----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Sunny ambon [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>Terkirim: Selasa, 12 November 
2019 00.13.52 GMT+1Judul: [nasional-list] BuBidan Digaji Rp 300 Ribu per Bulan, 
Plus Jadi Perawat dan Dokter
     

 



Dirgahyurezim neo-Mojopahit”!




https://www.jawapos.com/features/11/11/2019/bu-bidan-digaji-rp-300-ribu-per-bulan-plus-jadi-perawat-dan-dokter/




BuBidan Digaji Rp 300 Ribu per Bulan, Plus Jadi Perawat dan Dokter

FEATURES

11November 2019, 16:03:00 WIB





BidanNike Indira saat di temui di Pulau Sailus Besar, Sulawesi 
Selatan(30/10/2019). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)





”Sedihkarena saya tidak bisa berbuat banyak,” ucap bidan honorerPuskesmas 
Pembantu (Pustu) Pulau Satanger Nike Indria. Pasien yangdia tolong meninggal 
karena preeklamsia dan terlambat dibawa kedaerah rujukan. Penyesalan seperti 
itu dirasakan banyak tenaga medisdi wilayah sulit.

FERLYNDAPUTRI, Pangkep,Jawa Pos

DI sebuahsore Februari lalu, saat sedang santai Nike dipanggil seorang wargadi 
Pulau Satanger, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep),Sulawesi Selatan. 
Ada kondisi gawat. Seorang ibu muda hendakmelahirkan, tapi pembukaan jalan 
lahir berjalan lambat. ”Sudahditangani dukun, tapi tidak keluar (bayinya, 
Red),” ujar dia.

Pukul19.00 Nike sampai di rumah ibu tersebut. Baru pembukaan 5. 
Untukmempercepat proses, pasien meminta izin jalan-jalan. Dua jamberselang, 
Nike kembali memeriksa pembukaan. Hanya bertambah 2 cm.Pasien mulai stres, tapi 
tetap minta untuk jalan-jalan.

Taklama kemudian ibu itu jatuh. Tubuhnya kejang. Matanya hanya kelihatanbagian 
putih. Semua panik. Kejang berlangsung sekitar dua menit. Ibutersebut kembali 
sadar. Nike mengecek tekanan darah. Meski lupa angkapastinya, dia ingat betul 
angkanya tinggi. Pasien harus dirujuk untukmendapat perawatan yang lebih 
lengkap.

Sayang,laut sedang surut. Kapal yang ada di bibir pantai tak bisa menuju 
ketengah. Oke, ditunggu sampai besok pagi. Azan Subuh belum terdengar.Langit 
masih gelap. Air sudah tinggi. Semalaman Nike menunggupasiennya yang beberapa 
kali kejang itu. Mengejar waktu, Nikeditemani keluarga pasien membawa ibu muda 
tersebut menuju Sumbawa.Estimasi perjalanan delapan jam. ”Kapalnya tidak 
menggunakan mesinmobil, jadi lama,” kenang perempuan 23 tahun itu.

Diperairan dekat Pulau Moyo, Nusa Tenggara Barat, pasien kembalikejang. Kali 
ini lebih parah. Tubuhnya membiru. Aduh, apa yang harusdilakukan Nike yang jadi 
satu-satunya tenaga kesehatan (nakes) dikapal kayu itu? Dia mencoba menjaga 
kesadaran pasien. Lainnyadipasrahkan kepada Yang Kuasa. ”Saat kejang hanya bisa 
dilihatin.Perasaan sedih, tapi gimana?” ungkapnya.

Pasienselamat sampai Sumbawa dan segera dibawa ke rumah sakit. Dokterkandungan 
di salah satu rumah sakit daerah memvakum bayi yang takkunjung keluar. Empat 
kali divakum, tak ada perkembangan. Yangterakhir menunjukkan bahwa tekanan bayi 
terlalu kuat. Menurut Nike,itu akibat tensi si ibu masih tinggi. Paramedis 
memutuskan untukmelakukan operasi sesar.

Kuranglebih pukul 20.00 jabang bayi perempuan lahir. Semuanya lega. Tenagaharus 
dipulihkan, maka semua beristirahat. Dini hari kabar dukadatang. Si ibu 
meninggal dunia. Itu bukan kali pertama pengalamanyang memacu jantung Nike. 
Kerap dia panik karena keterbatasan dalammenangani pasien. ”Saya sering menjadi 
perawat merangkap dokter,”kelakarnya.

Sebagaisatu-satunya tenaga di Pulau Satanger, Nike harus serbabisa. Takhanya 
menolong ibu hamil, tapi juga melakukan pemeriksaan jika adakeluhan berbagai 
penyakit. Sudah tiga tahun dia mengabdi sebagainakes. Selama itu pula statusnya 
hanya tenaga harian. Bayarannya Rp300 ribu per bulan. Itu pun dibayarkan tiga 
bulan sekali.

