Wow ente  jadi orang kiri radikal disini ya?

Apakah ini ente yg betulan?

 

Jadi pendapat ente pengusaha kecil dan menengah itu harus tetap jadi pengusaha 
kecil dan menengah terus?

Jadi misalnya kalau pun ada profit, perusahaannya harus buang2 itu profit? 
Profit itu gak boleh digunakan utk jadi konglomerat? Kalau gitu ya pengusahan 
kecil dan menengah ini lebih parah drpd konglomerat donk? Ngerti sampe sini 
kenapa lebih parah? Karena konglomerat menolong employment. Kalau pengusaha 
kecil dan menengah tidak menggunakan profit nya utk menjadi lebih besar, 
artinya perusahaan2 ini tidak akan meningkatkan employment.

 

Lucu amat pemerintah kasih kemudahan utk bantuan modal disalahkan? Lucu amat 
hutang dan modal tambahan disalahkan?

Ngomong2 ente punya duit dibank ndak?

Kalau ada bunga itu profit loh dan profit ini adalah modal ente utk bikin bunga 
lagi loh.  Akh ane memang kebingungan hehehehe krn koq bisa memimpikah orang 
semiskin ente punya duit di bank. Tetapi orang2 laen sudah lazim sekali 
diindonesia punya rekening bank. Tolong ente jangan ngerecokin hidup orang lain 
yg pengin pake hutang, modal dan kaya ya. Jadi usil itu Namanya. Urus saja diri 
ente sendiri. Gak usah NYINYIR orang lain yg berbeda pendapat dan hidup dgn 
ente!

 

Hehehehe pembukaannya sih sudah boleh, tetapi terusannya NYINYIR konglomerat. 
Ente gak ngerti artinya konglomerat. Kalau konglomerat yg ente NYINYIR itu 
adalah orang kaya, sayang ente telah melemparkan miimpi utk menjadi miskin 
terus.

 

Sayang sayang. Jangan bentuk orang laen seperti ente. Ada orang yg pengin jadi 
kaya. Orang2 ini punya hak utk hidup kaya. Begitu juga orang2 kaya ini juga 
bisa menerima ente2 yg miskin2. Hanya saja ente yg miskin NYINYIR orang kaya. 
Lucu gak?

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Monday, December 2, 2019 8:27 PM
To: GELORA45 <[email protected]>
Subject: [GELORA45] Kekuatan Ekonomi Jerman adalah Perusahaan Menengah dan Kecil

 

  

Saat krisis moneter '96 pengusaha kecil-menengahlah yang bertahan dan 
menyelamatkan putaran ekonomi nasional. Sedangkan konglomerat bertumbangan. 
Sebagian malah kabur menggondol dana BLBI.





Atas jasa UKM tersebut pemerintah memberi kemudahan bantuan modal melalui 
program sertifikasi tanah supaya bisa digadaikan ke bank. Dengan begitu, 
ngutang modal, UKM berpeluang menjadi:

1. konglomerat (yang toh akhirnya bertumbangan itu) atau, 

2. langsung melarat lantaran sertifikat disita bank. 

 

UKM digiring untuk berlomba mimpi jadi konglomerat dengan menggadaikan harta 
bersertifikatnya, agar berani menceburkan diri dalam gelanggang terbuka 
menghadapi pemodal-pemodal besar (baca: pengutang-pengutang besar) atas nama 
persaingan bebas.

 

-

 

30 NOVEMBER 2019


Kekuatan Ekonomi Jerman adalah Perusahaan Menengah dan Kecil, Bukan Konglomerat


 

Apa rahasia kekuatan ekonomi Jerman? Ternyata bukan perusahaan raksasanya, 
melainkan perusahaan-perusahaan menengah dan kecil, yang disebut "Mittelstand"

Sektor menengah-kecil sebagai penopang utama perekonomian Jerman serta rahasia 
kestabilannya. Perusahaan-perusahaan ini dikenal giat, gesit dan pantang 
menyerah. Merekalah yang melahirkan inovasi-inovasi penting yang menjadi 
terobosan baru.

Manajer perusahaan Steffen Lange menjelaskan darimana nama perusahaan. 
"Sederhana saja kann, kata dia. "Kami berasal dari berlin. Dan kami fokus pada 
sekrup".

Tapi Berliner Schrauben tidak hanya membuat sekrup. Dia juga memproduksi pipa, 
paku dan pasak spesial, sistem penyambung kayu dan berbagai peralatan 
pertukangan dan mebel.

