Rakyat Menjerit, Negara Beli-Buang Beras Dengan Uang Rakyat
http://politiktoday.com/2019/12/rakyat-menjerit-negara-beli-buang-beras-dengan-uang-rakyat/
By
Politik Today <http://politiktoday.com/author/administrator/>
-
3 December 2019
0
<http://politiktoday.com/2019/12/rakyat-menjerit-negara-beli-buang-beras-dengan-uang-rakyat/#respond>
<http://politiktoday.com/wp-content/uploads/2019/12/petani.jpg>
Semakin hari, beban hidup rakyat bawah semakin berat. Ekonomi selama
lima tahun belakang hanya sebatas baris berbaris. Sesekali improvisasi
lancang depan, kanan, kiri, dan istirahat di tempat. Meskipun fakta
ekonomi seperti itu, rakyat hanya menurut ketika aba-aba hormat kepada
pembina upacara, meskipun sesekali menguap karena perut yang kosong
tanpa sarapan pagi.
Dengan keadaan seperti itu, tidak akan tertutup kemungkinan banyak
peserta yang akan tumbang. Apalagi singgasana pembina upacara yang teduh
membuatnya mampu berlama-lama menyampaikan pidato kenaikan BPJS
Kesehatan, tarif dasar listrik (TDL), dan kenaikan tarif lainnya di
tahun depan. Pembina upacara hanya berpikir bahwa pidatonya harus
berbobot dan penuh wibawa agar ia tetap dihormati.
Namun, di balik pengorbanan itu, perut yang keroncongan, harus ditambah
pula dengan air ludah yang terasa berat untuk ditelan karena melihat
hidangan disinggasana pembina upacara yang serba berkecukupan. Para tamu
undangan yang duduk bersebelahan dengan pembina upacara dengan santai
meneguk air mineral dingin dan hidangan yang tersedia di meja. Jarak
yang terpaut cukup jauh memang membuat pembina upacara dan tamu undangan
disinggasana tidak terlalu memperdulikan peserta upacara yang mulai
berkunang-kunang.
Parahnya, selepas acara selesai, semua bubar begitu saja. Pembina dan
tamu undangan meninggalkan remah sisa makanan. Satu dua, masih ada
makanan yang sebenarnya layak untuk dibagikan. Tapi karena aturan
protokoler, semua sisa makanan itu diangkut oleh petugas kebersihan dan
dibuang begitu saja. Para peserta yang menahan diri agar upacara
berjalan dengan baik, hanya diberi selembar amplop.
Pada Juli 2019, data BPS menunjukkan angka kemiskinan menurun ke
angka/single digit/. Meskipun demikian, data dari/Investor
Daily/menunjukkan jumlah penduduk miskin dan rentan miskin masih cukup
besar. Jumlahnya mencapai 78,44 juta atau 29,36 persen dari total
penduduk Indonesia. Salah satu penyebab tingginya angka kemiskinan
disebabkan minimnya akses penduduk miskin terhadap faktor produksi.
Baca juga Direktur BUMN Terjerat OTT KPK
<http://politiktoday.com/2019/03/direktur-bumn-terjerat-ott-kpk/>
Minimnya lapangan kerja dan beratnya tanggungan hidup di tahun depan
tidak menutup kemungkinan akan membuat kesenjangan semakin melebar.
Penduduk rentan miskin bisa terjerambab ke dalam kemiskinan, sedangkan
penduduk miskin bisa jatuh lebih dalam kepada kemiskinan ekstrem.
Sementara itu, segelintir orang yang menguasai faktor produksi
tenang-tenang saja menikmati kekayaannya sambil sesekali ‘melepehkan’
recehan untuk si miskin sebagai bentuk kepedulian.
Sementara itu, anggaran yang dimiliki pemerintah, yang harusnya
dipergunakan untuk kepentingan hajat hidup orang banyak malah
dihamburkan begitu saja. Pemerintah yang bertekad swasembada pangan
malah justru membuka kran impor beras besar-besaran. Triliunan rupiah
dikeluarkan untuk membeli beras impor dan membunuh petani lokal.
Ada rumor yang mengatakan, itu hanya permainan mafia impor yang
menguntungkan beberapa pihak. Tapi apa peduli, beras impor bak seputih
salju itu disetujui pemerintah. Dan kini, beras itu membusuk. Tertumpuk
di dalam gudang dan hendak dimusnahkan. Lagi, uang rakyat juga yang
harus dikeluarkan untuk memusnahkannya. Beli-Buangberas
<http://politiktoday.com/?s=beras>dengan uang rakyat.
Jika pemerintah hanya melayani keinginan sekelompok orang yang
bersenang-senang dengan impor, kapan pemerintah berpikir mensejahterakan
rakyatnya, mewujudkan swasembada pangan, membuka lapangan kerja, dan
menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?
Inilah ironi yang terjadi hari ini. Menjalankan pemerintahan tanpa
peduli apa yang dirasakan rakyatnya. Ingin terlihat wibawa tanpa melihat
kondisi (ekonomi) rakyatnya yang sempoyongan. Ingin terlihat gagah dan
disegani dengan mencukupi hidangan para tamu undangan (kesenjangan
sosial). Sementara itu, rakyatnya untuk menelan air liur saja terasa
berat (kemiskinan dan beban ekonomi).
Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan