Orang yang tahu sistem kerja perusahaan pasti bilangnya begitu, kalau Jokowi
mau pakai Ahok untuk mberesi mafia di Pertamina ya taruhnya di kursi dirut
dong. Kalau dipasang sebagai komut mah kelihatan sekali politisnya; cuma
sekedar langkah kuda Jokowi untuk menggusur menteri Luhut, misalnya. Pendek
kata, pengangkatan Ahok sebagai komut tidak ada urusan dengan kondisi
Pertamina.
-----------Alasannya, Ahok hanya duduk di kursi komisaris. Bukan direksi. Peran
komisaris terbatas pada pengawasan di luar lingkungan direksi dan memberi
masukan terhadap kebijakan. "Peran Ahok tidak akan lebih besar dari direksi.
Jangan dibalik, seolah peran komisaris jadi lebih strategis daripada direksi.
Tidak," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (26/11).
--- SADAR@... wrote:
ANALISIS
Bukan Ahok Kunci Keberhasilan Pertamina, Tapi Jokowi
Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Selasa, 26/11/2019 09:50 WIB Bagikan :
Pengamat menilai Ahok bukan kunci keberhasilan Pertamina. Sebab, komisaris
hanya bertindak mengawasi direksi. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan). Jakarta, CNN
Indonesia -- Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) resmi menduduki kursi Komisaris
Utama PT Pertamina (Persero). Ahok ditunjuk oleh Menteri BUMN Erick Thohir
lewat persetujuan Tim Penilai Akhir (TPA) yang diketuai Presiden Joko Widodo
(Jokowi).
Jokowi, secara terang benderang, mengungkap ingin Ahok menjadi pengawas
internal perusahaan migas pelat merah itu. Ahok diharapkan mampu menurunkan
impor minyak, membangun kilang-kilang minyak, dalam rangka menyehatkan defisit
neraca dagang.
Pengamat Energi, sekaligus Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies
(IRESS) Marwan Batubara dengan tegas menilai tidak bisa mewujudkan mimpi sukses
Pertamina hanya lewat Ahok. Sejatinya, kunci perbaikan kinerja Pertamina ada di
tangan Jokowi.
Alasannya, Ahok hanya duduk di kursi komisaris. Bukan direksi. Peran komisaris
terbatas pada pengawasan di luar lingkungan direksi dan memberi masukan
terhadap kebijakan. "Peran Ahok tidak akan lebih besar dari direksi. Jangan
dibalik, seolah peran komisaris jadi lebih strategis daripada direksi. Tidak,"
ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (26/11).
|
Lihat juga:
Tangan Terbuka dari OB dan Satpam Sambut Ahok di Pertamina |
Belum lagi, keseriusan mengejar target produksi substitusi bahan bakar minyak
(BBM) dari minyak nabati, seperti minyak kelapa sawit mentah (CPO) atau
biodiesel. Memang, kebijakan ini sudah ditempu pemerintah, namun defisit neraca
dagang dan transaksi berjalan sudah terlanjur bengkak.
Alasan lain, Marwan mengisyaratkan Ahok tidak cukup memenuhi syarat untuk
duduk sebagai Komisaris Utama Pertamina. Mengutip Undang-undang Nomor 19 Tahun
2003 tentang BUMN, orang yang menjabat di kursi komisaris merupakan sosok yang
memiliki integritas dan kapabilitas di bidang tersebut.
Ini, menurut dia, tak terpenuhi dari Ahok. Ia mengingatkan dengan kasus dugaan
korupsi yang menyasar realisasi anggaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ketika
Ahok menjabat Gubernur. "Dia belepotan dengan masalah korupsi, tapi mendapat
perlindungan KPK dan Polri," terang Marwan.
Selain itu, ia melanjutkan Ahok juga tak berhasil memenuhi amanah Peraturan
Menteri (Permen) BUMN Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penerapan Tata Kelola
Perusahan yang Baik (Good Corporate Governance/GCG) pada BUMN.
Hal ini tercermin dari ketidaktransparan Ahok dalam mengelola dana tanggung
jawab sosial perusahaan (CSR) yang seharusnya masuk ke Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD), namun justru dikelola secara mandiri di Ahok Centre.
