----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Sunny ambon [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>Terkirim: Selasa, 12 November 
2019 00.16.39 GMT+1Judul: [nasional-list] Jokowi Akui Banyak Yang Kecewa dalam 
Penyusunan Kabinet
     

https://www..jawapos.com/nasional/27/10/2019/jokowi-akui-banyak-yang-kecewa-dalam-penyusunan-kabinet/
 
 

Jokowi Akui Banyak Yang Kecewa dalam Penyusunan Kabinet
Pengangkatan Wamen Bisa Menjadi Blunder27 Oktober 2019, 09:51:27 WIB
JawaPos.com – Tuntasnya penyusunan Kabinet Indonesia Maju yang diikuti dengan 
pengangkatan 12 wakil menteri menyisakan polemik. Bukan hanya perdebatan soal 
urgensi posisi Wamen, di internal partai koalisi muncul ungkapan ketidakpuasan.

Di antara barisan partai politik dalam Koalisi Indonesia Kerja (KIK), Partai 
Hanura tidak kebagian jabatan menteri maupun Wamen. Hanura pun meradang.

”Jujur saja, banyak kader Hanura yang kecewa,” cetus Wakil Sekjen DPP Hanura 
Bona Simanjuntak kemarin (26/10).

Hanura, ujar Bona, merasa tersinggung karena sama sekali tidak dihargai. 
Padahal, pihaknya telah berjuang keras memenangkan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf 
Amin. Sebagai parpol, kata dia, peran Hanura tidak bisa dianggap remeh. 
Keberadaan 800 kursi DPRD provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia menjadi 
bukti bahwa Hanura juga berkeringat dalam memenangi kontestasi pilpres.

DPP Hanura menyerahkan kepada Ketua Umum Hanura Oesman Sapta Odang untuk 
bersikap. ”Pasti nanti mengeluarkan sikap politik,” katanya.

Di bagian lain, Presiden Jokowi mengungkapkan sulitnya menyusun kabinet. Dia 
mengaku menerima setidaknya 300 usulan nama. Padahal, jumlah menteri hanya 34 
orang. Dia juga harus mempertimbangkan berbagai latar belakang. ”Tidak mudah 
menyusun kabinet yang harus beragam. Karena memang Indonesia adalah Bhinneka 
Tunggal Ika,” kata Jokowi saat menghadiri pembukaan Musyawarah Besar X Pemuda 
Pancasila di Jakarta kemarin.

Jokowi menyadari bahwa pilihan kabinet bakal berujung banyaknya pihak yang 
kecewa.. Sebab, perbedaan antara jumlah usulan dan nama yang diangkat sangat 
besar.. Kekecewaan muncul karena ada yang merasa tidak terakomodasi dalam 
kabinet.. ”Jadi, saya mohon maaf tidak bisa mengakomodasi semuanya.. Karena, 
sekali lagi, ruangnya hanya 34 (menteri, Red),” jelasnya.

Di tengah adanya gelombang kekecewaan itu, Jokowi meyakini bahwa bangsa 
Indonesia memiliki budaya yang luhur. Indonesia, bagi Jokowi, memiliki 
Pancasila yang mempersatukan bangsa. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. 
Perbedaan pilihan juga wajar. Namun, dia menegaskan, persatuan dan kebersamaan 
adalah segala-galanya.

Pada kesempatan itu Jokowi juga menyampaikan cita-cita bangsa Indonesia untuk 
menjadi negara maju pada 2045. Saat perayaan seabad kemerdekaan Indonesia. 
Indonesia pada 2045 diharapkan masuk dalam lima besar kekuatan ekonomi dunia 
dengan pendapatan per kapita Rp 320 juta per tahun.

Menurut presiden, target pendapatan itu sangat besar. Jika dihitung, setiap 
bulan sekitar Rp 27 juta. ”Sebuah jumlah yang sangat besar,” tandasnya. Untuk 
mencapai cita-cita tersebut, diperlukan kerja keras, inovasi, dan fondasi yang 
kuat. Yaitu fondasi toleransi, persatuan, persaudaraan, dan karakter kebangsaan 
berdasar Pancasila.

