https://travel.tempo.co/read/1272724/bahas-wisata-ramah-muslim-menparekraf-bertemu-pelaku-wisata-bali/full&view=ok
Bahas Wisata Ramah Muslim, Menparekraf
Bertemu Pelaku Wisata Bali
Reporter:
Antara
Editor:
Ludhy Cahyana
Jumat, 15 November 2019 17:24 WIB
Sejumlah wisatawan mengamati Patung Garuda Wisnu Kencana di Taman Budaya
Garuda Wisnu Kencana, Badung, Bali, Kamis 7 November 2019.Sejak
diresmikan pada tahun 2018, kawasan tersebut mulai menjadi pilihan
wisawatan baik domestik atau mancanegara yang berlibur ke Bali. ANTARA
FOTO/Zabur Karuru
<https://statik.tempo.co/data/2019/11/07/id_887374/887374_720.jpg>
Sejumlah wisatawan mengamati Patung Garuda Wisnu Kencana di Taman Budaya
Garuda Wisnu Kencana, Badung, Bali, Kamis 7 November 2019.Sejak
diresmikan pada tahun 2018, kawasan tersebut mulai menjadi pilihan
wisawatan baik domestik atau mancanegara yang berlibur ke Bali. ANTARA
FOTO/Zabur Karuru
*TEMPO.CO*, *Denpasar *- Simpang siur wisata halal
<https://travel.tempo.co/read/1271934/wishnutama-saya-tak-bilang-bali-dan-danau-toba-jadi-wisata-halal>
dan wisata ramah muslim, mendorong sejumlah komponen pariwisata Bali
menemui Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio
pada Kamis (14/11). Mereka ingin mengklarifikasi pernyataan soal Bali,
yang bakal dijadikan sebagai destinasi wisata ramah muslim.
"Kami dari industri pariwisata khususnya sebagai warga Bali adalah
pribadi-pribadi yang sangat dialogis dalam menyikapi berbagai hal. Agar
tidak bergulir tambah liar dan menimbulkan efek negatif bagi bisnis
pariwisata secara umum, kami pikir harus ada tindakan holistik dan mampu
membuat semua pihak dapat menerima klarifikasi atas isu tersebut," kata
Ketua Persatuan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Badung I Gusti Agung
Ngurah Rai Suryawijaya.
Dalam pertemuan yang diinisiasi Rai Suryawijaya yang juga Ketua Badan
Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Badung itu, juga turut para tokoh
pariwisata Bali lainnya yakni Ketua GIPI Bali Ida Bagus Agung Partha
Adnyana, Ketua STPBI I Made Sudjana, Ketua Suksma Bali 2019 I Gusti
Agung Ngurah Darma Suyasa, President Director GHE dan Sekjen BVA Yoga
Iswara.
Seorang pria merawat onta di kawasan hotel mewah di Nusa Dua, Bali,
tempat Raja Salman dan rombongannya akan menginap selama di Bali, 2
Maret 2017. REUTERS/Nyimas Laula
Dalam pertemuan itu hadir pula Wakil Ketua DPD IHGMA Bali I Ketut
Swabawa, Tim Ahli Gubernur Bali Ketut Jaman, BPPD Badung Jaya Ishwari
dan Konsultan Bali Convention Exhibition Bureau Levie Lantu. Menurut Rai
dialog berjalan sangat akrab dan penuh motivasi konstruktif selama tiga jam.
Wishnutama, menurut Rai, dalam pertemuan itu menegaskan, ada media yang
mengarahkan opini ke arah wisata halal. Padahal yang disampaikan oleh
Wishnjutama, Bali sebagai destinasi ramah wisatawan muslim. “Jadi
pertanyaan tersebut saya jawab bahwa kami akan sediakan /'friendly
moslem tourism'/, bukan menjadikan Bali sebagai wisata agama tertentu,”
ujar Rai.
