https://www.jawapos.com/nasional/27/10/2019/jokowi-akui-banyak-yang-kecewa-dalam-penyusunan-kabinet/



Jokowi Akui Banyak Yang Kecewa dalam Penyusunan Kabinet
Pengangkatan Wamen Bisa Menjadi Blunder
27 Oktober 2019, 09:51:27 WIB

*JawaPos.com* – Tuntasnya penyusunan Kabinet Indonesia Maju yang diikuti
dengan pengangkatan 12 wakil menteri menyisakan polemik. Bukan hanya
perdebatan soal urgensi posisi Wamen, di internal partai koalisi muncul
ungkapan ketidakpuasan.

Di antara barisan partai politik dalam Koalisi Indonesia Kerja (KIK),
Partai Hanura tidak kebagian jabatan menteri maupun Wamen. Hanura pun
meradang.

”Jujur saja, banyak kader Hanura yang kecewa,” cetus Wakil Sekjen DPP
Hanura Bona Simanjuntak kemarin (26/10).

Hanura, ujar Bona, merasa tersinggung karena sama sekali tidak dihargai.
Padahal, pihaknya telah berjuang keras memenangkan pasangan Joko
Widodo-Ma’ruf Amin. Sebagai parpol, kata dia, peran Hanura tidak bisa
dianggap remeh. Keberadaan 800 kursi DPRD provinsi dan kabupaten/kota
se-Indonesia menjadi bukti bahwa Hanura juga berkeringat dalam memenangi
kontestasi pilpres.

DPP Hanura menyerahkan kepada Ketua Umum Hanura Oesman Sapta Odang untuk
bersikap. ”Pasti nanti mengeluarkan sikap politik,” katanya..

Di bagian lain, Presiden Jokowi mengungkapkan sulitnya menyusun kabinet.
Dia mengaku menerima setidaknya 300 usulan nama. Padahal, jumlah menteri
hanya 34 orang. Dia juga harus mempertimbangkan berbagai latar belakang.
”Tidak mudah menyusun kabinet yang harus beragam. Karena memang Indonesia
adalah Bhinneka Tunggal Ika,” kata Jokowi saat menghadiri pembukaan
Musyawarah Besar X Pemuda Pancasila di Jakarta kemarin.

Jokowi menyadari bahwa pilihan kabinet bakal berujung banyaknya pihak yang
kecewa. Sebab, perbedaan antara jumlah usulan dan nama yang diangkat sangat
besar. Kekecewaan muncul karena ada yang merasa tidak terakomodasi dalam
kabinet. ”Jadi, saya mohon maaf tidak bisa mengakomodasi semuanya. Karena,
sekali lagi, ruangnya hanya 34 (menteri, Red),” jelasnya.

Di tengah adanya gelombang kekecewaan itu, Jokowi meyakini bahwa bangsa
Indonesia memiliki budaya yang luhur. Indonesia, bagi Jokowi, memiliki
Pancasila yang mempersatukan bangsa. Perbedaan pendapat adalah hal yang
wajar. Perbedaan pilihan juga wajar. Namun, dia menegaskan, persatuan dan
kebersamaan adalah segala-galanya.

Pada kesempatan itu Jokowi juga menyampaikan cita-cita bangsa Indonesia
untuk menjadi negara maju pada 2045. Saat perayaan seabad kemerdekaan
Indonesia. Indonesia pada 2045 diharapkan masuk dalam lima besar kekuatan
ekonomi dunia dengan pendapatan per kapita Rp 320 juta per tahun.

Menurut presiden, target pendapatan itu sangat besar. Jika dihitung, setiap
bulan sekitar Rp 27 juta. ”Sebuah jumlah yang sangat besar,” tandasnya.
Untuk mencapai cita-cita tersebut, diperlukan kerja keras, inovasi, dan
fondasi yang kuat. Yaitu fondasi toleransi, persatuan, persaudaraan, dan
karakter kebangsaan berdasar Pancasila.