Meskidemikian, Nike enggan meninggalkan tempat dinas yang merupakan 
tanahkelahirannya tersebut. ”Kata bapak, kalau saya saja meninggalkanSatanger, 
lalu bagaimana orang luar yang ditugaskan ke sana?”tuturnya. Meski terbatas, 
Nike bertahan. Rasa kemanusiaan yang selalumemenangkan hatinya.

Takberbeda dengan Nike, Asmilawati juga memilih mengabdi di 
wilayahsulit.Perawat honorer di Puskesmas Pulau Sailus itu ingin 
pemerintahmemperhatikan nakes di wilayah sulit. Salah satunya 
denganpengangkatan nakes yang berasal dari putra daerah.

Mila,sapaan Asmilawati, sudah tujuh tahun mengabdi. Dia asli Pulau Sapuka,ibu 
kota Kecamatan Liukang Tangaya. Kurang lebih sepuluh jamperjalanan dengan kapal 
kecepatan 7 knot dari Pulau Sailus Besar.”Dengan risiko lebih tinggi, 
seharusnya ada tunjangan yang lebihbesar. Agar ada yang tertarik ke pulau,” 
tuturnya.

Selainitu, Mila menyarankan agar ada pelatihan untuk nakes. Denganketerbatasan 
sumber daya, nakes yang hanya satu atau dua orang harusserbabisa. Update ilmu, 
menurut dia, harus dilakukan.

Jikadi kota perkembangan bisa berjalan cepat, sayangnya tidak di PulauSailus. 
Tak ada operator telepon yang masuk. Sehingga untukberkomunikasi menggunakan 
radio. Sebenarnya ada satu warga yangmenyediakan wifi. Namun, biayanya cukup 
menguras kantong. Untuk kuotainternet 50 mb, warga harus merogoh Rp 15 ribu. 
Janji untuk membawajaringan ke Pulau Sailus sudah kerap diutarakan politisi di 
setiapkampanye. Warga sampai tak percaya lagi dengan janji itu..

Haltersebut yang menghambat perkembangan di Pulau Sailus. Jika saluraninformasi 
di Sailus lancar, Mila bermimpi bisa menghubungi seniornyaketika ada kesulitan. 
Hal itu pasti akan membantunya dalam menolongwarga yang sakit.

Keterbatasantak membuat Nike dan Mila mengeluh. Sebab, keluhan saja tak 
bisamenolong warga yang sakit. Di luar sana mungkin ada ribuan Nike danMila 
yang bertahan dalam keterbatasan demi kesehatan.

KepalaDinas Kesehatan Pangkep Indriaty Latief saat dihubungi Jawa Posmenyatakan 
bahwa nakes menjadi masalah pokok di Kecamatan LiukangTangaya. Hanya ada satu 
atau dua yang sudah PNS di puskesmas. Selainitu, semuanya tenaga lepas harian. 
”Pendapatannya di bawah upahminimal provinsi,” ucapnya.

Indriatymengatakan bahwa sebelumnya ada pegawai tidak tetap (PTT) yangdibiayai 
pusat. Sekarang program tersebut dihapus dan diganti denganprogram Nusantara 
sehat (NS). Program itu, menurut dia, kurang.Sebab, tidak semua ditempatkan di 
puskesmas dan hanya tinggal selamasatu tahun. ”Kami tidak bisa berbuat apa-apa 
karena anggaran kecil.Kami mau berikan honor yang besar, tapi tidak bisa,” 
ujarnya.

MajelisPengembangan Pelayanan Keprofesian (MPPK) PB IDI dr Poedjo HartonoSpOG 
menjelaskan bahwa penyebaran nakes memang menjadi problem.Wilayah sulit acap 
kali dihindari. Hal itu, menurut dia, manusiawikarena susah dijangkau dan 
banyak keterbatasan. ”Terobosannya,orang lokal disekolahkan dan wajib kerja di 
daerahnya,” tutur dia.

Programpenyebaran nakes seperti NS, menurut Poedjo, tidak banyak 
diminati.Bahkan, program wajib kerja dokter spesialis (WKDS) sampai digugatdan 
akhirnya aturannya dibatalkan Mahkamah Agung. ”Padahal, adajanji gaji yang 
besar dan sebagainya,” ungkap dia.

MenurutPoedjo, persebaran nakes yang belum merata bukan hanya masalahpemerintah 
pusat. Pemerintah daerah juga harus hadir. Apalagi,sejumlah kasus kesehatan 
menimpa anak yang semestinya menjadi penerusgenerasi bangsa. Seperti kisah yang 
dialami bocah 6 tahun, tapi punyatubuh bak umur 2 tahun. Baca besok untuk 
mengetahui ceritanya.

Editor: Ilham Safutra

Reporter: */c9/ayi



    

Kirim email ke