Bagus sekali, bantu petani membajak secara gratis. Kok tractornya tidak
tertutup, dilengkapi pintu.
Kalau dilengkapi lampu besar, bisa kerja siang malam.

Pada tanggal Sen, 18 Nov 2019 pukul 19.00 'j.gedearka' [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> menulis:

>
>
>
>
> https://mediaindonesia.com/read/detail/272401-bermandi-debu-dan-peluh-demi-produktivitas-pertanian
> *Selasa 19 November 2019, 00:02 WIB *
>
> *Bermandi Debu dan Peluh Demi Produktivitas * *Pertanian*
> *Alexander P. Taum | Nusantara <https://mediaindonesia.com/nusantara>*
> 
> <https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/read/detail/272401-bermandi-debu-dan-peluh-demi-produktivitas-pertanian>
> 
> <https://twitter.com/intent/tweet?text=Bermandi%20Debu%20dan%0D%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20Peluh%20Demi%20Produktivitas%20Pertanian%0Dhttps://mediaindonesia.com/read/detail/272401-bermandi-debu-dan-peluh-demi-produktivitas-pertanian%0D%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20via%20@mediaindonesia>
> [image: Bermandi Debu dan Peluh Demi Produktivitas Pertanian]
> <https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2019/11/aa24d772ad13ccefb38e936ed99e5e4b.jpg>
>
> *MI/Alexander P. Taum*
> Traktor yang diigunakan untuk mensukseskan program 700 hektare lahan gratsi
>
>
> DALAM sekali hentak, tiga buah piringan yang tertanam hingga 30 cm, itu
> menyeret tanah keras. Rerumputan yang ada di sekitarnya pun ikut
> tercerabut. Tidak sedikit yang hancur diterjang piringan dari besi keras
> itu. Gerakan traktor itu kemudian membentuk deretan tanah yang membentuk
> parit kecil.
>
> Dengan kekuatan 120 PK, ditunjang Dua buah ban belakang yang besar,
> memudahkan traktor itu menyeret tanah yang keras akibat kemarau Panjang,
> dengan mudah pula traktor itu melewati hamparan tanah yang tidak rata
> karena sudah digembur cukup dalam.
>
> Sang operator tetap kokoh memegang kemudi sambil sesekali menghalau Debu
> yang beterbangan di sana-sini dengan tangan kirinya. Tangannya sigap
> mengatur luku, setir dan menghindari rintangan berupa pohon besar yang
> masih berdiri kokoh di tengah kebun.
>
> “ini hamparan kebun yang ke 120. Hari ini kami harus selesaikan 3 hektare.
> Kalau kebun sudah disiapkan petani, 1 Ha kami bisa habiskan dalam waktu 1
> jam. Tetapi kalau masih banyak tanaman di dalam kebun, butuh waktu sekitar
> 2 jam. Jadi kalau mau dibajak, tolong Bapa Mama Petani benar-benar siapkan
> lahan. Kayu minimal jangan ada di dalam hamparan kebun,” ujar Tonce Blolok,
> Operator Traktor milik Dinas pertanian dan Ketahanan pangan Kabupaten
> Lembata.
>
> Di Pundak Tonce Blolok dan 8 teman operator traktor lainnya, program bajak
> 700 Ha lahan gratis menjelang musim tanam di Lembata, sungguh dipertaruhkan.
>
> *Baca juga* : Bendungan Temef di NTT Rampung pada 2021
> <https://m.mediaindonesia.com/read/detail/271963-bendungan-temef-di-ntt-rampung-pada-2021>
>
> Untuk memenuhi target yang ditetapkan Pemerintah, dirinya bersama 8
> operator traktor lainnya mulai bergerak melayani para petani sejak bulan
> Agustus 2019.
>
> “kami kejar target, sebelum musim hujan, lahan pertanian di Lembata sudah
> siap ditanam. Apalagi awal musim hujan masih tidak menentu,” ujar Tonce
> Blolok.
>
> Ia berbicara kepada Media Indonesia, Selasa (18/11) siang saat rehat dari
> pekerjaannya membajak kebun milik Eko Tolok, salah satu petani yang
> tergabung dalam kelompok Tani Ina Letek, Waikomo, Kelurahan Lewoleba Barat,
> Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata.
>
> Menurut Tonce Blolok, ada 9 Operator Traktor yang setiap tahun bekerja
> melayani program bajak gratis yang di dorong Pemda Lembata, 4 PNS sedangkan
> 5 lainnya tenaga honorer daerah.
>
> “kalau kejar target seperti ini, kami terpaksa berharap pada kebaikan hati
> pemilik kebun, dalam urusan makan dan minum. Karena kami harus menjaga
> peralatan ini untuk bisa beropersi optimal. Kalau masih urus dengan membawa
> makanan ke lokasi bajak gratis, tentu waktunya akan banyak tersita,” ujar
> Tonce Blolok.
>
> Sementara itu, Paji Lewar, Operator PNS yang disiapkan pemda Lembata untuk
> program Bajak lahan gratis mengtakan, pihaknya pernah menolak untuk
> membajak lahan petani yang belum disiapkan.
>
> “Petani memang harus terus didorong agar bersiap menjelang musim hujan.
> Sering kali kami sampai di kebun baru para petani kaget. Tidak masalah,
> asal kami bisa dibantu bersihkan lahan terlebih dahulu,” ujar Paji Lewar.
>
> Hari itu, Tidak tanggung-tanggung, tiga buah tractor  mengeroyok 4 Ha
> lahan, milik dua orang anggota kelompok Tani. Sebab musim penghujan,
> menurut BMKG akan rutin mengguyur pada pertengahan bulan Desember.
>
> “Kami sudah kerjakan lahan mulai dari kecamatan Omesuri, Lebatukan, Ile
> Ape dan sekarang di Nubatukan. Yah beginilah sehari-hari kami. Berdamai
> dengan debu, peluh demi mengejar target, 700 Ha lahan pertanian lahan
> kering di Lembata harus berproduksi memanfaatkan musim hujan tahun ini yang
> sangat sedikit,” ujar Paji Lewar.
>
> *Baca juga *: 28 Peserta Paralayang Ikut Lomba di Bukit Cinta Lembata
> <https://m.mediaindonesia.com/read/detail/271951-28-peserta-paralayang-ikut-lomba-di-bukit-cinta-lembata>
>
> Sudah 8 jam, Paji, Tonce dan Lamburtus, membajak lahan dengan menggunakan
> traktor bantuan pemerintah Pusat. Sejak pukul 10.00 wita, selesai pukul
> 17.00 wita. Wajah mereka berubah. Menghitam karena bercampur debu dari
> tanah yang baru selesai di”gembur”.
>
> Mereka harus kembali membelah kota Lewoleba, kemudian bergerak kembali ka
> kampung halamannya.
>
> Paji Lewar harus kembali ke Desa Merdeka, sedangkan dua operator lainnya
> tinggal di dalam kota Lewoleba. Masih ratusan Hektar lahan yang menanti
> untuk dibajak.
>
> Meski dengan gaji Rp1,5 juta per bulan, para operator ini tidak berhenti
> berkarya. Sebab, tanpa mereka, petani masih terlelap dalam rentetan panas
> dari kemarau berkepanjangan.
>
> Para operator itu mulai membangun optimisme petani di Lembata yang masih
> dirundung pesimisme menghadapi ketidakpastian musim penghujan yang entah
> kapan dapat memabasahi tanah ini. (OL-7)
>
>
>
>
>
>
> 
>

Kirim email ke