----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Sunny ambon [email protected] [nasional-list] <[email protected]>Terkirim: Kamis, 21 November 2019 01.57.57 GMT+1Judul: [nasional-list] Bersekolahdi Tenda Pengungsian di Hutan, Ratusan Siswa SMP di Negeri Waai TetapPakai Seragam
Presiden sedang pantau gempa di Maluku Utara, jadi mohon dimaafkan kalau beliau belum perhatikan korban gempa di Maluku Tengah. https://www.satumaluku.id/2019/11/20/bersekolah-di-tenda-pengungsian-di-hutan-ratusan-siswa-smp-di-negeri-waai-tetap-pakai-seragam/ KORBANGEMPA Bersekolahdi Tenda Pengungsian di Hutan, Ratusan Siswa SMP di Negeri Waai TetapPakai Seragam Rabu,20 November 2019 - 17:38 DanielLeonardRatusan siswa-siswi SMP di Negeri Waai,Kecamatan Salahutu (Pulau Ambon) Kabupaten Maluku Tengah, yang tengahmengikuti kelas sekolah di tenda pengungsian di dalam hutan, Rabu(20/11/2019). Mereka sudah mengungsi sejak pascagempa tektonikmagintudo 6,5 pada 26 September 2019. - satumalukuID- Ratusan siswa-siswi SMP di Desa Waai, Kecamatan Salahutu (PulauAmbon) Kabupaten Maluku Tengah, yang masih mengungsi pascagempatektonik magintudo 6,5 pada 26 September 2019 tetap belajar ditenda-tenda pengungsian di dalam hutan. "Meskipun belajar di dalam hutan dan duduk di atas rumput atau batang kayu,tetapi seluruh murid diwajibkan untuk tetap mengenakan pakaianseragam lengkap," kata Saniri Negeri Waai, Stefi Tapilaha diAmbon, Rabu (20/11/2019). Jumlahsiswa SMP Negeri 1 Salahutu di Waai ini mencapai sekitar 360 orangdan mereka sempat tidak melakukan pelajaran selama tiga minggupascagempa utama.. Kondisiini diakibatkan bangunan sekolah mereka juga mengalami kerusakan dandindingnya retak-retak, sehingga Kepala SMP Negeri 1 Salahutu, A.Matakupan bersama dewan guru tidak berani mengambil risikomengerahkan muridnya masuk sekolah. Apalagisampai saat ini masih terus terjadi gempa-gempa susulan yang belumdua bulan pascagempa utama tetapi jumlahnya sudah mencapai lebih dari2.000 kali dengan kekuatan bervariasi dan berpusat di darat maupunlaut. MenurutStefi, meski dengan peralatan yang serba minim namun para pelajartetap mengikuti proses belajar-mengajar di tenda pengungsian. "Kebetulanada donatur asal PT. Indobumi Mineral ikut menyumbangkan 1,5 meterkubik papan, 159 buah papan oles, white board untuk digunakan paraguru dan siswa, termasuk satu unit megaphone atau alat pengeras suarayang dipakai untuk kegiatan apel sekolah," katanya. Prosesbelajar mengajar di tenda pengungsian ini sudah berlangsung lebihdari satu bulan. Sedangkanuntuk para siswa SMA Negeri 5 Salahutu mereka turun ke negerinya danbelajar di tenda dekat bangunan sekolah mereka karena kondisibangunannya juga retak-retak.
