https://www.antaranews.com/berita/1174460/menikmati-kesejahteraan-dari-ekonomi-sampah-plastik
Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Menikmati kesejahteraan dari
ekonomi sampah plastik
Oleh Hanni Sofia Kamis, 21 November 2019 17:59 WIB
Warga mengikuti pelatihan pembuatan kerajinan dari bahan limbah plastik
dan kertas di Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (17/10/2019).
ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/ (ANTARA FOTO/BUDI CANDRA SETYA)
Jakarta (ANTARA) - Pris Polly Lengkong suatu hari menyisihkan uang
sebesar Rp750 ribu untuk mengumpulkan sampah-sampah plastik dari pemulung.
Seiring berjalannya waktu, usahanya mengumpulkan botol dan sampah
plastik bersama para pemulung itu ternyata mampu menghasilkan pendapatan
tak dinyana hingga Rp100 juta perbulan.
Pris yang kini menjadi Ketua Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) itu tak
sendiri menikmati kesejahteraan dari ekonomi sampah plastik.
Saat ini tercatat ada sekitar 3,7 juta pemulung di 25 provinsi yang
mengais kesejahteraan serupa dari sampah plastik.
Tak semata menjualnya kembali, banyak dari mereka yang mendaur ulang dan
mengolah sampah-sampah itu menjadi kerajinan tangan atau produk baru
dengan nilai ekonomi tinggi.
Tuti Karyati, seorang pemulung dari Cempaka Putih, Jakarta Pusat,
misalnya menjadi salah satu orang yang mengolah sampah plastik menjadi
kerajinan tangan yang kemudian ia jual kembali.
“Saya setiap hari memulung botol plastik dan gelas plastik, dimana saja
di tempat yang saya lewati. Dan saya gunakan botol dan gelas plastik
hasil memulung itu untuk dijadikan kerajinan tangan,” ujar Tuti.
Ia mengakui bisa menghasilkan satu kerajinan tangan dari setiap 10 tutup
gelas plastik. “Saya bisa menjual hasil kerajinan tangan itu Rp10.000
per buah,” ujarnya. Meski tidak secara terbuka mengakui pendapatan dari
hasil memulung, Tuti mengatakan bahwa apa yang ia dapat dari hasil
memulung cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Sejumlah perempuan dari komunitas bank sampah menyelesaikan pembuatan
kerajinan berbahan dasar daur ulang sampah di Cibinong, Bogor, Jawa
Barat, Rabu (18/9/2019). Kerajinan yang terbuat dari kertas koran bekas,
plastik bekas, dan sampah tersebut diolah menjadi hiasan serta barang
yang memiliki nilai ekonomi dan dipasarkan keseluruh Jabodetabek dengan
kisaran harga Rp5.000 - Rp700.000 per buah. ANTARA FOTO/Yulius Satria
Wijaya/pras.
Dari fakta itu sejatinya bisa ditarik kesimpulan bahwa sampah plastik
tak pernah salah, namun manajemen sampah yang mestinya diperbaiki
menjadi lebih baik. Selain juga ketaatan masyarakat dalam mengelola
sampah mereka sendiri.
Faktanya sampah botol air minum PET (Polyethylene Therepthalate)
ternyata merupakan barang berharga yang menjadi aset yang sangat
berkontribusi bagi perekonomian Indonesia. Sebab semua komponennya,
mulai dari tutup, body, dan labelnya, bisa dimanfaatkan kembali untuk
dikelola menjadi bahan yang nilai ekonominya tinggi.
Hal itu diutarakan Ahli Kimia dari Institut Teknologi Bandung (ITB),
Ahmad Zainal Abidin, yang menyebutkan bahwa sampah-sampah botol air
minum plastik itu dapat diproses melalui 3 R, yaitu Reuse/refurbishment,
Recycle, dan Recovery, menjadi wadah makanan, botol minuman, karpet,
bantal, pakaian, monomer BHET, BBM, beton, panel isolator, dan energi.
"Jadi sampah botol PET itu tidak ada yang tidak berguna. Botol PET dapat
diproses 100 persen menjadi produk berharga, sehingga tidak perlu ada
pembatasan ataupun larangan penggunaannya," kata Zainal.
Dia melihat bahwa yang salah itu adalah manajemen sampah yang selama ini
menggunakan pola kumpul-angkut-buang. Menurutnya, perlakuan itu harus
diubah sesuai UU Pengelolaan Sampah no. 18 tahun 2008 dan Perpres No. 97
Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah
Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, menjadi pemilahan,
pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir.
