https://mediaindonesia.com/read/detail/272401-bermandi-debu-dan-peluh-demi-produktivitas-pertanian
*Selasa 19 November 2019, 00:02 WIB *//
//
//
/*Bermandi Debu dan Peluh Demi Produktivitas
*/
/*Pertanian*/
*Alexander P. Taum | Nusantara <https://mediaindonesia.com/nusantara>*
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/read/detail/272401-bermandi-debu-dan-peluh-demi-produktivitas-pertanian>
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Bermandi Debu dan Peluh Demi
Produktivitas Pertanian
https://mediaindonesia.com/read/detail/272401-bermandi-debu-dan-peluh-demi-produktivitas-pertanian
via @mediaindonesia>
Bermandi Debu dan Peluh Demi Produktivitas Pertanian
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2019/11/aa24d772ad13ccefb38e936ed99e5e4b.jpg>
/MI/Alexander P. Taum/
Traktor yang diigunakan untuk mensukseskan program 700 hektare lahan gratsi
DALAM sekali hentak, tiga buah piringan yang tertanam hingga 30 cm, itu
menyeret tanah keras. Rerumputan yang ada di sekitarnya pun ikut
tercerabut. Tidak sedikit yang hancur diterjang piringan dari besi keras
itu. Gerakan traktor itu kemudian membentuk deretan tanah yang membentuk
parit kecil.
Dengan kekuatan 120 PK, ditunjang Dua buah ban belakang yang besar,
memudahkan traktor itu menyeret tanah yang keras akibat kemarau Panjang,
dengan mudah pula traktor itu melewati hamparan tanah yang tidak rata
karena sudah digembur cukup dalam.
Sang operator tetap kokoh memegang kemudi sambil sesekali menghalau Debu
yang beterbangan di sana-sini dengan tangan kirinya. Tangannya sigap
mengatur luku, setir dan menghindari rintangan berupa pohon besar yang
masih berdiri kokoh di tengah kebun.
“ini hamparan kebun yang ke 120. Hari ini kami harus selesaikan 3
hektare. Kalau kebun sudah disiapkan petani, 1 Ha kami bisa habiskan
dalam waktu 1 jam. Tetapi kalau masih banyak tanaman di dalam kebun,
butuh waktu sekitar 2 jam. Jadi kalau mau dibajak, tolong Bapa Mama
Petani benar-benar siapkan lahan. Kayu minimal jangan ada di dalam
hamparan kebun,” ujar Tonce Blolok, Operator Traktor milik Dinas
pertanian dan Ketahanan pangan Kabupaten Lembata.
Di Pundak Tonce Blolok dan 8 teman operator traktor lainnya, program
bajak 700 Ha lahan gratis menjelang musim tanam di Lembata, sungguh
dipertaruhkan.
*Baca juga* : Bendungan Temef di NTT Rampung pada 2021
<https://m.mediaindonesia.com/read/detail/271963-bendungan-temef-di-ntt-rampung-pada-2021>
Untuk memenuhi target yang ditetapkan Pemerintah, dirinya bersama 8
operator traktor lainnya mulai bergerak melayani para petani sejak bulan
Agustus 2019.
“kami kejar target, sebelum musim hujan, lahan pertanian di Lembata
sudah siap ditanam. Apalagi awal musim hujan masih tidak menentu,” ujar
Tonce Blolok.
Ia berbicara kepada Media Indonesia, Selasa (18/11) siang saat rehat
dari pekerjaannya membajak kebun milik Eko Tolok, salah satu petani yang
tergabung dalam kelompok Tani Ina Letek, Waikomo, Kelurahan Lewoleba
Barat, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata.
Menurut Tonce Blolok, ada 9 Operator Traktor yang setiap tahun bekerja
melayani program bajak gratis yang di dorong Pemda Lembata, 4 PNS
sedangkan 5 lainnya tenaga honorer daerah.
“kalau kejar target seperti ini, kami terpaksa berharap pada kebaikan
hati pemilik kebun, dalam urusan makan dan minum. Karena kami harus
menjaga peralatan ini untuk bisa beropersi optimal. Kalau masih urus
dengan membawa makanan ke lokasi bajak gratis, tentu waktunya akan
banyak tersita,” ujar Tonce Blolok.
Sementara itu, Paji Lewar, Operator PNS yang disiapkan pemda Lembata
untuk program Bajak lahan gratis mengtakan, pihaknya pernah menolak
untuk membajak lahan petani yang belum disiapkan.
“Petani memang harus terus didorong agar bersiap menjelang musim hujan.
Sering kali kami sampai di kebun baru para petani kaget. Tidak masalah,
asal kami bisa dibantu bersihkan lahan terlebih dahulu,” ujar Paji Lewar.
Hari itu, Tidak tanggung-tanggung, tiga buah tractor mengeroyok 4 Ha
lahan, milik dua orang anggota kelompok Tani. Sebab musim penghujan,
menurut BMKG akan rutin mengguyur pada pertengahan bulan Desember.
“Kami sudah kerjakan lahan mulai dari kecamatan Omesuri, Lebatukan, Ile
Ape dan sekarang di Nubatukan. Yah beginilah sehari-hari kami. Berdamai
dengan debu, peluh demi mengejar target, 700 Ha lahan pertanian lahan
kering di Lembata harus berproduksi memanfaatkan musim hujan tahun ini
yang sangat sedikit,” ujar Paji Lewar.
*Baca juga *: 28 Peserta Paralayang Ikut Lomba di Bukit Cinta Lembata
<https://m.mediaindonesia.com/read/detail/271951-28-peserta-paralayang-ikut-lomba-di-bukit-cinta-lembata>
Sudah 8 jam, Paji, Tonce dan Lamburtus, membajak lahan dengan
menggunakan traktor bantuan pemerintah Pusat. Sejak pukul 10.00 wita,
selesai pukul 17.00 wita. Wajah mereka berubah. Menghitam karena
bercampur debu dari tanah yang baru selesai di”gembur”.
Mereka harus kembali membelah kota Lewoleba, kemudian bergerak kembali
ka kampung halamannya.
Paji Lewar harus kembali ke Desa Merdeka, sedangkan dua operator lainnya
tinggal di dalam kota Lewoleba. Masih ratusan Hektar lahan yang menanti
untuk dibajak.
Meski dengan gaji Rp1,5 juta per bulan, para operator ini tidak berhenti
berkarya. Sebab, tanpa mereka, petani masih terlelap dalam rentetan
panas dari kemarau berkepanjangan.
Para operator itu mulai membangun optimisme petani di Lembata yang masih
dirundung pesimisme menghadapi ketidakpastian musim penghujan yang entah
kapan dapat memabasahi tanah ini. (OL-7)