http://www.sinarharapan.co/lifestyle/read/10042/benarkah_selain_lezat__cokelat_juga_berkhasiat_
<http://www.sinarharapan.co/lifestyle/read/10042/benarkah_selain_lezat__cokelat_juga_berkhasiat__>
*Benarkah Selain Lezat, Cokelat Juga Berkhasiat?*

Jumat , 15 November 2019 | 20:55

JAKARTA - Pelbagai studi epidemiologi berhasil mengungkapkan fakta bahwa
konsumsi makanan dan minuman yang kaya akan antioksidan, vitamin, dan
flavonoid terkait dengan penurunan risiko kematian akibat penyakit
kardiovaskuler. Makanan yang teridentifikasi memiliki kandungan
*flavonoid *polifenol
tinggi antara lain berbagai buah-buahan dan sayuran, seperti apel, bawang,
teh hijau, teh hitam, anggur merah, dan cokelat.

Cokelat, siapa sih, yang nggak suka? Cokelat memiliki banyak penggemar,
mulai dari kaum milenial hingga kalangan “kolonial”, pria maupun perempuan,
pelajar hingga guru, semuanya suka. Citarasa cokelat memang begitu lezat
dan nikmat tiada tara. Sebenarnya cokelat itu mengandung berbagai macam
zat, misalnya *serotonin, teobromin, triptofan, anandamide, kafein,
arginin, dopamin, asam oksalat, flavonoid, fenol, fenetilamin, fenilalanin,
xanthine*, dan masih banyak lagi zat lainnya. Semua kandungan ini yang
membuat manusia merasakan manfaat cokelat.

Manfaat cokelat sedikit "ternodai" oleh kepercayaan kuno yang mengatakan
bahwa makan cokelat bisa menimbulkan jerawat. Tentunya kepercayaan ini
tanpa dasar ilmiah yang kuat. Jerawat disebabkan oleh bakteri
Propionibacterium acnes, obat tertentu, kosmetika, faktor genetik, kotornya
kulit wajah, dan sebagainya.

Adapun cokelat sendiri memiliki indeks glikemik yang rendah yang aman bagi
penderita kencing manis (Diabetes Mellitus, DM). Selain itu, cokelat juga
menurunkan resistensi insulin. Saat tubuh lebih sensitif terhadap insulin,
maka tubuh akan memproses glukosa dengan lebih efektif. Mungkin inilah
manfaat cokelat yang sedikit terabaikan oleh masyarakat awam dan penderita
kencing manis serta sindrom ovarium polikistik. Sekadar tambahan, puding
cokelat alpukat, selain lezat, juga aman bagi penderita DM.

Penggunaan tambahan cokelat termasuk menstimulasi ginjal dan pengobatan
demam, tuberkulosis, anemia, dan gout. Sebenarnya sudah sejak abad ke-17,
cokelat dikenal sebagai zat penguat jantung dan dimanfaatkan untuk terapi
nyeri jantung.

Manfaat cokelat yang lainnya juga telah dirasakan oleh manusia. Misalnya
melindungi jantung (efek kardioprotektif) oleh karena kandungan asam gallat
dan epikatekin flavonoidnya. Kandungan flavonoid di cokelat, terutama
katekin, epikatekin, dan prosianidin bermanfaat untuk membantu sistem
kardiovaskuler dengan menurunkan kadar kolesterol, mengurangi peradangan
(inflamasi), dan mencegah terjadinya gumpalan darah.

Hasil dari 24 riset tentang efek flavonoid pada cokelat terhadap risiko
jantung, para ilmuwan berhasil membuktikan bahwa flavonoid mengurangi
tekanan darah dan "kolesterol jahat" (LDL), meningkatkan "kolesterol baik"
(HDL), memperbaiki aliran darah, serta menurunkan resistensi insulin,
keadaan ketika sistem organ tubuh tak lagi bisa mengefektifkan penggunaan
insulin. Kondisi ini terkait erat dengan penyakit jantung dan diabetes
melitus tipe 2.