Dalam pertemuan tersebut, Wishnutama menyatakan istilah /'friendly'/
merupakan sesuatu menyejukkan, bukan antipati. “Bahkan saya tahu sendiri
banyak hotel-hotel di Bali juga menyediakan mushala untuk sembahyang,
dan tidak pernah ada informasi diskriminasi bagi wisatawan dari agama
tertentu," kata Wishnutama sebagaimana dikutip Rai.
Oleh karena itu, lanjut Rai, persoalan dugaaan pernyataan wisata ramah
muslim dari Menparekraf yang santer beredar selama ini sudah selesai,
"Pak Menteri sudah menyampaikan beberapa kali kepada pihak yang ditemui
selama ini, dan kami bantu beliau dengan menyebarluaskan visi dan
misinya agar kita benar-benar fokus pada /'quality tourism'/ dan manfaat
bagi seluruh anak bangsa," ujarnya.
Sejumlah wisatawan mengamati Patung Garuda Wisnu Kencana di Taman Budaya
Garuda Wisnu Kencana, Badung, Bali, Kamis 7 November 2019. Patung
tersebut berwujud Dewa Wisnu yang dalam agama Hindu adalah Dewa
Pemelihara (Sthiti), mengendarai burung Garuda. ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Dalam pertemuan tersebut, Menparekraf Wishnutama juga menyampaikan
sejumlah program yang ditujukan untuk Bali. Ia berkomitmen menjaga dan
menguatkan Bali dari sisi tradisi, budaya, alam dan kesenian.
Selanjutnya menggarap rencana "Asia Pacific Film Festival" di Bali,
mengajukan "World Beach Games 2020" di Bali, mengusulkan "MTV Awards" di
Bali dan membawa syuting film Holywood ke Indonesia dan Bali.
Sementara itu, di bidang penguatan destinasi, Ketua GIPI Bali IB Agung
Parta menyampaikan bahwa Bali sedang menyiapkan BaliCEB sebagai "/hub/"
kegiatan MICE di Bali yang memiliki potensi sangat besar ke depannya.
Dia menambahkan, Bali memiliki soliditas yang konsisten di industri
kepariwisataan dengan melibatkan seluruh asosiasi yang ada.
"Kami ingin kondusitivitas pariwisata bisa terjaga sehingga para
wisatawan nyaman datang ke Bali. Isu-isu yang kurang relevan dengan
pariwisata yang bersifat global ini harus segera dituntaskan," ucap pria
yang akrab disapa Gus Agung ini.
Dalam kesempatan itu, tim pariwisata Bali juga mengusulkan beberapa
strategi untuk pariwisata ke depannya yakni meningkatkan koordinasi
antarpemerintah pusat dan daerah untuk sinkronisasi program dan
membangun kerja sama yang strategis dari pihak Kemenpar dengan Kemendes
terkait penciptaan "/Community Based Tourism/ (CBT)" untuk menguatkan
peran masyarakat desa sebagai /stakeholder/.
Warga bersembahyang bersama saat ritual Pekelem yang merupakan rangkaian
dari Pembukaan Nusa Penida Festival 2019 di Pantai Banjar Nyuh, Nusa
Penida, Klungkung, Bali, Ahad, 6 Oktober 2019. Festival ini digelar demi
meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah tersebut. ANTARA/Fikri Yusuf
Selanjutnya membangun kerja sama yang strategis dengan Kemendikbud
terkait kesiapan guru-guru SMK dalam menguasai materi perhotelan dan
pariwisata. Sehingga komposisi guru produktif bisa lebih banyak secara
proporsional dibandingkan guru normatif dan adaptif.
Terakhir, mendorong percepatan program sertifikasi usaha pariwisata
dengan mendorong para gubernur seluruh Indonesia, membuat aturan yang
mewajibkan setiap usaha untuk melakukan uji sertifikasi kelayakan dan
standardisasi usaha, menuju pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.