Kelaparan.....? Lagi puasa ........? Pada tanggal Kam, 7 Nov 2019 pukul 20.42 Sunny ambon [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis:
> > > > > https://internasional.republika.co.id/berita/q0m2jb9715000/laporan-adb-22-juta-orang-indonesia-menderita-kelaparan > > > Laporan ADB: 22 Juta Orang Indonesia Menderita Kelaparan > > *jumat 08 Nov 2019 01:13 WIB* > > *Bank Pembangunan Asia (ADB) menyebut ada sekitar 22 juta orang Indonesia > kelaparan.* > > *ADB mengatakan bahwa "sektor pertanian di Indonesia telah berkembang > secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir." Namun, masih banyaknya > orang yang bekerja di sektor pertanian tradisional, di mana petani dibayar > rendah dengan produktivitas hasil pertanian yang jauh dari maksimal, > dinilai menjadi penyebab banyak orang di Indonesia menderita kelaparan.* > > > > *"Banyak dari mereka tidak mendapat makanan yang cukup dan anak-anak > mereka cenderung stunting, terperangkap dalam lingkaran kemiskinan dalam > hitungan generasi. Di tahun 2016-2018, sekitar 22 juta penduduk Indonesia > menderita kelaparan," papar laporan tersebut.* > > *Berdasarkan laporan ini, angka penderita kelaparan diketahui menurun > drastis jika dibandingkan dengan tahun 2000. Pada tahun 2000 ada lebih dari > 42 juta penduduk Indonesia atau setara 20 persen dari total populasi > Indonesia menderita kelaparan. Masih banyak upaya yang diperlukan untuk > terus mengurangi angka penderita kelaparan tersebut.* > > *Laporan bertajuk **Policies to Support investment Requirements of > Indonesia's Food and Agriculture development During 2020-2045 **ini > diterbitkan atas bekerja sama ADB dengan International Food Policy Research > Institute (IFPRI) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).* > *"Perhatikan kesejahteraan petani"* > > *Kepada **DW Indonesia**, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, Prof. Dwi > Andreas Santosa, mengatakan menurunnya angka penderita kelaparan > berkorelasi dengan membaiknya indeks ketahanan pangan Indonesia, meskipun > Andreas juga mempertanyakan dasar besaran angka yang dirilis laporan > tersebut.* > > *"Ekonomi Indonesia terus membaik. Coba kita lihat data **Global Food > Security Index** (GFSI). Itu **'kan** nampak jelas bahwa **food security > index** kita membaik dari sebelumnya peringkat 71 sekarang 65. Berarti > nilai-nilai **food security index** ini meningkat semua. Kalau sampai ada > 20 juta orang kelaparan pada periode itu **kok **saya sangat meragukan > data yang mereka publikasi. Hitungannya bagaimana?" jelas Andreas.* > > *Menurut Andreas, ada empat komponen yang berperan dalam meningkatnya > ketahanan pangan di Indonesia. Komponen tersebut adalah ketersediaan > pangan, keterjangkauan pangan, keamanan pangan serta ketahanan dan sumber > daya alam.* > > *Andreas mengatakan bahwa jika ekonomi membaik, masyarakat memiliki > kapasitas yang meningkat dalam mengakses pangan karena daya beli mereka > juga meningkat.* > > *Lebih lanjut Andreas mengatakan penting bagi pemerintah untuk lebih > memperhatikan kesejahteraan petani.* > > *"Sampai saat ini saya tidak melihat upaya atau suatu program yang keras > dari pemerintah untuk mensejahterakan petani. Pemerintah terlalu fokus > terhadap peningkatan produksi tetapi lupa kesejahteraan petani. Itu kunci > terbesar," jelasnya.* > > *Baca juga: Belajar Teknologi Pangan dari Jerman* > > *Saat ini Indonesia menduduki peringkat 65 dari 113 negara dalam Indeks > Ketahanan pangan Global yang dirilis oleh Economist Intelligence Unit tahun > 2018 lalu. Ini menempatkan Indonesia di peringkat bawah di antara negara > kawasan regional seperti Singapura (peringkat 1), Malaysia (peringkat 40), > Thailand (peringkat 54), dan Vietnam (peringkat 62).* > > *Walau masih yang terendah di antara negara ASEAN lainnya, Andreas menilai > pemerintah terus melakukan upaya untuk mengatasi masalah ketahanan pangan > ini. Salah satunya dengan meningkatkan anggaran untuk sektor pertanian dan > pangan.* > > *Pada kurun waktu 2015-2018 diketahui pemerintah memberikan angggaran > mencapai Rp 409 triliun kepada Kementerian Pertanian, atau jika dirata-rata > lebih dari Rp 100 triliun per tahun.* > *Impor pangan masih tinggi* > > *Ia mencatat bahwa di tengah alokasi anggaran yang tinggi, indeks > ketahanan pangan juga membaik.* > > *Namun di sisi lain, total impor pertanian juga meningkat dalam empat > tahun terakhir. Pada tahun 2014 total volume impor pangan Indonesia yang > sebesar 19,4 juta ton meningkat menjadi 28,6 juta ton di tahun 2018, atau > naik lebih dari 9 juta ton.* > > *"Jadi anggaran naik drastis tapi problemnya bagaimana pengunaan anggaran > tersebut," ujar Andreas. Ia pun menegaskan agar pemerintah dapat merancang > program dan kebijakan secara efektif agar anggaran yang begitu besar tidak > jadi sia-sia karena impor justru meningkat, sementara produksi dalam negeri > stagnan.* > > *"Subsidi pupuk bagaimana? Bagi-bagi ayam? Bagi-bagi alsintan? Berapa > persen sih sesungguhnya **real** yang kemudian masuk diterima petani > kecil? Di balik itu semua ada suprastruktur yang belum terbenahi. Jadi apa > pun yang kita lakukan seolah-olah membentur tembok dan tidak ada * > *improvement** yang kita harapkan," pungkas Andreas sekaligus mengakhiri > wawancara dengan **DW Indonesia.* > > *Baca juga: Indonesia Luncurkan Program Digitalisasi Pertanian* > > *rap/ae (dari berbagai sumber)* > > > > > > > >
