1.:

Home / Politik

Sukmawati: Saya Mau Tanya, yang Berjuang di Abad 20 itu Muhammad atau
Insinyur Soekarno?
 
Written By Ahmad Thursday, November 14, 2019 
Add Comment 


Beritaislam -  Sukmawati Soekarnoputri mempertanyakan peran Nabi
Muhammad SAW dalam merebut kemerdekaan Indonesia dibandingkan Soekarno.

“Sekarang saya mau tanya, yang berjuang di abad 20 itu nabi yang mulia
Muhammad atau Insinyur Soekarno? Untuk kemerdekaan Indonesia?” tanya
Sukmawati dalam diskusi bertajuk ‘Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita
Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme’, Senin (11/11/2019).

Pertanyaan tersebut sempat ingin dijawab oleh beberapa peserta diskusi.
Salah satu yang diperbolehkan menjawab ialah mahasiswa UIN, Jakarta,
Maulana.

“Memang benar, pada saat awal abad ke-20 itu yang berjuang adalah
insinyur Soekarno…..,” jawab Maulana. Baca juga:  Brigade Jokowi:
Prestasi Atlet Indonesia Buruk di SEA Games Akibat Pemerintah SBY
“Sudah cukup saya tanya itu saja,” potong Sukmawati.

Sukmawati menolak adanya anggapan seorang muslim tidak boleh
menghormati sosok selain Nabi Muhammad.

“Memangnya kita tidak boleh menghargai, menghormati orang-orang mulia
di awal-awal atau di abad modern? Apakah yang selalu menjadi suri
tauladan itu hanya nabi-nabi?” Tanyannya.

“Ya oke nabi-nabi, tapi perjalanan sejarah seperti revolusi industri,
apakah kita tidak boleh menghargai seperti Thomas Jefferson, Thomas
Alfa Edison, orang-orang mulia untuk kesejahteraan manusia?”

“Saya pikir-pikir Anda tidak benar kalau untuk tidak menghargai dan
menghormati mereka-mereka yang berbudi mulia,” jelas Sukmawati. [sn]




2.:

Home / Politik

Sukmawati: Di Mana Bendera Hitam Bertuliskan Arab Saat Bangsa Indonesia
Melawan Penjajah?

Written By Ahmad Thursday, November 14, 2019 Add Comment 

Beritaislam -  SUKMAWATI Sukarnoputri, putri Proklamator RI Soekarno,
mengaku jengkel dengan maraknya bendera hitam bertuliskan Arab, yang
kerap dikibarkan kelompok tertentu di Indonesia.

Kejengkelan itu ia ungkapkan saat menghadiri diskusi bertajuk
'Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas
Terorisme', Senin (11/11/2019).

Awalnya, pemilik nama lengkap Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri itu
membahas perjuangan Bangsa Indonesia melawan pasukan asing di Surabaya
pada November 1945 silam.

Ia menyatakan, tentara Indonesia berjuang keras mengalahkan penjajah
dengan peralatan seadanya. Hingga akhirnya, tentara Indonesia bisa
mengibarkan bendera merah putih.

"Kita rakyat Indonesia hanya seadanya dan senjata dari Jepang dan
bambu, keris golok dan segala macem," ucapnya di Gedung The Tribrata,
Jalan Dharmawangsa III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

"Para pahlawan itu naik ke suatu gedung, berkibarlah bendera merah
putih biru atau benderanya Belanda."

"Kemudian mereka ambil itu bendera dan mereka robek warna biru dan
dinaikkan lagi merah putih."

"Berkibarlah bendera merah putih untuk merdeka atau mati," tuturnya.

Sukmawati pun menanyakan mengapa saat itu tidak ada bendera hitam yang
bertuliskan Arab.

Di situ, ia mengungkapkan kekesalannya kepada para oknum yang justru
ingin mendirikan negara khilafah.

"Saya ingin bertanya lagi, di mana itu bendera hitam dengan tulisan
Arab? Di mana?"

"Kok ujuk-ujuk sekarang berkibar-kibar seolah-olah mau mendirikan
Negara Islam atau khilafah?" paparnya.

Dalam kesempatan itu, Sukmawati menyebut pihak-pihak tersebut sebagai
orang yang durhaka dan kurang ajar terhadap perjuangan bangsa.

"Waktu kita bertempur penuh darah dan tangis keringat, ke mana mereka?"

