpasar. Dan itu mendapat tentangan bukan saja 
dari tokoh-tokoh Papua ketika itu, tapi juga dari para pemimpin negara-negara 
boneka pro-Belanda! Jadi manuver licik Belanda yang memisahkan Papua dari 
Indonesia dibenarkan oleh para pendukung separatisme.

Van Klinken menegaskan, Belanda sebetulnya sadar akan prinsip Uti Possidetis 
Juris, yang membenarkan tuntutan wilayah Indonesia sejak 1945 dari Sabang 
hingga Merauke. Tapi kepentingan kolonialnya telah mendorongnya untuk 
mempertahankan Papua di bawah kekuasaannya.

Menurut Van Klinken, Belanda selepas Perang Dunia II dilanda badai politik 
dalam negeri yang membuatnya semakin konservatif. Dia mengakui pendirian 
Belanda dalam hal Papua semakin bergeser ke arah yang sulit dibenarkan dalam 
hukum internasional dan mengeluarkan Papua dari RI merupakan sebuah kesalahan 
serius.

Pertama, Van Eechoud menganggap budaya Papua sangat primitif dan beragam. Maka 
Belanda harus lebih dulu dan lebih lama mendidik orang Papua. Kalau tidak, 
orang-orang non-Papua akan membanjiri dan menenggelamkan budaya Papua. 
Pertanyaannya, selama tiga abad lebih, pernahkah Belanda memikirkan pendidikan 
ratusan suku bangsa di Hindia Belanda?

Van Klinken menyatakan kondisi pedalaman Kalimantan tidak banyak berbeda dengan 
Papua. Flores, Bali, Dayak, Aceh, dan lain-lain, juga masih bergumul dengan 
persoalan serupa; kaum pendatang akan selalu membanjiri budaya lokal.

Kedua, ketergantungan perkembangan industri Belanda pada bahan baku negeri 
tropis telah membuat Papua sebagai sumber terakhir setelah Indonesia menyatakan 
kemerdekaannya. Oleh karena itu, dicarilah berbagai alasan untuk memisahkan 
Papua dari Indonesia. Padahal, seperti kata Van Klinken, kekayaan alam berupa 
emas dan minyak bumi jelas bukan milik Belanda lagi.

Ketiga, menjadikan Papua sebagai koloni Belanda untuk tempat tinggal 
orang-orang Indo-Belanda dan orang-orang KNIL yang merasa posisi politik dan 
sosialnya terancam di Jawa dan pulau-pulau Indonesia di mana gerakan membela 
kemerdekaan menggelora. Dorongan dan desakan ini datang dari berbagai macam 
organisasi orang-orang Indo-Belanda, antara lain Groter Nederland Actie (GNA = 
Aksi Belanda yang Lebih Besar), Nederlandsh-Indisch Bond van Ex-Gemobiliserden 
en Geinterneerden (NIBEG = Persatuan Mantan Orang-Orang yang Dimoblisasi dan 
Ditawan Hindia Belanda) yang dikuasai oleh orang-orang Belanda ‘totok’.

Lalu, di 18 Januari 1948, di Batavia diselenggarakan rapat yang dikunjungi 
lebih banyak lagi organisasi orang-orang Indo-Belanda, antara lain 
Nederlands-Indische Pensioenbond (Ikatan Pensiun Hindia Belanda), Nederlandse 
Nieuw-Guinea Vrouwenbond (Ikatan Wanita Papua Belanda), Vaderlandse Club (Klub 
Tanah Air), di samping GNA dan NIBEG.

Dari negeri Belanda juga datang dukungan untuk menjadikan Papua sebagai ‘Tanah 
Asal’. Misalnya, Stichting Nieuw Nederland (Yayasan Belanda Baru), Stichting 
Nederland Overzee (Yayasan Belanda di Seberang Lautan), Studie-kring 
Nieuw-Guinea (Lingkar Studi Papua) dan Comite Openlegging Nieuw-Guinea door 
Polietike delinquenten (Komite Pembukaan Papua oleh Penjahat-Penjahat Politik).

Yang menarik perhatian adalah Kapten Berg dari GNA menyatakan bahwa Papua juga 
harus terbuka untuk emigrasi dari Belanda dan negeri Eropa lainnya di mana 
terdapat arus besar pelarian yang mencari tempat tinggal yang baik.

Pertemuan itu menghasilkan sebuah catatan yang menilai bahwa Papua harus diberi 
sebuah status ketatanegaraan khusus di dalam Kerajaan Belanda, lepas dari 
Indonesia. Van Mook berjanji akan membicarakan kemungkinan kolonisasi dan 
pembukaan wilayah Papua dengan menteri yang bersangkutan.

