Bagaimana bisa menjaga pangan?
Di Eropa (Belanda) tanah pertanian tidak diubah jadi perumahan/kantor.
Di Tiongkok padang pasir diubah jadi hijau dan pertanian.
Di Indonesia tanah pertanian termasuk yang suburpun dirombak jadi
perumahan/perkantoran,
Disamping itu hutan pun diromabak jadi.......
Nah bagaimana mau jaga pangan? Ya, satu-satunya jalan ya Import pangan.
AA
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1672-jaga-pangan
*Jumat 15 November 2019, 05:30 WIB *
/*Jaga Pangan*/
*Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | podium
<https://mediaindonesia.com/podiums>*
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1672-jaga-pangan>
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Jaga Pangan
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1672-jaga-pangan via
@mediaindonesia>
Jaga Pangan
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/11/293e0b7eb0ff2035e1d92206490f0239.jpg>
/MI/
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
MENTERI Pertanian Syahrul Yasin Limpo meminta para kepala daerah menjadi
ujung tombak pembangunan pertanian. Itu termasuk menjaga agar jangan
sampai terus terjadi alih fungsi lahan. Terutama luas lahan persawahan
harus dijaga karena berkaitan keamanan pangan nasional.
Pembangunan pertanian memang harus menjadi perhatian utama kita bersama.
Semua pembangunan yang kita lakukan tidak akan ada artinya tanpa
terciptanya keamanan pangan. Ketika kebutuhan perut tidak bisa
terpenuhi, tidak mungkin kita akan bisa melakukan pembangunan.
Semua negara memberikan perhatian khusus kepada pembangunan pertanian.
Tiongkok sebagai negara yang paling banyak penduduknya di dunia bahkan
membuat strategi keamanan pangan hingga 25 tahun ke depan. Prioritas
mereka bagaimana membuat kebutuhan pangan 1,4 miliar rakyat mereka
setiap hari bisa terpenuhi.
Presiden Xi Jinping memimpin langsung pelaksanaan pembangunan pertanian.
Belum lama ini Tiongkok mengakuisisi perusahaan pertanian Swiss,
Syngenta, dengan nilai US$43 miliar. Tiongkok berani membeli perusahaan
penghasil bibit unggul hingga pestisida dengan harga yang mahal karena
mereka harus meningkatkan produktivitas pertanian di negara itu.
Dengan hanya 8% lahan yang bisa ditanami, Tiongkok menghadapi persoalan
untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat mereka. Jumlah penduduk mereka
sekarang ini 19% dari total penduduk di muka Bumi. Pengalaman ratusan
tahun lalu mengajarkan, ketika produksi pangan tidak mencukupi, akan
mudah terjadi kekacauan dan bahkan muncul pemberontakan. Dinasti
kerajaan di Tiongkok runtuh karena persoalan pangan.
Kita tidak boleh juga alpa pada persoalan ini. Jumlah penduduk kita
terus bertambah. Tidak lama lagi jumlahnya bisa mencapai 300 juta jiwa.
Kalau lahan pertanian terus dibiarkan beralih fungsi, satu saat kita
akan menghadapi persoalan pangan.
Tepat kalau Menteri Pertanian memfokuskan untuk menghentikan alih fungsi
lahan. Sudah sekitar 600 ribu hektare lahan pertanian di Jawa yang
beralih fungsi menjadi kawasan industri dan perumahan. Karawang yang
dulu dikenal sebagai lumbung pangan nasional sekarang sudah berganti wajah.
Sebagai bupati yang 10 tahun memimpin Kabupaten Gowa dan 10 tahun pula
menjadi Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo paham bagaimana
kepala daerah seharusnya memainkan peran sebagai pemimpin di sektor
pertanian. Ia mampu menjadikan Sulsel sebagai lumbung padi nasional.
Kuncinya terletak kepada keberpihakan kepada petani. Harus ada insentif
khusus yang diberikan agar petani mau mempertahankan lahan mereka. Salah
satu yang akan diterapkan Syahrul ialah memberikan bantuan sarana
produksi bagi petani yang mau terus menjaga lahannya.
Keberpihakan kepada petani tidaklah salah. Semua negara industri juga
melakukan hal yang sama. Di Jerman, pemerintah memberikan subsidi
penerimaan sampai 50% dari hasil produksi yang bisa dapatkan.
Dengan pendapatan sampai 150% setiap kali panen, mereka bukan hanya
terpacu untuk menjalani profesi mereka, melainkan juga membuat
pendapatan mereka tidak kalah dengan warga lain yang memilih jalan
menjadi industriawan.
Kita harus membuat cetak biru tentang pembangunan pertanian sampai 25
tahun ke depan agar terbangun konsensus bersama. Bahwa penyediaan
kebutuhan pangan merupakan kewajiban kita bersama. Kita tidak boleh iri
hati ketika negara memberikan perhatian lebih kepada petani.
Mulai sekarang kita harus cermat untuk menghitung luas lahan yang
dipakai untuk pertanian. Bahkan kita harus menghitung berapa produksi
yang bisa didapatkan dan berapa kebutuhan pangan yang harus disediakan
untuk sekarang dan masa datang.
Data itu kita perlukan agar bisa dipikirkan intervensi teknologi apa
yang harus kita lakukan. Seperti dilakukan Tiongkok, kita harus
memikirkan bagaimana meningkatkan produktivitas untuk setiap hektare
lahan pertanian yang ada.
Kita tidak boleh main-main lagi dengan data pertanian. Jangan biarkan
pertanian hanya menjadi ajang untuk terjadinya praktik korupsi. Subsidi
pupuk atau subsidi bibit dibesar-besarkan tanpa ada dampak yang nyata
kepada peningkatan produksi. Kita sudah sepakat untuk menggunakan data
Badan Pusat Statistik yang terakhir sebagai acuan bahwa luasan lahan
sawah yang kita miliki hanya 7,1 juta hektare.
Kita harus tumbuh bersama-sama dengan kehidupan para petani. Hanya
dengan petani-petani yang hidupnya lebih makmur dan sejahtera, kita
bisa mengharapkan terjaganya luasan lahan pertanian dan terciptanya
keamanan pangan.
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1672-jaga-pangan>
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Jaga Pangan
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1672-jaga-pangan via
@mediaindonesia>