https://www.antaranews.com/berita/1152240/sah-biak-jadi-bandar-antariksa-pertama-indonesia
Sah! Biak jadi Bandar Antariksa
pertama Indonesia
Kamis, 7 November 2019 14:29 WIB
Ilustrasi - Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)
Thomas Djamaluddin menaiki Dadali, drone tanpa awak untuk mengangkut
manusia, Jakarta, Selasa (24/9/2019) (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)
Jakarta (ANTARA) - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)
memilih Biak Utara sebagai lokasi untuk rencana pembangunan Bandar
Antariksa pertama Indonesia yang sedang mereka kaji dalam Rapat
Koordinasi Nasional (Rakornas) LAPAN di Tangerang, Banten.
"Alasan utamanya pertama karena Biak itu paling dekat dengan ekuator,"
kata Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin melalui sambungan telepon kepada
ANTARA di Jakarta, Kamis.
Selain dekat dengan ekuator, pemilihan Desa Soukobye di Kabupaten Biak
Numfor, Provinsi Papua, sebagai lokasi rencana pembangunan Bandar
Antariksa itu adalah karena posisinya yang sekitar satu derajat Lintang
Selatan dan berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik, sehingga aman
untuk dijadikan sebagai lokasi peluncuran.
"Untuk peluncuran, itu aman bagi titik jatuhnya," katanya.
Saat ini, LAPAN tengah menggelar Rakornas untuk menyatukan pandangan
dari berbagai /stakeholder/ terkait perencanaan pembangunan dua Bandar
Antariksa pertama di Indonesia, yaitu Bandar Antariksa skala kecil untuk
uji terbang dan peluncuran roket-roket kecil serta Bandar Antariksa besar.
"Karena keterbatasan anggaran, LAPAN akan membangun Bandar Antariksa
atau /space port/ skala kecil untuk uji terbang dan peluncuran
roket-roket kecil. Bandar Antariksa yang besar akan dibangun dengan
kemitraan internasional," katanya.
*Baca juga: Dua jenis bandar antariksa akan dibangun di Pulau Biak
<https://www.antaranews.com/berita/1085536/dua-jenis-bandar-antariksa-akan-dibangun-di-pulau-biak>
Baca juga: China-Jepang tertarik dukung pembangunan bandar antariksa
Indonesia
<https://www.antaranews.com/berita/1085564/china-jepang-tertarik-dukung-pembangunan-bandar-antariksa-indonesia>
Baca juga: Indonesia harapkan bisa miliki bandar antariksa
<https://www.antaranews.com/berita/763474/indonesia-harapkan-bisa-miliki-bandar-antariksa>*
Dalam Rakornas itu, LAPAN berdiskusi dengan beberapa pihak terkait
diantaranya Pemerintah Daerah Biak, Pemerintah Provinsi Papua dan juga
Pemerintah Kabupaten Biak, selain juga dari Kementerian dan lembaga
terkait lainnya.
Mulai tahun depan LAPAN akan memulai sejumlah kajian untuk menghasilkan
perencanaan dan pembangunan Bandar Antariksa tersebut.
"Karena Bandar Antariksa itu sangat mahal, kami memulai dari tahapan
(pembangunan) Bandar Antariksa skala kecil terlebih dahulu," katanya.
Saat ini, LAPAN sudah memiliki 100 hektar lahan di Biak Utara untuk
pembangunan Bandar Antariksa skala kecil yang akan difungsikan sebagai
lokasi uji terbang.
"Memang sebenarnya itu tidak cukup. Tetapi kami akan mengoptimalkan
lahan itu lebih dahulu. Meskipun ada komitmen dari Pemkab untuk
menyediakan lahan tambahan," ujarnya.
LAPAN menargetkan pada 2024 pembangunan Bandar Antariksa tersebut sudah
dapat diselesaikan, walaupun belum sempurna. "Setidaknya bisa kami pakai
untuk uji terbang," katanya.
Pembangunan Bandar Antariksa tersebut, katanya, dilakukan untuk
memberikan ruang lebih luas bagi peluncuran roket bertingkat yang juga
sedang mereka kembangkan.
"Jadi kalau roket yang biasa kecil-kecil itu biasa dilakukan dari Garut.
Tapi untuk ukuran besar dan bertingkat itu riskan kalau diluncurkan di
Garut karena lokasinya sudah padat penduduk, sehingga kami harus
menyiapkan tempat peluncuran yang lebih aman. Dan posisi terbaiknya ada
di Biak," katanya.
Saat ini, LAPAN tengah mengembangkan roket Sonda atau roket penelitian
atmosfer yang secara bertahap target ketinggiannya akan terus ditingkatkan.
"Jadi roketnya masih dikembangkan. Karena roket yang ada saat ini belum
bisa mencapai orbit. Jadi roket yang sudah ada capaiannya baru sampai
beberapa puluh kilometer. Targetnya minimal 300 kilometer," katanya.
Pewarta: Katriana
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019