Dengan latar belakang itu, di Konferensi Denpasar, Direktur Urusan Dalam Negeri 
di Batavia, W. Hoven, menegaskan bahwa Negara Indonesia Timur akan meliputi 
wilayah mantan Timur Besar, ‘terkecuali bahwa akan diputuskan lebih lanjut 
mengenai pembagian wilayah yang sekarang residensi Papua’….Papua tidak 
dimasukkan ke dalam Indonesia Timur, karena pengaturan posisi ketatanegaraannya 
merupakan ‘satu masalah sendiri, yang sudah dibahas tersendiri’.

Lima peserta langsung menentang, di antaranya Sultan Tidore, Zainal Abidin 
Alting dan Anak Agung Gde Agung yang mengingatkan bahwa di Malino, Franz 
Kaisiepo justru mendesak untuk ‘berjalan bersama’ dengan Maluku Selatan, 
artinya dengan Indonesia Timur. Terjadi perdebatan. Pada pokoknya, ide Belanda 
untuk memisahkan Papua dari Indonesia mendapat tentangan, bahkan dari mereka 
yang pro-Belanda dan anti-Republik. Van Mook hanya bisa berkata ‘bukan maksud 
pemerintah untuk mengunci Papua di luar Indonesia, tetapi justru untuk meneliti 
secara seksama bagaimana ia dapat disesuaikan kedalamnya’.

Benih Kebangsaan di Papua
Pada 12 November 1926 meletus pemberontakan nasional pertama yang dipimpin PKI, 
melawan penjajahan kolonial Belanda. Penumpasan kejam terhadap pemberontakan 
itu mengakibatkan ditangkapnya tidak kurang dari 13 ribu orang. Di antara yang 
tertangkap, kira-kira 4.500 dijatuhi hukuman penjara. Mereka yang dijatuhi 
hukuman gantung, antara lain, di Jawa Barat, Egom, Dirdja dan Bakri (Penjara 
Ciamis, 9 September 1927), Haji Hasan dari Cimaremeh (Penjara Garut), Haji 
Sukri dan 5 orang kawannya (Penjara Pandeglang, 1927); Kartawirja dan Aman 
(Penjara Padalarang), dan Ojod dari Nagrek. Di Sumatera Barat, Manggulung, Moh. 
Jusuf Sampano Kajo, Baharudin Gelar Bain (Penjara Sawahlunto, Maret 1927). 
Semuanya 16 kawan. Lebih dari 1.300 orang dibuang ke kamp konsentrasi Belanda, 
Boven Digul di Pulau Papua.

Marthen Indey lahir di kampung Doromena, di kaki pegunungan Cycloop, Kabupaten 
Jayapura, Irian Barat, Maret 1912. Kedatangan Johannes Bremer ke Doromena, 
seorang misionaris Ambon, yang mengangkatnya sebagai anak angkat, telah 
memungkinkan Marthen pergi ke Ambon untuk sekolah di Volkschool (Sekolah 
Rakyat) selama tiga tahun. Setelah selesai SR, Marthen sering berlayar ke luar 
kota Ambon.

Kesenangannya berlayar telah membawanya untuk mengikuti pendidikan di Sekolah 
Pelaut Pribumi di Makasar dan Surabaya sampai 1932. Dari tahun 1934 sampai 
1935, Marthen belajar di Sekolah Polisi Sukabumi. Pada tahun 1941, penguasa 
kolonial mengirimnya ke Tanah Merah dengan tugas mengawasi para perintis 
kemerdekaan yang sejak tahun 1927 ditahan di situ.

Dalam menjalankan tugasnya, Marthen bebas keluar masuk kamp dan tak 
terhindarkan kontak dengan para tahanan politik. Beberapa sumber menyebut 
Sugoro Atmoprasodjo, Sukoharjo dan Hamid Siregar yang sering kontak dan 
mengobrol dengan Marthen. Perlahan-lahan tumbuh perasaan simpati kepada 
perjuangan kemerdekaan melawan penjajahan Belanda.

Marthen menyaksikan keberanian para perintis kemerdekaan yang mempertaruhkan 
jiwanya untuk mengusir penguasa kolonial Belanda. Ia mulai sadar akan ketidak 
adilan yang dilahirkan oleh penjajahan dan menolak perlakuan keras Belanda 
terhadap para tahanan politik itu.

Simpati Marthen kepada para tahanan politik dan perjuangan kemerdekaannya  
telah menanamkan benih ketidaksenangan dan penolakan terhadap kekuasaan 
penjajah Belanda. Hal itu telah mendorongnya untuk merencanakan penangkapan 
terhadap beberapa pejabat kekuasaan Belanda yang mengontrol kamp konsentrasi 
demi membebaskan para tahanan politik di Tanah Merah. Namun, rencana digagalkan 
oleh pengkhianatan salah satu dari 31 agen polisi bawahannya sendiri. [Tatiana 
Lukman]

Kirim email ke