Sementara itu, kritik bahwa pengangkatan 12 wakil menteri sebagai bentuk 
bagi-bagi jabatan ditepis partai pendukung Jokowi. Juru Bicara DPP PSI Dedek 
Prayudi mengatakan, pengangkatan Wamen adalah bentuk kebutuhan untuk 
mempercepat program kerja kementerian. ”Ini bukan bentuk bagi-bagi jabatan,” 
kata Dedek dalam diskusi bertajuk Kabinet Bikin Kaget di D’consulate Resto and 
Lounge, Jakarta Pusat, kemarin (26/10).

Melihat portofolio 12 Wawen, ungkap dia, sosok yang diangkat kapabel dan cukup 
mumpuni. Salah satunya, Surya Tjandra. Dia merupakan kader PSI yang menjabat 
wakil menteri agraria dan tata ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Menurut Dedek, Surya adalah sosok yang tepat mengisi Wamen ATR/BPN mendampingi 
Sofyan Djalil. Surya menempuh program doktor ilmu hukum di Universitas Leiden, 
Belanda. Dia kerap terlibat dalam advokasi kasus-kasus bidang pertanahan. 
Dengan kemampuan tersebut, Dedek yakin Surya bisa memberikan kontribusi dalam 
urusan-urusan pertanahan.

Meski demikian, Dedek mengakui, pengangkatan 12 Wamen tidak bisa lepas dari 
akomodasi politik. Presiden Jokowi, kata dia, berupaya merangkul semua pihak 
untuk kemajuan bangsa. Terutama yang berjasa dalam pemenangan Pilpres 2019. 
”Itu hak prerogatif presiden. Ini (jabatan Wamen, Red) bukan hasil 
tekan-menekan atau ancam-mengancam,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Parameter Politik Adi Prayitno menilai posisi 
Wamen merupakan bagian dari akomodasi politik Jokowi. Sebab, jumlah kursi 
menteri dinilai tak cukup mewadahi semua kepentingan. ”Jadi, wajar muncul 
stigma publik bahwa jabatan Wamen adalah bagi-bagi kue kekuasaan,” kata Adi.

Menurut dia, Wamen diangkat hanya untuk meredam kegeraman pendukung Jokowi. 
Salah satunya PB NU. Sebab, setelah pengangkatan Fachrul Razi sebagai menteri 
agama, ormas NU protes. Nah, setelah protes muncul, diangkatlah Wamen Zainut 
Tauhid Sa’adi.

Demikian pula saat muncul protes terkait tidak adanya portofolio menteri yang 
mewakili Papua. Kemudian, diangkat Wempi Wetipo yang menjabat wakil menteri 
pekerjaan umum dan perumahan rakyat. ”Jadi, Wamen ini kesannya untuk menambal 
lubang-lubang protes tadi,” katanya.

Dosen ilmu politik UIN Syarif Hidayatullah itu juga sependapat bahwa keberadaan 
Wamen sangat bertentangan dengan janji presiden untuk membentuk birokrasi 
ramping. Bertambahnya Wamen, kata Adi, tentu berdampak pada kebutuhan anggaran 
yang membengkak. Padahal, hampir semua kementerian memiliki pejabat direktur 
jenderal (Dirjen) dan deputi yang membantu tugas menteri.

Apakah pengangkatan Wamen bisa memicu blunder? Adi menyatakan, kondisi tersebut 
sangat bergantung pada performa kabinet ke depan. Jika kinerja pemerintah 
bagus, keputusan itu bakal menuai apresiasi publik. Sebaliknya, jika melenceng 
dari target, trust publik ke pemerintah akan terus menurun. ”Ini pertaruhan 
bagi Jokowi. Jika kabinet tidak bisa dikelola, justru menjadi blunder.”

Editor : Ilham Safutra

Reporter : mar/wan/c9/c10/c19/fal
    

Kirim email ke