Alasan lain, Marwan melanjutkan Ahok akan kesulitan memberantas mafia migas,
sebab pemerintah bersikap acuh tak acuh dengan persoalan ini. Ia mencontohkan
era menteri ESDM Sudirman Said saat membuka penyelewengan, tidak
ditindaklanjuti oleh Jokowi.
"Kalau memang mafia migas ada, itu berarti direksi yang ditunjuk tidak pernah
becus dan ini muara tanggung jawabnya ada di presiden dan menteri yang menunjuk
direksi itu. Berarti, yang membiarkan mafia itu ya presiden sendiri. Tak perlu
seolah-olah buttuh peran Ahok untuk membersihkan bila hanya butuh ketegasan
presiden," kata Marwan.
Terakhir, Ahok diperkirakan kesulitan mencapai target pembangunan kilang
minyak untuk mengerek lifting lantaran keuangan Pertamina kacau. Disebut kacau
karena negara berutang kepada Pertamina sekitar Rp41 triliun pada 2017-2018.
|
Lihat juga:
Istana Minta Ahok Ubah Pertamina dan Tekan Impor Minyak |
Utang itu berasal dari selisih subsidi BBM ke publik dengan nilai keekonomian
penjualan minyak. Meski utang akan dibayarkan pemerintah, namun kebijakan
tersebut membuat keuangan perusahaan terganggu sampai saat ini.
"Ini membuat perusahaan sulit memenuhi kebutuhan dana untuk pembangunan kilang
karena diminta menjalankan program politik pencitraan. Jadi, ini semua kuncinya
ada di pemerintah, ada di presiden, bukan Ahok," imbuh Marwan.
Belum lagi, Serikat Pekerja (SP) Pertamina yang menolak kehadiran Ahok.
Dikhawatirkan, penolakan membuat iklim bisnis tak kondusif bagi perusahaan di
tengah tuntutan untuk menjadi lebih baik.
Pengamat Energi dari Universitas Tarumanegara Ahmad Redi menilai sosok Ahok
tidak serta merta bisa memperbaiki Pertamina bila tidak ada dukungan penuh dari
pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab pada kinerja perusahaan.
Apalagi, jabatan yang diberikan kepada Ahok cuma sebatas komisaris.
|
Lihat juga:
Cuma Satu Karangan Bunga Sambut Ahok di Kantor Pertamina |
"Komisaris dan direksi sebenarnya merupakan sosok yang terbatas bila
pemerintah seolah menanti dobrakan dari Ahok menjadikan Pertamina lebih baik.
Seharusnya, perannya lebih strategis, misalnya menteri," jelasnya.
Misalnya, ketika pemerintah berharap Ahok bisa menekan impor minyak, tidak
mungkin dikejar bila lifting migas rendah. Artinya, diperlukan kebijakan
pembangunan kilang. Meski demikian, patut diketahui, pembangunan kilang bukan
lah kebijakan perusahaan.
Pertamina, katanya, hanya sebagai eksekutor dari target yang ditetapkan
pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Selagi,
pemerintah tidak serius mengejar target RPJMN, maka Pertamina pun pada akhirnya
hanya mengikuti pemerintah saja.
"Begitu pula bila berharap ada pemberantasan mafia migas. Petral memang sudah
dibubarkan, tapi Pertamina masih begini-begini saja karena pemerintah juga
tidak berusaha menutup celah yang lain," tegas Redi.
|
Lihat juga:
Ahok Resmi Jadi Komut, Pertamina Langsung Rombak Direksi |
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Ahok sudah terlanjur ditunjuk jadi komisaris
utama, maka yang perlu dilakukan hanyalah pembuktian. Begitu pula dengan
pihak-pihak yang masih menentang, seperti Serikat Pekerja Pertamina.
"Ya sudahlah, silakan pak Ahok bekerja, serikat bekerja lakukan apa yang bisa
diberikan ke Pertamina dan demi merah putih. Justru ini ajang pembuktian pak
Ahok," tuturnya.
Sementara, bila serikat masih bersikeras menolak, menurutnya, lebih baik
ditempuh jalur gugatan ke pengadilan agar surat keputusan dibatalkan. Hal ini
jauh lebih baik ketimbang hanya protes atas penunjukan Ahok.
