*https://suaraislam.id/kesalahan-mendasar-kapitalisme/
<https://suaraislam.id/kesalahan-mendasar-kapitalisme/> *
*Kesalahan Mendasar Kapitalisme*

 2 Desember 2019



Kondisi perekonomian global semakin memburuk. Pertumbuhan ekonomi yang
terus melambat. perang dagang antara AS dan China yang tak kunjung reda,
hingga ketidakpastian geopolitik yang memicu dampak lainnya. International
Monetary Fund (IMF) resmi memangkas target pertumbuhan ekonomi dunia 2019
menjadi tiga persen dari sebelumnya 3,2 persen.

Pemangkasan ini menjadi yang keempat kalinya IMF merevisi target sepanjang
tahun ini. IMF juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2020, dari
3,5 persen menjadi 3,4 persen. Ihwal revisi yang berkali-kali itu lantaran
belum meredanya perang dagang antara AS dan Cina, sehingga berdampak
terhadap geliat ekonomi global. (tirto.id, 21/10/2019)

Salah satu imbas dari melemahnya ekonomi global dan perang dagang adalah
adanya gelombang phk massal yang terjadi dimana-mana. Perusahaan-perusahaan
besar bahkan tak luput dari ketidakpastian ekonomi global. Bank Eropa
terbesar HSBC dilaporkan akan merumahkan 10.000 pegawainya. Perusahaan
produsen komputer HP juga menyatakan bakal memangkas 16 persen dari jumlah
pegawainya. Ini merupakan bagian dari upaya restrukturisasi yang dilakukan
HP guna menghemat biaya. Dikutip dari Reuters, Sabtu (5/10/2019), HP akan
melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 7.000 hingga 9.000
pegawai melalui kombinasi antara pegawai keluar dan pensiun dini secara
sukarela. (Kompas.com, 05/10/2019).

Kondisi yang semakin tidak menentu seperti ini diprediksi akan terus
berlangsung, bahkan bisa jadi lebih memburuk. Para pengamat ekonomi
menyatakan tahun 2020 diperkirakan akan terjadi krisis ekonomi. Krisis
ekonomi ini bukan sekali terjadi, tetapi sudah menjadi siklus 10 tahunan
dalam sistem ekonomi kapitalis. Inilah sekelumit masalah dalam sistem
ekonomi kapitalisme. Tetapi kenapa masih saja dipertahankan?

Kapitalisme; Kesalahan dari Akar dan Konsekuensinya

Berbagai masalah yang terjadi dalam sistem ekonomi kapitalis tak bisa
dilepaskan dari kegagalan dalam memahami akar masalah dalam ekonomi.
Kegagalan dalam mendiagnosis masalah ekonomi tak bisa dipisahkan dari asas
yang mendasari sistem ini. Kapitalisme tegak atas dasar pemisahan agama
dengan kehidupan (sekulerisme). Ide ini menjadi aqidahnya (sebagai asas),
sekaligus menjadi *qiyadah fikriyah* (kepemimpinan berpikir) dan *qaidah
fikriyah* (kaidah berpikir).

Maka dengan kaidah berpikir seperti ini, mereka berpendapat bahwa manusia
berhak membuat aturan sendiri dalam kehidupannya. Mereka mempertahankan
kebebasan manusia yang terdiri dari kebebasan berakidah, kebebasan
berpendapat, hak milik dan kebebasan pribadi. Dari kebebasan hak milik
inilah lahir sistem ekonomi kapitalis.

Dalam sistem ekonomi kapitalisme, kepemilikan diatur atas dasar modal.
Inilah yang menajdi dasar sistem ekonomi ini, dimana kebebasan kepemilikan
memberi ruang seluas-luasnya bagi individu untuk memiliki apapun dan
menguasai kekayaan apapun, dengan cara apapun. Sehingga yang menjadi tolok
ukur perbuatan adalah manfaat. Tidak ada prinsip benar dan salah. Semua sah
asal ada manfaatnya. Prinsip ala Machiavelli dengan menghalalkan segala
macam cara untuk meraih tujuan menjadi ciri khas sistem ekonomi kapitalisme..