Kampiun ekonomi

Kategori perusahaan menengah-kecil, dalam istilah internasional disebut small 
and medium enterprises (SME), di Jerman, Austria dan Swiss disebut Mittelstand 
adalah: memiliki kurang dari 500 pekerja dan omset dari 50 juta sampai 500 juta 
euro. Di Jerman, kalangan Mittelstand ini yang sering disebut sebagai kampiun 
ekonomi, karena mereka menyerap paling banyak tenaga kerja dan menjamin 
stabilnya perekonomian.

"Profesionalisme bagi saya adalah melakukan sesuatu yang benar-benar Anda 
kuasai", kata Steffen Lange. Itu sebabnya, perusahaan profesional harus selalu 
menyesuaikan diri dengan perubahan dan kondisi zaman.

60 persen tenaga kerja di Jerman bekerja di sektor Mittelstand, yang 
menghasilkan lebih dari 50 persen PDB. Tapi sekarang, ada masalah besar dengan 
demografi Jerman. Penduduknya makin tua, sementara angka kelahiran terlalu 
rendah. Sekarang saja, Jerman sudah kekurangan sekitar 80 ribu tenaga ahli di 
berbagai bidang kerja.

Hingga kini, langkanya tenaga ahli dihadapi dengan cara mendatangkan pekerja 
migran. Di bidang politik, migrasi memang menjadi perdebatan sengit dan sering 
dimanfaatkan kelompok-kelompok ultra kanan menyulut sentimen anti orang asing. 
Namun bagi banyak perusahaan menengah kecil, tenaga kerja asing adalah faktor 
penting bagi kelangsungan usaha.

"Kami baru saja mempekerjakan tenaga kerja dari Kazakstan di pabrik kami", kata 
Steffen Lange. "Semuanya berjalan lancar sampai sekarang."

Fleksibilitas dan Efektivitas

Berliner Schrauben didirikan tahun 1947 dan sekarang memiliki sekitar 80 tenaga 
kerja di bagian kantor dan pabrik. Di bagian pabrik seluas 5500 m2 hanya ada 
tenaga kerja lelaki.

"Kami tidak boleh mempekerjakan perempuan di pabrik," kata Steffen Lange. "UU 
Kerja di Jerman melarang perempuan mengangkat beban lebih dari 12,5 kg. 
Sedangkan sekrup dibuat dari besi. Besi punya bobot sangat berat. Itu sebabnya 
kami tidak boleh (mempekerjakan perempuan)."

"Jadi memang ada UU Anti Diskrimnasi. Kami dilarang membeda-bedakan tenaga 
kerja berdasarkan jenis kelamin atau agamanya.. Tapi UU Kerja menetapkan bahwa 
kami tidak bisa mempekerjakan perempuan untuk pabrik kami", jelasnya.

Memang perusahaan menengah kecil sering berhadapan dengan masalah adminsitrasi 
dan undang-undang, yang juga sering berbeda dari satu negara bagian dengan 
negara bagian yang lain.

Pusat Logistik Berliner Schrauben misalnya ada di luar Berlin, di negara bagian 
Brandenburg. Karena di brandenburg, biaya pembuangan sampah pabrik lebih murah.

"Jadi dari pabrik di Berlin, sampah-sampah kayau harus kami bawa ke 
Brandenburg, karena biaya pembuangan sampah kayu di sana lebih murah. Tapi 
untuk sampah logam, kebalikannya, di Berlin lebih murah. Itu sebabnya kami 
harus bolak-.balik dari Berlin ke Brandenburg", kata Steffen Lange.

Sejak 2015, peemrintah Jerman mengupayakan sistem satu aturan untuk 
negara-negara bagian. Tapi masih banyak kekecualian, karena ada pembagian 
kewenangan yang ketat antara pemerintahan federal dan pemerintahan negara 
bagian. Selain itu, ada juga aturan Uni Eropa yang harus diperhatikan

Yang jelas, perusahaan menengah kecil harus bisa bereaksi dengan fleksibel, dan 
bekerja seefektif mungkin untuk bisa bersaing di pasaran global. Tahun 2017, 
pada perayaan 70 tahun pendiriannya, Berliner Schrauben membuka toko sendiri di 
Hoppegarten, di luar kota Berlin. Sejak 2008, perusahaan ini juga sudah 
bergerak di bidang e-business dengan penjualan lewat internet. Ada lebih 
100.000 produk yang dipasarkan perusahaan keluarga ini, dengan lebih 10.000 
pelanggan tetap dari berbagai sektor industri.

 



Kirim email ke