https://www.antaranews.com/berita/1177691/rsa-nusa-waluya-ii-akan-tambah-alat-bedah-laparoscopy-dan-ruang-bedah
RSA Nusa Waluya II akan tambah alat
bedah Laparoscopy dan ruang bedah
Minggu, 24 November 2019 00:07 WIB
Rumah Sakit Apung (RSA) Nusa Waluya II berlabuh dekat dermaga Baywalk
Mall Pluit, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. ANTARA/Martha Herlinawati
Simanjuntak/pri. (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)
Jakarta (ANTARA) - Rumah Sakit Apung (RSA) Nusa Waluya II yang dimiliki
Yayasan Dokter Peduli atau doctorSHARE dan yang saat ini berlabuh di
dekat dermaga Baywalk Pluit, Jakarta Utara, akan menambah alat-alat
kesehatan termasuk untuk bedah Laparoscopy dan satu ruang operasi bedah.
"Kenapa kapal ditaruh di sini kapal itu ditarik dari Palu ke mari ke
sini karena ada beberapa perbaikan yang akan kami kerjakan di Jakarta
itu yang pertama. Yang kedua, akan ada penambahan alat-alat canggih yang
mau kami taruh di rumah sakit apung," kata Pendiri Yayasan Dokter Peduli
atau doctorSHARE dr. Lie Agustinus Dharmawan dalam acara peringatan 10
tahun pelayanan doctorSHARE, Jakarta Utara, Sabtu.
Alat-alat bedah canggih tersebut akan diletakkan di RSA Nusa Waluya II
untuk mendukung pelayanan kesehatan yang disediakan rumah sakit itu.
"Saya yakin kami bisa melakukan bedah minimally invasive surgery (bedah
invasif minimal) itu, dan itu akan bermanfaat besar bagi saudara-saudara
kita yang berada nun jauh ribuan kilometer jauhnya dari kita yang ada di
Jakarta ini. Mereka juga punya hak untuk mendapatkan pelayanan medis
yang adekuat sesuai dengan perkembangan teknologi kedokteran yang
mutakhir, itu hak dasar sebagai dasar Indonesia," tuturnya.
*Baca juga: doctorSHARE berikan layanan kesehatan kepada 58.859 pasien
daerah 3T
<https://www.antaranews.com/berita/1177584/doctorshare-berikan-layanan-kesehatan-kepada-58859-pasien-daerah-3t>*
Rumah sakit apung itu juga bersandar di perairan dekat dermaga itu untuk
menjalani pengecekan dan perawatan berkala. Rumah sakit itu akan
berlayar kembali pada 2020.
RSA Nusa Waluya II memiliki 61 ruangan yang meliputi ruang operasi,
ruang unit gawat darurat, ruang Intensive Care Unit (ICU), ruang rawat
inap pasien, ruang radiologi, laboratorium, apotik, ruang poli anak,
mata, gigi, dan obgyn.
Selain itu, akan ada beberapa perbaikan pada bangunan rumah sakit apung
yakni mengganti bagian yang bocor dengan plat yang baru. "Ada yang bocor
terus ya namanya besi direndam air laut terus pasti akan korosi itu
harus diperbaiki kalau ada bocor kecil," ujarnya.
dr. Lie mengharapkan pemerintah Indonesia dapat memberikan dukungan
berupa intervensi bahan bakar minyak (BBM) untuk harga yang lebih murah
sehingga mengurangi biaya untuk BBM yang bisa dialihkan untuk biaya
operasional yang lain.
Dia mengatakan rumah sakit apung itu dapat beroperasi dengan menggunakan
BBM industri yang harganya lebih mahal dibandingkan BBM bersubsidi
sehingga menghabiskan biaya yang lebih besar.
"Ketika kami minta untuk diizinkan membeli BBM solar subsidi kami
terbentur pada peraturan yang mengatakan bahwa BBM bersubsidi itu hanya
untuk kapal nelayan yang beratnya di bawah 8 GT. Kapal kita jelas bukan
kapal nelayan, kapal kita kapal rumah sakit," tuturnya.
"Marilah kita bahu-membahu saling bergandengan tangan memberikan bantuan
kepada saudara-saudara kita yang benar-benar sangat membutuhkan bantuan
dan uluran tangan kita," ujarnya.
***3***
Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019