https://internasional.republika.co.id/berita/q0m2jb9715000/laporan-adb-22-juta-orang-indonesia-menderita-kelaparan


Laporan ADB: 22 Juta Orang Indonesia Menderita Kelaparan

*jumat 08 Nov 2019 01:13 WIB*

*Bank Pembangunan Asia (ADB) menyebut ada sekitar 22 juta orang Indonesia
kelaparan.*

*ADB mengatakan bahwa "sektor pertanian di Indonesia telah berkembang
secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir." Namun, masih banyaknya
orang yang bekerja di sektor pertanian tradisional, di mana petani dibayar
rendah dengan produktivitas hasil pertanian yang jauh dari maksimal,
dinilai menjadi penyebab banyak orang di Indonesia menderita kelaparan.*



*"Banyak dari mereka tidak mendapat makanan yang cukup dan anak-anak mereka
cenderung stunting, terperangkap dalam lingkaran kemiskinan dalam hitungan
generasi. Di tahun 2016-2018, sekitar 22 juta penduduk Indonesia menderita
kelaparan," papar laporan tersebut.*

*Berdasarkan laporan ini, angka penderita kelaparan diketahui menurun
drastis jika dibandingkan dengan tahun 2000. Pada tahun 2000 ada lebih dari
42 juta penduduk Indonesia atau setara 20 persen dari total populasi
Indonesia menderita kelaparan. Masih banyak upaya yang diperlukan untuk
terus mengurangi angka penderita kelaparan tersebut.*

*Laporan bertajuk **Policies to Support investment Requirements of
Indonesia's Food and Agriculture development During 2020-2045 **ini
diterbitkan atas bekerja sama ADB dengan International Food Policy Research
Institute (IFPRI) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).*
*"Perhatikan kesejahteraan petani"*

*Kepada **DW Indonesia**, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, Prof. Dwi
Andreas Santosa, mengatakan menurunnya angka penderita kelaparan
berkorelasi dengan membaiknya indeks ketahanan pangan Indonesia, meskipun
Andreas juga mempertanyakan dasar besaran angka yang dirilis laporan
tersebut.*

*"Ekonomi Indonesia terus membaik. Coba kita lihat data **Global Food
Security Index** (GFSI). Itu **'kan** nampak jelas bahwa **food security
index** kita membaik dari sebelumnya peringkat 71 sekarang 65. Berarti
nilai-nilai **food security index** ini meningkat semua. Kalau sampai ada
20 juta orang kelaparan pada periode itu **kok **saya sangat meragukan data
yang mereka publikasi. Hitungannya bagaimana?" jelas Andreas.*

*Menurut Andreas, ada empat komponen yang berperan dalam meningkatnya
ketahanan pangan di Indonesia. Komponen tersebut adalah ketersediaan
pangan, keterjangkauan pangan, keamanan pangan serta ketahanan dan sumber
daya alam.*

*Andreas mengatakan bahwa jika ekonomi membaik, masyarakat memiliki
kapasitas yang meningkat dalam mengakses pangan karena daya beli mereka
juga meningkat.*

*Lebih lanjut Andreas mengatakan penting bagi pemerintah untuk lebih
memperhatikan kesejahteraan petani.*

*"Sampai saat ini saya tidak melihat upaya atau suatu program yang keras
dari pemerintah untuk mensejahterakan petani. Pemerintah terlalu fokus
terhadap peningkatan produksi tetapi lupa kesejahteraan petani. Itu kunci
terbesar," jelasnya.*

*Baca juga: Belajar Teknologi Pangan dari Jerman*

*Saat ini Indonesia menduduki peringkat 65 dari 113 negara dalam Indeks
Ketahanan pangan Global yang dirilis oleh Economist Intelligence Unit tahun
2018 lalu. Ini menempatkan Indonesia di peringkat bawah di antara negara
kawasan regional seperti Singapura (peringkat 1), Malaysia (peringkat 40),
Thailand (peringkat 54), dan Vietnam (peringkat 62).*

*Walau masih yang terendah di antara negara ASEAN lainnya, Andreas menilai
pemerintah terus melakukan upaya untuk mengatasi masalah ketahanan pangan
ini. Salah satunya dengan meningkatkan anggaran untuk sektor pertanian dan
pangan.*

*Pada kurun waktu 2015-2018 diketahui pemerintah memberikan angggaran
mencapai Rp 409 triliun kepada Kementerian Pertanian, atau jika dirata-rata
lebih dari Rp 100 triliun per tahun.*
*Impor pangan masih tinggi*

*Ia mencatat bahwa di tengah alokasi anggaran yang tinggi, indeks ketahanan
pangan juga membaik.*

*Namun di sisi lain, total impor pertanian juga meningkat dalam empat tahun
terakhir. Pada tahun 2014 total volume impor pangan Indonesia yang sebesar
19,4 juta ton meningkat menjadi 28,6 juta ton di tahun 2018, atau naik
lebih dari 9 juta ton.*

*"Jadi anggaran naik drastis tapi problemnya bagaimana pengunaan anggaran
tersebut," ujar Andreas. Ia pun menegaskan agar pemerintah dapat merancang
program dan kebijakan secara efektif agar anggaran yang begitu besar tidak
jadi sia-sia karena impor justru meningkat, sementara produksi dalam negeri
stagnan.*

*"Subsidi pupuk bagaimana? Bagi-bagi ayam? Bagi-bagi alsintan? Berapa
persen sih sesungguhnya **real** yang kemudian masuk diterima petani kecil?
Di balik itu semua ada suprastruktur yang belum terbenahi. Jadi apa pun
yang kita lakukan seolah-olah membentur tembok dan tidak ada
**improvement** yang
kita harapkan," pungkas Andreas sekaligus mengakhiri wawancara dengan **DW
Indonesia.*

*Baca juga: Indonesia Luncurkan Program Digitalisasi Pertanian*

*rap/ae (dari berbagai sumber)*

Kirim email ke