'Stabil' itu bahasa pasar. Bahasa ilmiahnya: 'MANDEG'. - PDB Indonesia Stabil, Para Ekonom Curiga November 26, 2019 at 5:54 PM
PDB Indonesia telah melayang di sekitar angka 5 persen selama beberapa tahun. Para ekonom pun dibuat bingung dan curiga. Kecurigaan ini tumbuh mengingat PDB Indonesia yang stabil di tengah pengeluaran pemerintah yang lemah, investasi yang melambat, dan impor yang mengalami kesulitan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia hampir tidak bergerak selama tiga kuartal, menyebabkan beberapa analis meragukan keakuratan data. Produk domestik bruto (PDB) Indonesia naik 5,02 persen pada kuartal ketiga dari tahun lalu, sedikit berubah dari 5,05 persen pada kuartal kedua dan 5,07 persen dalam tiga bulan pertama tahun ini. Pertumbuhan telah melayang sekitar 5 persen sejak Presiden Joko Widodo mulai menjabat pada 2014. “Kami agak curiga pada data resmi PDB Indonesia, yang telah stabil selama beberapa tahun terakhir,” kata Gareth Leather, seorang ekonom di Capital Economics Ltd. di London, dikutip dari Bloomberg. Capital Economics—pelacak ekonomi yang didasarkan pada indikator bulanan—menunjukkan “pertumbuhan telah melambat dengan tajam selama setahun terakhir,” tambahnya. Data resmi yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) telah sejalan dengan estimasi median 5 persen dalam survei ekonom Bloomberg. Suhariyanto, Kepala BPS, menerangkan perhitungan PDB dilakukan sesuai dengan pedoman yang ketat dan dipantau secara independen oleh lembaga termasuk Dana Moneter Internasional (IMF). “Jika saya melakukan sesuatu pada data itu, IMF akan mengetahuinya,” kata Suhariyanto kepada para wartawan di Jakarta. “Dan jika itu terjadi, bukan hanya BPS yang akan menanggung rasa malu,” katanya, dan menambahkan itu akan menghancurkan kepercayaan pada BPS. “Yang saya lindungi bukan hanya kredibilitas BPS, tetapi juga kredibilitas negara.” Trinh Nguyen, seorang ekonom di Natixis SA di Hong Kong, juga mempertanyakan data-data PDB Indonesia dalam unggahannya di Twitter. TINGKAT YANG SAMA “Saya tidak tahu bagaimana ekonomi dapat tumbuh pada tingkat yang sama begitu lama, hanya di Indonesia,” katanya kepada Bloomberg.. “Pengeluaran pemerintah lemah, investasi melambat, dan impor mengalami kesulitan.” Namun, Suhariyanto mengatakan data terakhir menunjukkan ada perlambatan pertumbuhan yang “tajam” dari kuartal ketiga 2018 ke kuartal ketiga tahun ini, meskipun konsumsi―yang memberikan kontribusi 56 persen terhadap PDB―masih bertahan kuat. Perang dagang telah merusak pertumbuhan di negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia, katanya. Data untuk kuartal ketiga menunjukkan pertumbuhan ekspor yang hampir stagnan, sementara impor anjlok 8,96 persen dari tahun lalu. Dilansir dari Bloomberg, angka pengangguran yang dirilis pada Selasa (5/11) menunjukkan tingkat pengangguran telah meningkat menjadi 5,28 persen pada Agustus dibandingkan dengan 5,01 persen pada Februari―turun dari 5,34 persen di tahun sebelumnya. Pertumbuhan pengeluaran rumah tangga melemah menjadi 5,01 persen pada kuartal ketiga dari 5,17 persen dalam tiga bulan sebelumnya, sementara belanja pemerintah merosot menjadi 0,98 persen dari 8,23 persen. Pertumbuhan investasi juga melambat menjadi 4,21 persen dari 5,01 persen. PELONGGARAN MONETER Angka pertumbuhan yang stabil ini bisa membuka jalan bagi pelonggaran moneter lebih lanjut dari Bank Indonesia (BI) setelah empat kali penurunan suku bunga tahun ini. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan langkah kebijakan BI lebih lanjut akan tergantung pada data ekonomi yang masuk. Data PDB “adalah alasan lain untuk berpikir bahwa siklus pelonggaran Bank Indonesia belum berakhir,” kata Krystal Tan, ekonom di Australia & New Zealand Banking Group Ltd. di Singapura. Menurut laporan Bloomberg, perkiraan pertumbuhan resmi telah dikupas kembali beberapa kali tahun ini, di mana pemerintah sekarang memproyeksikan ekonomi akan tumbuh 5,1 persen pada 2019 dibandingkan dengan perkiraan awal 5,3 persen. IMF memiliki prospek yang sedikit lebih suram. Bulan lalu, IMF memotong proyeksi 2019 untuk Indonesia menjadi 5 persen dari 5,2 persen pada Juli. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik sebanyak 1,1 persen dan rupiah menguat 0,3 persen setelah data dirilis. Pertumbuhan 5 persen adalah “tanda yang relatif baik di tengah perlambatan ekonomi dunia dan ekonomi di kawasan ini,” ujar Enrico Tanuwidjaja, Kepala Bidang Ekonomi dan Penelitian di PT UOB Indonesia kepada wartawan Bloomberg di Jakarta. BI masih memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan lebih lanjut, tetapi kemungkinan akan menggunakan “tuas kebijakan lain untuk menopang pertumbuhan” sebelum memotong suku bunga lagi, pungkasnya. Penulis: Nur Hidayati Editor: Aziza Fanny Larasati
