Presiden sedang pantau gempa di Maluku Utara, jadi mohon dimaafkan kalau
beliau belum perhatikan korban gempa di  Maluku Tengah.

https://www.satumaluku.id/2019/11/20/bersekolah-di-tenda-pengungsian-di-hutan-ratusan-siswa-smp-di-negeri-waai-tetap-pakai-seragam/


KORBAN GEMPA
<https://www.satumaluku.id/2019/11/20/bersekolah-di-tenda-pengungsian-di-hutan-ratusan-siswa-smp-di-negeri-waai-tetap-pakai-seragam/>
*Bersekolah
di Tenda Pengungsian di Hutan, Ratusan Siswa SMP di Negeri Waai Tetap Pakai
Seragam*
<https://www.satumaluku.id/2019/11/20/bersekolah-di-tenda-pengungsian-di-hutan-ratusan-siswa-smp-di-negeri-waai-tetap-pakai-seragam/>

 Rabu, 20 November 2019 - 17:38

<https://www.satumaluku.id/wp-content/uploads/2019/11/waai-belajar-di-tenda-pengungsian.jpg>Daniel
LeonardRatusan siswa-siswi SMP di Negeri Waai, Kecamatan Salahutu (Pulau
Ambon) Kabupaten Maluku Tengah, yang tengah mengikuti kelas sekolah di
tenda pengungsian di dalam hutan, Rabu (20/11/2019). Mereka sudah mengungsi
sejak pascagempa tektonik magintudo 6,5 pada 26 September 2019.

   -


satumalukuID - Ratusan siswa-siswi SMP di Desa Waai, Kecamatan Salahutu
(Pulau Ambon) Kabupaten Maluku Tengah, yang masih mengungsi pascagempa
tektonik magintudo 6,5 pada 26 September 2019 tetap belajar di tenda-tenda
pengungsian di dalam hutan.

"Meski pun belajar di dalam hutan dan duduk di atas rumput atau batang
kayu, tetapi seluruh murid diwajibkan untuk tetap mengenakan pakaian
seragam lengkap," kata Saniri Negeri Waai, Stefi Tapilaha di Ambon, Rabu
(20/11/2019).

Jumlah siswa SMP Negeri 1 Salahutu di Waai ini mencapai sekitar 360 orang
dan mereka sempat tidak melakukan pelajaran selama tiga minggu pascagempa
utama.

Kondisi ini diakibatkan bangunan sekolah mereka juga mengalami kerusakan
dan dindingnya retak-retak, sehingga Kepala SMP Negeri 1 Salahutu, A.
Matakupan bersama dewan guru tidak berani mengambil risiko mengerahkan
muridnya masuk sekolah.

Apalagi sampai saat ini masih terus terjadi gempa-gempa susulan yang belum
dua bulan pascagempa utama tetapi jumlahnya sudah mencapai lebih dari 2.000
kali dengan kekuatan bervariasi dan berpusat di darat maupun laut.

Menurut Stefi, meski dengan peralatan yang serba minim namun para pelajar
tetap mengikuti proses belajar-mengajar di tenda pengungsian.

"Kebetulan ada donatur asal PT. Indobumi Mineral ikut menyumbangkan 1,5
meter kubik papan, 159 buah papan oles, white board untuk digunakan para
guru dan siswa, termasuk satu unit megaphone atau alat pengeras suara yang
dipakai untuk kegiatan apel sekolah," katanya.

Proses belajar mengajar di tenda pengungsian ini sudah berlangsung lebih
dari satu bulan.

Sedangkan untuk para siswa SMA Negeri 5 Salahutu mereka turun ke negerinya
dan belajar di tenda dekat bangunan sekolah mereka karena kondisi
bangunannya juga retak-retak.

Kirim email ke