Sementara itu, kritik bahwa pengangkatan 12 wakil menteri sebagai bentuk
bagi-bagi jabatan ditepis partai pendukung Jokowi. Juru Bicara DPP PSI
Dedek Prayudi mengatakan, pengangkatan Wamen adalah bentuk kebutuhan untuk
mempercepat program kerja kementerian. ”Ini bukan bentuk bagi-bagi
jabatan,” kata Dedek dalam diskusi bertajuk Kabinet Bikin Kaget di
D’consulate Resto and Lounge, Jakarta Pusat, kemarin (26/10).

Melihat portofolio 12 Wawen, ungkap dia, sosok yang diangkat kapabel dan
cukup mumpuni. Salah satunya, Surya Tjandra. Dia merupakan kader PSI yang
menjabat wakil menteri agraria dan tata ruang/Badan Pertanahan Nasional
(ATR/BPN).

Menurut Dedek, Surya adalah sosok yang tepat mengisi Wamen ATR/BPN
mendampingi Sofyan Djalil. Surya menempuh program doktor ilmu hukum di
Universitas Leiden, Belanda. Dia kerap terlibat dalam advokasi kasus-kasus
bidang pertanahan. Dengan kemampuan tersebut, Dedek yakin Surya bisa
memberikan kontribusi dalam urusan-urusan pertanahan.

Meski demikian, Dedek mengakui, pengangkatan 12 Wamen tidak bisa lepas dari
akomodasi politik. Presiden Jokowi, kata dia, berupaya merangkul semua
pihak untuk kemajuan bangsa. Terutama yang berjasa dalam pemenangan Pilpres
2019. ”Itu hak prerogatif presiden. Ini (jabatan Wamen, Red) bukan hasil
tekan-menekan atau ancam-mengancam,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Parameter Politik Adi Prayitno menilai
posisi Wamen merupakan bagian dari akomodasi politik Jokowi. Sebab, jumlah
kursi menteri dinilai tak cukup mewadahi semua kepentingan. ”Jadi, wajar
muncul stigma publik bahwa jabatan Wamen adalah bagi-bagi kue kekuasaan,”
kata Adi.

Menurut dia, Wamen diangkat hanya untuk meredam kegeraman pendukung Jokowi.
Salah satunya PB NU. Sebab, setelah pengangkatan Fachrul Razi sebagai
menteri agama, ormas NU protes. Nah, setelah protes muncul, diangkatlah
Wamen Zainut Tauhid Sa’adi.

Demikian pula saat muncul protes terkait tidak adanya portofolio menteri
yang mewakili Papua. Kemudian, diangkat Wempi Wetipo yang menjabat wakil
menteri pekerjaan umum dan perumahan rakyat. ”Jadi, Wamen ini kesannya
untuk menambal lubang-lubang protes tadi,” katanya.

Dosen ilmu politik UIN Syarif Hidayatullah itu juga sependapat bahwa
keberadaan Wamen sangat bertentangan dengan janji presiden untuk membentuk
birokrasi ramping. Bertambahnya Wamen, kata Adi, tentu berdampak pada
kebutuhan anggaran yang membengkak. Padahal, hampir semua kementerian
memiliki pejabat direktur jenderal (Dirjen) dan deputi yang membantu tugas
menteri.

Apakah pengangkatan Wamen bisa memicu blunder? Adi menyatakan, kondisi
tersebut sangat bergantung pada performa kabinet ke depan. Jika kinerja
pemerintah bagus, keputusan itu bakal menuai apresiasi publik. Sebaliknya,
jika melenceng dari target, trust publik ke pemerintah akan terus menurun.
”Ini pertaruhan bagi Jokowi. Jika kabinet tidak bisa dikelola, justru
menjadi blunder.”

Editor : Ilham Safutra

Reporter : mar/wan/c9/c10/c19/fal

Kirim email ke