Kalau menurut hukum politik syariah, Ahok tidak boleh menjadi pemimpin,
karena agamanya. Hanya orang-orang beragama benar yang akan masuk taman
Firdaus yang penuh bidadari cantik bin molek nan sexy bisa memegang jabatan
pemimpin. Wakil presiden NKRI Ma'ruf Amin hafal ayat-ayatnya. hehehehehehe

https://fokus.tempo.co/read/1273760/penolakan-ahok-jadi-pejabat-di-bumn-dinilai-bernuansa-politik
*Penolakan Ahok Jadi Pejabat di BUMN Dinilai Bernuansa Politik*

Reporter:
*Egi Adyatama*

Editor:
*Syailendra Persada*

Senin, 18 November 2019 18:40 WIB


<https://statik.tempo.co/data/2019/08/26/id_867157/867157_720.jpg>*Mantan
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama atau Ahok tiba di Gedung DPRD
DKI Jakarta, Senin, 26 Agustus 2019. Ahok menghadiri acara pelantikan
Anggota DPRD DKI Jakarta. TEMPO/Muhammad Hidayat*

*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Jakarta* - Pengamat Politik dari Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, berpendapat penolakan
Persaudaraan Alumni atau PA 212 terhadap Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok
<https://www.tempo.co/tag/ahok> bukan persoalan kompetensi.

Adi mengatakan PA 212 masih melihat mantan Gubernur DKI Jakarta itu pernah
menghina agama. "Bagi PA 212 soal Ahok sangat ideologis, karena dianggap
menista agama. Jadi bukan soal kapasitas maupun kompetensi," kata Adi
ketika dihubungi pada Senin, 18 November 2019.

PA 212 menolak Ahok kembali masuk ke pemerintahan. Beberapa hari ini memang
menguat kabar Ahok bakal mengisi pos penting di salah satu BUMN.



Wacana ini menyeruak setelah Ahok datang untuk bertemu Menteri BUMN Erick
Thohir, di Kantornya, di Jalan Medan Merdeka Selatan, pada Rabu, 13
November 2019 lalu. Kabar yang belakangan beredar, Ahok akan menempati
kursi komisaris utama di Pertamina.


"Saya jelas tidak mau usaha milik negara untuk kesejahteraan ditempati oleh
Ahok seorang mantan napi," kata Juru Bicara PA 212, Novel Bamukmin, kepada
Tempo, Sabtu, 16 November 2019.

Novel Bamukmin bahkan mengatakan ia siap memfasilitasi jika pihak Pertamina
juga ternyata menolak adanya Ahok di tubuh mereka.

"Insyaa Allah akan kami koordinasikan kepada para tokoh dan aktivis PA 212
untuk siap memberikan dukungan kepada Pertamina untuk menolak Ahok," kata
Novel.

PA 212 merupakan suatu kelompok yang terbentuk pasca aksi massa 2 Desember
2016 silam. Saat itu, aksi ini menggalang massa yang diperkirakan hingga
mencapai jutaan orang, di Jakarta. Tujuan aksi itu, salah satunya adalah
memprotes ucapan Ahok saat menjabat Gubernur DKI, yang mereka nilai
menghina agama Islam.

Gelombang protes ini terjadi saat Ahok maju sebagai Calon Gubernur DKI
Jakarta periode 2017 - 2022. Tak hanya protes, gelombang penolakan saat itu
juga membuat Ahok akhirnya dijatuhi hukuman 2 tahun penjara di Pengadilan
Negeri Jakarta Utara, dengan tuduhan penistaan agama.

Selain itu penolakan juga datang dari Presiden FSPPB Arie Gumilar. Dalam
pesan pendek kepada Tempo, Arie menyatakan Ahok adalah tokoh yang kesohor
kerap membuat kegaduhan.

"Kami semua tahu bagaimana track record sikap dan perilaku yang
bersangkutan, yang selalu membuat keributan dan kegaduhan di mana mana,
bahkan sering kali berkata kotor," katanya, Jumat petang.

Arie khawatir karakter Ahok yang menggebu-gebu ini akan berdampak pada
organisasi Pertamina. Ia juga was-was ke depan hal ini bakal mempengaruhi
distribusi energi dan pelayanan BBM kepada masyarakat.


Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara Arya Sinulingga meminta
Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersama (FSPPB) tidak membawa urusan
politik ke dalam bisnis. Hal ini terutama terkait dengan rencana penunjukan
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai salah satu petinggi perusahaan
pelat merah migas tersebut.

"Saya sih clear ini kan bisnis, jangan bawa politik lah ke urusan bisnis.
Jadi kita minta, kita harapkan, teman-teman serikat pekerja lihat dulu Pak
Ahok masuk di mana. Lihat dulu pekerjaannya," ujar Arya di Kantor
Kementerian BUMN, Senin, 18 November 2019.

Menurut Arya, mengukur keberhasilan sebuah korporasi sangat mudah. Misalnya
saja, dengan melihat angka keuntungan atau kerugiannya. Karena itu, ia
mewanti-wanti agar serikat pekerja jangan memasukkan perkara politik dalam
hal bisnis.

"Mereka siap enggak, apakah nanti siap urusan politik dibawa-bawa ke urusan
personal. Mereka saja enggak mau kok, di satu sisi mereka ngomong
profesional tapi ketika ngomong yang lain mereka masuk politik. Jangan
lah," ujar Arya.

Kirim email ke