Kalau itu dilakukan, Zainal menyampaikan bahwa nilai ekonomi yang dapat
dibangkitkan dari sampah botol plastik itu totalnya bisa mencapai
Rp49.000 per kilo.
*Lapangan Kerja*
Dampak ekonomi daur ulang botol PET di satu sisi juga bisa menciptakan
kesempatan kerja bagi masyarakat, di mana saat ini ada sekitar 5 juta
pemulung yang menggantungkan hidupnya dari sana.
Belum lagi pengepul yang jumlahnya sekitar 1 juta orang, dan industri
daur ulang sebanyak 1500, dengan tenaga kerja yang terserap di bagian
formal sebanyak 4 juta.
"Jadi pelarangan penggunaan botol PET ini jelas kebijakan yang keliru
karena dapat menghilangkan potensi ekonomi botol yang sangat besar.
Selain itu juga akan membunuh industri botol industri daur ulang,
sehingga menghilangkan lapangan kerja jutaan orang," ucap Zainal.
Ketua Umum Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), Christine
mengatakan pelaku daur ulang di Indonesia belum mendapatkan suatu
dorongan dari Pemerintah.
Padahal daur ulang sampah plastik memiliki nilai ekonomi yang cukup
tinggi. "Itulah kenapa di luar negeri, pelaku daur ulang itu justru
dapat insentif dari pemerintahnya,” tuturnya.
Menurut Christine, potensi bisnis daur ulang plastik sebenarnya
terbilang cukup besar. Tahun lalu, dari konsumsi plastik sekitar 3-4
juta ton per tahun, bisnis daur ulang bisa mencapai 400.000 ton per
tahun. Jumlah tersebut belum memperhitungkan dari perusahaan daur ulang
di luar anggota ADUPI.
"Hasil daur ulang botol plastik utamanya adalah plastik cacahan, yang
selanjutnya menjadi bahan baku untuk produk peralatan rumah tangga dan
lainnya. Namun, khusus untuk pasar ekspor, hasil daur ulangnya sudah
berbentuk barang jadi,” ujarnya.
Maka kemudian banyak pihak yang menyatakan keheranannya mengapa justru
pemerintah melarang botol PET ini.
Padahal nilai jual dan nilai ekonomi dari plastik PET ini sangat tinggi,
sehingga semestinya pemerintah justru meningkatkan potensi ekonomi dari
plastik PET ini.
Sementara itu Perwakilan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Rachmat
Hidayat, menyampaikan pelarangan terhadap plastik kemasan berlanjut, itu
akan berdampak terhadap perekonomian Indonesia.
Sebab, banyak industri yang produknya menggunakan wadah dari plastik,
misalnya makanan dan minuman (mamin).
Padahal, industri ini memberikan kontribusi tinggi yaitu nyaris 20
persen terhadap Produk Domestik Bruto nonmigas.
“Bila kinerja industri ini terganggu, maka ada risiko dari segi lapangan
kerja. Risiko lainnya yaitu penurunan penerimaan negara dari sektor
makanan dan minuman," katanya.
Membuat ecobrick dengan limbah plastik sekolah
*Edukasi Masyarakat*
Koordinator Komunitas Plastik untuk Kebaikan, Eni Saeni, menyatakan
komunitasnya akan terus melakukan edukasi kepada masyarakat soal
pentingnya memilah sampah plastik di rumah.
“Kami membuat gerakan memilah sampah agar sampah bisa dikelola dengan
baik. Tapi mestinya pemerintah juga harus turun tangan dalam tata kelola
ini. Masyarakat, komunitas, bank sampah, pemulung dan industri daur
ulang sudah melakukannya, tinggal dari pemerintahnya bagaimana?” kata Eni.
Komunitas Plastik untuk Kebaikan telah melakukan gerakan edukasi pilah
plastik dengan insentif menukarkan sampah plastik masyarakat dengan
sembako. Hasilnya, dalam 2 jam terkumpul 7 kantong besar sampah plastik
di CFD pada 10 November 2019.
Sedangkan Endang Truni Tresnaingtyas, Direktur Bank Sampah Induk Patriot
Bekasi juga berharap ada dukungan dari pemerintah untuk bisa
mengakselerasi tumbuhnya bank sampah.
Tianingsih Permata Sari, Kasi Daur Ulang Kementerian Lingkungan Hidup
dan Kehutanan, mengatakan, terkait dengan larangan penggunaan botol
plastik, pemerintah tidak pernah menggunakan satu pendekatan saja dalam
menangani sampah plastik.
“Ini bagian dari reduce, di mana konsumsi sampah tiap orang dikurangi.
Pendekatan lain adalah reuse dan recycle,” kata Tias.
Oleh Hanni Sofia
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2019