https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/17/01/05/ojaozu382-krakatau-steel-siapkan-100-ton-bahan-baku-cangkul

Di artikelini disebut tentang PT Boma, Saya kira ini Boma di Bandung. Kalau
tak salah ingat bung Ling pernah cerita pernah kerja di sana. Satu teman
dari bagian mesin di ITB juga pernah kerja di situ. Satu teman lain dari
bagian mesin ITB, yang suka balapan motor di lapangan terbang, pernah bikin
silinder special  untuk motornya di PT Boma yang pakai bahan bakar bensin +
alohol. Hampir menang, tiba2 cilindernya pecah mengenai kakinya. Untung
tidak sampai cacat. Dia pernah ditahan 10 tahun di pulau Buru. Melamar
kerja dengan terus terang keluaran pulau Buru. Bossnya, orang Kristen,
bersedia terima dia. Diberi pekerjaan memimpin babat hutan  2 ha , kemudian
dijadikan kepala pabrik alat2 petanian, kemudian kepala development,
kemudian kepala perusahaan.Waktu saya diundang ke tempat kerjanya, wah saya
kagum, dia sudah selesai menterapkan system 7S ari Jepang di Surabaya,
sedangkan saya baruselesai sampai 5S. Siang hari jam 2 siang, habis
keliling pabrik, lab. dll, makan siang, kami berpisah. Dia harus beri
kurusus intern. Lupa tanya berapa kali dia beri kursus per bulan. Di
Belanda saya beri sebulan sekali. Sekarang setelah pensiun, tiba2 dia
diundang kembali krja, untuk beri advies pada direktur di prusahaan
tersebut, tetapi tidak bolh ontact dengan niveau di bawah direktur.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Krakatau Steel menjadi perusahaan yang akan
mensuplai bahan baku untuk pembuatan perkakas pertanian seperti cangkul,
sekop, mata garu, egrek, dan dodos. Selama ini, Krakatau Steel tidak
menyuplai kebutuhan ini karena tidak adanya komunikasi dari produsen
cangkul untuk mencari bahan dasar tersebut.

Direktur Utama PT Krakatau Steel Sukandar mengatakan, pihaknya bisa
memproduksi satu lembar baja canai (*coil/plates*) seberat 23 ton (23 ribu
kilogram). Jumlah ini bisa digunakan untuk memproduksi mata cangkul sekitar
23 ribu buah. Sebab satu cangkul diperkirakan menghabisan satu kilogram
baja untuk bahan baku.

"Kami siap berapapun kebutuhan pelaku industri cangkul. Bulan ini pun kami
sudah siap untuk mendistibusikan bahan baku ini," kata Sukandar, di
Jakarta, Kamis (5/1).

Menurut Sukandar untuk awal tahun ini pihaknya telah berkoordinasi dengan
PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) untuk mendistribusikan bahan baku
tersebut. Januari ini, PT Krakatu Steel bakal menyalurkan sebanyak 100 ton
atau 100 ribu kilogram bahan baku. Ini sebagai percobaan pertama untuk
melihat potensi pasar atas produksi dalam negeri.

Meski ada permintaan bahan baku ini, dia mengatakan produksi Krakatau Steel
tidak akan mendapat hambatan. Sebab kapasitas produksi Krakatau Steel masih
besar, apalagi perusahaan ini akan segera menambah jumlah pabrik untuk
meningkatkan produksi baja.

Direktur Utama PT PPI Agus Andiyani menjelaskan, sebelum ada kerja sama ini
pihaknya memang mendapatkan izin untuk mengimpor cangkul dan perkakas lain
guna kebutuhan sektor pertanian. Namun, dengan adanya kesanggupan dari PT
Krakatau Steel untuk menyediakan bahan baku, dan PT Boma Bisma Indra (BBI)
yang mengolah menjadi bahan setengah jadi, maka ketersediaan perkakas
pertanian bisa lebih terjaga. Hal ini memastikan PT PPI tidak akan
menggunakan izin impor untuk perkakas pertanian.

"Izin impor tidak akan kita pakai dulu. Intinya sekarang bagaimana membuat
harga pacul (cangkul) tidak mahal dan IKM kita bisa hidup," ungkap Agus.
Dengan 34 kantor cabang yang dimilki PT PPI maka pendistribusian bahan
setengah jadi untuk perkakas dinilai bisa lebih tersebar dan merata di
semua daerah.

Direktur Utama PT Boma Bisma Indra (BBI) menuturkan, selama ini pihaknya
baru mampu memproduksi sekitar 250 ribu cangkul setiap bulannya. Dengan
adanya pembatasan impor cangkul dari Cina, maka BBI akan berusaha menutupi
*gap* kekosongan tersebut melalui peningkatan produksi.

Kirim email ke