Dosis rata-rata flavonoid yang direkomendasikan oleh para ahli sekitar 400
miligram per hari. Dosis itu sama dengan delapan batang cokelat hitam *(dark
chocolate)* atau 30 batang cokelat susu. Masalahnya, jika Anda mengonsumsi
cokelat tersebut, maka secara otomatis Anda juga mengonsumsi semua kalori
dan gula yang terkandung di dalamnya.

Sebagai solusi, Anda dapat membeli produk cokelat dengan konsentrasi pekat.
Bila Anda membeli cokelat, pilihlah *dark chocolate* atau yang mengandung
lebih dari 70 persen cokelat atau lebih. Semakin tinggi kandungan cokelat,
semakin baik bagi kesehatan Anda. Dark chocolate diformulasikan dengan
cairan cocoa bean dengan persentase lebih tinggi daripada coklat susu. Oleh
karena itu, kandungan *flavonoid dark chocolate* lebih tinggi daripada
coklat susu. Hal ini penting diketahui, mengingat tidak semua cokelat
merupakan sumber flavonoid yang baik.

Kandungan *dark chocolate* sebenarnya mirip alias hampir serupa dengan
cokelat susu. Satu batang (44 gram = 1,55 oz) dark chocolate per 100 kcal
dengan rasa agak manis memiliki kandungan kalsium (6,7 mg), tembaga (0,1
mg), zat besi (0,7 mg), magnesium (24 mg), fosfor (27,5 mg), potassium
(76,1 mg), sodium (2,3 mg), seng (0,3 mg). Adapun satu batang (44 gram =
1,55 oz) coklat susu per 100 kcal memiliki kandungan kalsium (37,2 mg),
tembaga (0,1 mg), zat besi (0,3 mg), magnesium (11,7 mg), fosfor (42,1 mg),
potassium (75 mg), sodium (16 mg), seng (0,3 mg).

Cokelat juga dapat menurunkan tekanan darah manusia, hal ini telah
dibuktikan oleh Dr. David Katz, profesor di Universitas Yale. Studi lain,
cokelat bermanfaat untuk mengurangi risiko menderita stroke. Pelepasan
kadar serotonin di otak juga dapat dirasakan sebagai salah satu manfaat
coklat untuk membangkitkan rasa senang dan sensasi nyaman.

Tentang manfaat cokelat pada penderita kanker, masih kontroversial.
Sebagian ahli setuju (cokelat bermanfaat), sebagian ahli menolak (cokelat
penyebab kanker). Tentunya kita tinggal menunggu atau malah melakukan riset
yang membuktikan kebenaran bahwa cokelat berpotensi menyembuhkan kanker.

Berbagai manfaat cokelat ini sangat dirasakan oleh para ahli sehingga
mereka sampai berkumpul di Milan Italia pada tanggal 2 Maret 2007, pada
konferensi Internasional bertema *“**Chocolate, Lifestyle, and Health”.*

Bila manusia merasakan manfaat cokelat, maka tidak demikian dengan hewan.
Makanya, jangan coba-coba memberikan cokelat ke anjing, kucing, kuda,
burung nuri, beo. Mengapa? Karena zat teobromin yang terkandung di dalam
cokelat tidak dapat dimetabolisme atau dicerna oleh usus mereka. Efek
paling tragis adalah kematian. Kasihan mereka, kan?

**) dr Dito Anurogo MSc, penyuka cokelat, dosen FKIK Unismuh Makassar,
pengurus ASPI, dokter literasi digital, penulis puluhan buku, kepala LP3AI
ADPERTISI, pegiat FLP Makassar Sulawesi Selatan, Director networking IMA
Chapter Makassar, pengurus APKKM, Dewan Pembina/Penasihat berbagai
komunitas.*

Kirim email ke