"Jadi mungkin Pak NU bisa menjawab. Kok kurang ajar, durhaka, dan
kualat?"

"Sedih, jengkel kalau melihat kenyataan yang ada ketika saya sudah
nenek-nenek. Kok masih ada ya?" ucapnya.

Sukmawati lantas menyatakan kesal dengan maraknya tindakan radikalisme
di Indonesia.

Apalagi, kelompok tersebut kerap membenturkan Alquran dan Pancasila.

Sukmawati pun kemudian menanyakan balik, mana yang lebih berjasa
merebut kemerdekaan Indonesia, antara Muhammad SAW dan Soekarno.

Awalnya, Sukmawati berbicara mengenai tragedi Perguruan Cikini (Percik)
yang terjadi pada 30 November 1957.

Ia menyebutkan, kejadian yang juga menimpa ayahnya, Soekarno itu,
menjadi awal mula terjadinya terorisme di Indonesia.

"Di dalam perjuangan membangun bangsa dan negara Indonesia ini."

"Saya dari kecil umur 6 tahun, saya menjadi saksi hidup mulai adanyanya
terorisme," ungkap Sukmawati.

Ketika itu, ia bercerita, Soekarno diserang oleh kalangan terorisme
yang menggunakan granat saat mengunjungi Percik untuk membuka bazar.

Kedatangan Soekarno kala itu justru disambut oleh ledakan granat.

"Bung Karno diundang untuk membuka bazar. Bazar sudah siap sedia untuk
menyambut Presiden datang."

"Presiden itu turun dari mobil anak-anak, sekolah, guru dan lain
sebagainya. Begitu turun (ledakan)," ungkapnya.

"Mereka itu atau orang yang Islam sempit pikiran, yang hanya melihat
paling mulia adalah yang mulia Nabi Muhammad dan hanya boleh Alquran
dan hadis."

"Lain pengetahuan, lain ilmu, atau apa itu kafir, toghut," sambungnya.

Ia menyatakan, hingga saat ini, orang yang disebutnya sebagai kalangan
radikalis masih kerap eksis.

Menurutnya, kelompok tersebut juga suka mengafirkan orang lain.

"Oh ini loh yang dimaksud pemimpin saya atau bapak saya ya, Bung Karno,
kelompok sempit pikiran yang suka royal dengan kata-kata kafar kafir
kafar kafir."

"Jadi zaman Bung Karno kelompok sempit pikiran itu sudah ada, sampai
saya nenek-nenek masih ada," tuturnya.

Dalam kesempatan itu, ia menyatakan geram dengan tingkah kaum radikalis.

"Kalau untuk merekrut yang namanya hijrah kek atau calon radikalis,
katanya infonya, itu ditanya mana lebih bagus Pancasila sama Alquran,"
terangnya.

"Sekarang saya mau tanya, yang berjuang di abad 20 itu nabi yang mulia
Muhammad atau Insinyur Soekarno? Untuk kemerdekaan Indonesia?"
Tanyannya.

Pertanyaan tersebut sempat ingin dijawab oleh beberapa peserta diskusi.
Salah satu yang diperbolehkan menjawab ialah mahasiswa UIN, Jakarta,
Maulana.

"Memang benar, pada saat awal abad ke-20 itu yang berjuang adalah
insinyur Soekarno.....," jawab Maulana.

"Sudah cukup saya tanya itu saja," potong Sukmawati.

Ia kemudian melanjutkan paparannya mengenai radikalisme.

Menurutnya, ia keberatan dengan adanya anggapan seorang muslim tidak
boleh menghormati sosok selain Nabi Muhammad.

"Memangnya kita tidak boleh menghargai, menghormati orang-orang mulia
di awal-awal atau di abad modern? Apakah yang selalu menjadi suri
tauladan itu hanya nabi-nabi?" Tanyannya.

"Ya oke nabi-nabi, tapi perjalanan sejarah seperti revolusi industri,
apakah kita tidak boleh menghargai seperti Thomas Jefferson, Thomas
Alfa Edison, orang-orang mulia untuk kesejahteraan manusia?"

"Saya pikir-pikir Anda tidak benar kalau untuk tidak menghargai dan
menghormati mereka-mereka yang berbudi mulia," bebernya.

Sumber: WartaKota

[news.beritaislam.org






Kirim email ke