+

http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/10584/_jokowi__impor_migas_kita_gede_banget


*Jokowi: Impor Migas Kita Gede Banget*

Senin , 02 Desember 2019 | 17:23


JAKARTA - Presiden Joko Widodo menginginkan agar impor minyak dan gas
dikurangi sehingga persoalan terkait defisit neraca transaksi berjalan bisa
diselesaikan.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat acara makan siang bersama wartawan di
Istana Merdeka Jakarta, Senin (2/12/2019), mengatakan selama bertahun-tahun
defisit neraca transaksi berjalan di Indonesia tak kunjung selesai.

“Karena kita tahu yang namanya impor migas gede banget. Padahal kita juga
memiliki sumur-sumur minyak yang bisa berproduksi ditingkatkan. Yang
mestinya produksinya ditingkatkan. Kalau betul-betul berkurang baru impor,
bukan menggantungkan terus pada impor dan lifting produksi minyak kita
turun terus,” kata Presiden.

Selain itu berkaitan dengan substitusi impor jika bisa diproduksi di dalam
negeri maka tak semestinya dilakukan impor.

“Contoh tadi minyak dan pembangunan kilang minyaknya, refinerynya. Sudah 30
tahun lebih kita enggak bangun satu kilang pun. Kalau kilang dibangun itu
ada turunannya nanti,” katanya.

Ia menegaskan, petrochemical turunannya banyak dan beragam sementara
Indonesia masih mengimpor petrokimia.

Padahal kata dia, kesempatan untuk membuat produk tersebut terbuka lebar
namun sayangnya tidak kunjung dikerjakan.

“Ini ada apa? Ini yang mau kita selesaikan ini. Ini gede banget ini kalau
bisa selesaikan refinery dan akan impor-impor petrokimia akan anjlok
turun,” katanya.

Selain itu, terkait bahan bakar nabati berupa campuran antara biodiesel
dengan solar baik B20, B30, maupun B50, menurut Presiden jika hal tersebut
konsisten diterapkan di dalam negeri maka dampak pertama harga minyak sawit
atau CPO Indonesia akan naik.

Hal kedua yakni impor juga akan turun karena ada produk substitusi.

“Kenapa ini enggak bisa dikerjakan bertahun-tahun? Ya karena masih banyak
yang senang impor minyak. Gampang, menyelesaikan masalah dengan impor itu
paling mudah. Untungnya juga gede. Bisa dibagi ke mana-mana. Kejadiannya
seperti itu sehingga kalau tadi bisa diselesaikan, defisit neraca berjalan
kita bisa turun,” katanya. *(E-3/ant)*

Kirim email ke