Dengan dasar yang seperti itu, maka tak mengherankan jika sistem
kapitalisme menciptakan banyak masalah. Seperti ketimpangan ekonomi yang
kian melebar, sulitnya lapangan pekerjaan dan phk massal, distribusi barang
dan jasa yang tidak merata, penjarahan sumber daya alam oleh para korporat
(dan asing/aseng), korupsi yang kian menggurita, hutang riba yang semakin
menumpuk sampai pada masalah kerusakan lingkungan akibat dari keserakahan
kapitalis.

Perang dagang antara AS dan China yang terjadi saat ini menunjukkan
bagaimana para elit kapitalis dengan modal besar saling beradu, sementara
masyarakat kecil dan lemah yang terkena imbasnya. Seperti hukum rimba
dimana siapa yang terkuat dialah yang akan paling banyak menguasai
sumber-sumber kekayaan yang ada. Sedangkan yang lemah akan termarginalkan
dan tereksploitasi.

Semakin besar modal yang dimiliki, maka semakin besar pula aset yang
dikuasai. Sehingga kemudian kekayaan akan menumpuk pada individu kaya dan
atau korporasi besar. Akibatnya kesenjangan antara yang kaya dengan yang
miskin semakin melebar.

Persoalan ketimpangan ekonomi selanjutnya akan berimbas pada ketimpangan
kekuasaan. Ini berkaitan dengan siapa yang membuat aturan, siapa yang
menguasai modal dan siapa yang bisa menantang status quo. Bukan rahasia
lagi jika negeri ini banyak memiliki peraturan dan undang-undang yang lebih
berpihak pada para pemilik modal ketimbang rakyat banyak. Penguasa sudah
dikuasai oleh pengusaha dengan modal tak terbatas untuk melanggengkan
posisinya. Akibatnya kebijakan yang diambil oleh penguasa cenderung
berlawanan dengan kepentingan publik dan lebih pro kepada kapitalis.

Peran negara diminimalkan, kalau bisa dihilangkan sama sekali. Kekayaan
alam yang merupakan milik umum harusnya dikelola negara untuk kepentingan
rakyat banyak justru diserahkan kepada swasta, apalagi asing. Swastanisasi
dan privatisasi kepemilikan umum sangat membahayakan kepentingan rakyat dan
negara secara umum. Dengan dikuasainya milik publik oleh selain negara
menyebabkan terjadinya monopoli oleh segelintir kapitalis. Akibatnya, hanya
sebagian kecil individu (yang kaya modal) bisa merasakan manfaatnya,
sementara sebagian besar rakyat justru tak kebagian. Selain itu masuknya
asing dalam pengelolaan SDA membuka celah terongrongnya kedaulatan negara.
Keamanan dalam negeri menjadi taruhannya.

Berbagai macam pajak dan iuran yang diterapkan oleh negara adalah bukti
nyata minimnya peran negara sekaligus salah pengelolaan negara atas urusan
rakyat. SDA yang harusnya hasilnya bisa dirasakan oleh rakyat dalam
berbagai bentuk fasilitas pelayanan publik dan pemenuhan kebutuhan pokok,
justru dinikmati oleh segelintir kapitalis dan asing. Imbasnya negara tidak
mampu memenuhi kebutuhan pokok rakyat banyak dengan alasan negara tidak
punya uang. Atau jika ada dana, itupun dari hutang luar negeri dengan bunga
yang sangat besar. Sementara hutang luar negeri itu menjadi pintu masuk
penjajahan asing.

Dan untuk membayar hutang luar negeri dibebankan kepada rakyat melalui
bermacam pajak. Pajak sendiri dijadikan sebagai sumber pendapatan utama
negara, yang artinya APBN disokong oleh pajak rakyat. Sungguh malang nasib
rakyat di alam kapitalisme ini, SDA melayang, hutang menggunung, pajak kian
mencekik. Kondisi rakyat kian terhimpit.

Sulitnya lapangan pekerjaan dan kran impor yang dibuka luas juga menjadi
masalah yang tak kunjung usai. Negara yang harusnya menyediakan lapangan
pekerjaan bagi rakyatnya justru membuka pintu masuk untuk tenaga kerja
asing. Tenaga kerja lokal harus bersaing dengan asing untuk mengais rezeki
di tanahnya sendiri. Begitu halnya dengan dibukanya kran impor, tidak
sejalan dengan pemberdayaan produk lokal. Sebuah kontradiksi tatkala
pemerintah mendorong produksi lokal untuk dikembangkan, tapi justru
dihantam oleh membanjirnya barang-barang impor dengan berbagai fasilitas
kemudahannya.

Perekonomian yang disokong dengan bunga bank (riba) tak bisa dihindarkan
dalam sistem kapitalisme. Padahal riba (bunga bank) dan berkembangnya
sektor non riil (bursa efek, pasar saham dan perangkat pendukungnya)
seringkali menjadi penyebab ketidakstabilan ekonomi karena mengakibatkan
keputusan investasi tidak terkait langsung dengan sektor riil, baik barang
dan jasa. Sehingga pertumbuhan uang lebih cepat dibandingkan dengan
pertumbuhan sektor riil. Pertumbuhan jumlah uang yang melebihi pertumbuhan
sector riil inilah yang menyebabkan terjadinya inflasi karena mengakibatkan
daya beli uang terus menurun. Selain keharamannya yang jelas dalam
pandangan Islam, riba sangat berbahaya dan merugikan rakyat banyak.

Karena itulah hidup sejahtera dan makmur dalam sistem kapitalisme adalah
sebuah fatamorgana belaka. Sesuatu yang dibangun dengan dasar yang keliru
akan menghasilkan produk yang keliru juga. Kesalahan dalam dasar pemikiran
akan menyebabkan kesalahan merumuskan masalah yang selanjutnya berdampak
pada kesalahan dalam mengaplikasikan solusi masalah tersebut.

Islam: Satu-satunya Sistem yang Shahih

Tidak seperti kapitalisme yang merupakan buatan manusia, dimana sarat
dengan kepentingan individu-individunya, hingga satu dengan yang lainnya
saling bertentangan dan bertikai tanpa akhir. Sementara Islam adalah sebuah
ideologi yang berlandaskan pada dasar pemikiran yang menyeluruh tentang
kehidupan. Sebuah ideologi yang mampu menjawab secara tuntas tentang
problematika mendasar umat manusia, yaitu darimana manusia berasal, untuk
apa manusia hidup dan kemana manusia setelah kematian. Ini adalah tiga
pertanyaan pokok bagi manusia, dan Islam mampu menjawabnya dengan jawaban
yang memuaskan akal, sesuai fitrah dan menentramkan hati. Kenapa? Karena
Islam berangkat dari wahyu Illahi, berasal dari Sang Pencipta. Adakah yang
lebih paham manusia daripada Sang Pencipta manusia? Jawabnya sudah jelas.

Karena sejatinya tiga hal itulah yang menjadi pertanyaan atau masalah besar
bagi manusia. jika manusia mampu menjawabnya dengan benar maka terjawablah
seluruh pertanyaan cabang lainnya. Dari waktu ke waktu, dari masa ke masa
tiga problematika dasar tersebut tidak pernah berubah. Yang berubah dan
berkembang adalah zaman dengan pemasalahan cabangnya. Sedang jawaban
mendasar sekaligus solusi hakikinya tetaplah sama, yaitu Islam.

Karena itulah, tidak ada solusi lain bagi permasalahan umat manusia selain
kembali pada Islam. Kapitalisme buatan manusia jelas rusak dan merusak bagi
kehidupan. Tak bisa dijadikan rujukan pemecahan masalah, apalagi
mengantarkan pada kesejahteraan yang hakiki. Tidak ada harapan dalam
kapitalisme. Selama sistem bobrok ini terus dilanggengkan, maka selama itu
pula kerusakan demi kerusakan akan terus mengiringi kehidupan manusia.
Hanya dengan penerapan syariat Islam kaaffah seluruh problematika manusia
bisa diselesaikan dengan tuntas. Karena Islam adalah aturan kehidupan yang
bersumber dari Sang Pemilik Kehidupan, Allah SWT. *Wallahu a’lam
bish-shawab*.

*Dina Wachid*
*Bagikan ini:*

Kirim email ke