*Bebaskan diri NKRI sebagai negara berkuasa dari urusan agama maka
kemungkin besar intoleransi itu akan sangat berkurang menjadi 0,001%,
perbesar pengetahuan umum, jangan cuma berpijak pada masa kegelapan di
gurun pasir. Hapus kementrian agama, karena kementrian agama tidak akan
membawa unmat masuk surga dan ke taman Firdausnya yang penuh dengan
bidadari cantik bin molek nan sexy. hehehehehe*


https://sp.beritasatu.com/nasional/intoleransi-muncul-karena-politisasi-kebencian/585218/

*Intoleransi Muncul karena Politisasi Kebencian* *Suara Pembaruan*
<https://sp.beritasatu.com/nasional/intoleransi-muncul-karena-politisasi-kebencian/585218/#>

Rabu, 13 November 2019 - 20:30
<https://sp.beritasatu.com/nasional/intoleransi-muncul-karena-politisasi-kebencian/585218/#>

*Jakarta, Beritasatu.com -* Peneliti senior di Wahid Foundation, Alamsyah M
Djafar mengatakan, intoleransi muncul bukan karena perbedaan semata, tetapi
juga politisasi kebencian.

“Yang sebetulnya menjadi masalah adalah praktik politisasi. Ada pihak yang
menggunakan isu-isu ketidaksukaan terhadap kelompok yang lain. Bisa
macam-macam seperti LGBT, bisa Yahudi, dan sebagainya, sehingga berkembang
intoleransi di masyarakat. Jadi kalau mau mengurangi intoleransi,
seharusnya adalah mengurangi politisasi kebencian yang di dalamnya ada
aktor-aktornya,” kata Alamsyah dalam keterangan tertulisnya, Rabu
(13/11/2019).

Mantan Program Officer Riset dan Advokasi di Wahid Foundation ini
berpendapat, seharusnya tidak ada lagi intoleransi atau membenci orang yang
dianggap berbeda. Intoleransi saat ini sering berkaitan erat dengan media,
utamanya media sosial.

“Jadi ketika media sosial banyak menginformasikan berita-berita berisi
kebencian, *hoax,* intoleransi, maka hal itu dapat mempengaruhi orang untuk
membenci kelompok lain. Kalau mau mengurangi, maka kita harus bisa
membatasi informasinya, terutama yang mengandung kebencian dan kekerasan,
karena itu melanggar hukum,” ungkapnya.

Oleh karena itu, alumni pascasarjana Univeritas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta ini mengatakan, sudah semestinya masyarakat memperkuat
persatuan dengan perbedaan yang ada.

“Masyarakat harus berpikiran lebih terbuka ketika menyikapi adanya
perbedaan,” kata anggota Tim Penyusunan Draf Rencana Aksi Nasional
Penanggulangan Ekstrimisme Kekerasan Badan Nasional Penanggulangan
Terorisme (BNPT) ini.

Kirim email ke