Kritik Tol Laut, Faisal Basri: Ceritanya Sudah Enggak Ada
Reporter:
Francisca Christy Rosana
Editor:
Ali Akhmad Noor Hidayat
Rabu, 11 Desember 2019 09:35 WIB
Faisal Basri. TEMPO/Jati MahatmajiFaisal Basri. TEMPO/Jati Mahatmaji
*TEMPO.CO, Jakarta*– Ekonom senior dari Universitas Indonesia, Faisal
Basri, mengkritik implementasi programtol laut
<https://www.tempo.co/tag/tol-laut>yang tak terlampau berdampak
mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Pandangan itu ia sampaikan kala menjadi
pembicara dalam dialog dengan para pakar di kantor Kementerian Keuangan,
Selasa, 10 Desember 2019.
Mengutip data sigi Badan Pusat Statistik, ia menuturkan, transportasi
laut hanya menyumbang 0,3 persen dari keseluruhan pendapatan produk
domestik bruto atau PDB. Angka ini jauh lebih rendah ketimbang
kontribusi transportasi sisi darat dan udara.
Menurut data yang sama, transportasi udara menyumbang kontribusi 1,6
persen terhadap PDB dan transportasi darat 2,4 persen. “Tol laut sudah
enggak ada ceritanya. Ke mana kapalnya kita sudah enggak tahu,” ujar Faisal.
Padahal, tol laut adalah program yang digadang-gadang menjadi salah satu
Nawa Cita Presiden Joko Widodo atau Jokowi pada pemerintahan jilid
pertamanya dulu untuk menghidupkan kembali sektor maritim. Pembiayaannya
pun masih terus disubsidi oleh anggaran pendapatan dan belanja negara
atau APBN.
Faisal kemudian menilai program tol laut yang kurang moncer merupakan
salah satu yang membuat Jokowi tak berselera lagi menggarap sektor
maritim. “Pak Jokowi enggak pernah ngomong laut lagi. Pak Jokowi udah
enggak selera lagi,” ujarnya.
Kementerian Perhubungan sebelumnya mengklaim tol laut dapat melorotkan
disparitas harga barang dan jasa, khususnya di bagian timur Indonesia.
Karena dianggap perlu dilanjutkan, kementerian pun masih bakal
menggelontorkan subsidi pada 2020 sebesar Rp 436 miliar.
Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kementerian Perhubungan Wisnu
Handoko beberapa waktu lampau mengatakan anggaran subsidi tol laut
meningkat sekitar Rp 136 milar ketimbang tahun ini. "Anggaran tol laut
tahun ini Rp 300 miliar. Awalnya Rp 222 miliar, tapi karena kita gunakan
efisiensi dari berbagai sumber, jadi meningkat Rp 300 miliar," tuturnya
awal November lalu.
Kementerian Perhubungan meningkatkan nilai subsidi tol laut pada tahun
depan lantaran bakal ada penambahan trayek tol laut. Wisnu berujar, pada
2020, pemerintah bakal memperluas rute tol laut menjadi 26 trayek.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub, rute tol
laut hingga akhir 2019 tercatat sebanyak 20 trayek.
Sebanyak tujuh trayek dioperasikan oleh perusahaan pelat merah, yaitu
lima trayek oleh PT Pelni Persero dan dua lainnya oleh PT ASDP Indonesia
Fery. Sedangkan sisanya dilelang untuk swasta.
Untuk realisasi rute 2020, Wisnu mengatakan sebagian trayek akan
dilelang kembali kepada swasta dan sisanya bakal dioperasikan oleh ASDP
dan Pelni. Namun, ia belum merinci berapa jumlah trayek yang akan dibuka
untuk lelang.
FRANCISCA CHRISTY ROSANA