(bir)
#yiv2116977026 -- #yiv2116977026ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv2116977026
#yiv2116977026ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv2116977026
#yiv2116977026ygrp-mkp #yiv2116977026hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv2116977026 #yiv2116977026ygrp-mkp #yiv2116977026ads
{margin-bottom:10px;}#yiv2116977026 #yiv2116977026ygrp-mkp .yiv2116977026ad
{padding:0 0;}#yiv2116977026 #yiv2116977026ygrp-mkp .yiv2116977026ad p
{margin:0;}#yiv2116977026 #yiv2116977026ygrp-mkp .yiv2116977026ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv2116977026 #yiv2116977026ygrp-sponsor
#yiv2116977026ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv2116977026
#yiv2116977026ygrp-sponsor #yiv2116977026ygrp-lc #yiv2116977026hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv2116977026
#yiv2116977026ygrp-sponsor #yiv2116977026ygrp-lc .yiv2116977026ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv2116977026 #yiv2116977026actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv2116977026
#yiv2116977026activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv2116977026
#yiv2116977026activity span {font-weight:700;}#yiv2116977026
#yiv2116977026activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv2116977026 #yiv2116977026activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv2116977026 #yiv2116977026activity span
span {color:#ff7900;}#yiv2116977026 #yiv2116977026activity span
.yiv2116977026underline {text-decoration:underline;}#yiv2116977026
.yiv2116977026attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv2116977026 .yiv2116977026attach div a
{text-decoration:none;}#yiv2116977026 .yiv2116977026attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv2116977026 .yiv2116977026attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv2116977026 .yiv2116977026attach label a
{text-decoration:none;}#yiv2116977026 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv2116977026 .yiv2116977026bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv2116977026
.yiv2116977026bold a {text-decoration:none;}#yiv2116977026 dd.yiv2116977026last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2116977026 dd.yiv2116977026last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2116977026
dd.yiv2116977026last p span.yiv2116977026yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv2116977026 div.yiv2116977026attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv2116977026 div.yiv2116977026attach-table
{width:400px;}#yiv2116977026 div.yiv2116977026file-title a, #yiv2116977026
div.yiv2116977026file-title a:active, #yiv2116977026
div.yiv2116977026file-title a:hover, #yiv2116977026 div.yiv2116977026file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv2116977026 div.yiv2116977026photo-title a,
#yiv2116977026 div.yiv2116977026photo-title a:active, #yiv2116977026
div.yiv2116977026photo-title a:hover, #yiv2116977026
div.yiv2116977026photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv2116977026
div#yiv2116977026ygrp-mlmsg #yiv2116977026ygrp-msg p a
span.yiv2116977026yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv2116977026
.yiv2116977026green {color:#628c2a;}#yiv2116977026 .yiv2116977026MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv2116977026 o {font-size:0;}#yiv2116977026
#yiv2116977026photos div {float:left;width:72px;}#yiv2116977026
#yiv2116977026photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv2116977026
#yiv2116977026photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv2116977026
#yiv2116977026reco-category {font-size:77%;}#yiv2116977026
#yiv2116977026reco-desc {font-size:77%;}#yiv2116977026 .yiv2116977026replbq
{margin:4px;}#yiv2116977026 #yiv2116977026ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv2116977026 #yiv2116977026ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2116977026
#yiv2116977026ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv2116977026
#yiv2116977026ygrp-mlmsg select, #yiv2116977026 input, #yiv2116977026 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2116977026
#yiv2116977026ygrp-mlmsg pre, #yiv2116977026 code {font:115%
monospace;}#yiv2116977026 #yiv2116977026ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv2116977026 #yiv2116977026ygrp-mlmsg #yiv2116977026logo
{padding-bottom:10px;}#yiv2116977026 #yiv2116977026ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv2116977026 #yiv2116977026ygrp-msg
p#yiv2116977026attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv2116977026
#yiv2116977026ygrp-reco #yiv2116977026reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv2116977026 #yiv2116977026ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv2116977026 #yiv2116977026ygrp-sponsor
#yiv2116977026ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv2116977026
#yiv2116977026ygrp-sponsor #yiv2116977026ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv2116977026
#yiv2116977026ygrp-sponsor #yiv2116977026ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv2116977026 #yiv2116977026ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv2116977026 #yiv2116977026ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv2116977026 #yiv2116977026ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv2116977026
#yiv2116977026ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv2116977026