Ada alasan yang lebih menentukan masalah pembusukan beras Bulog seperti yang dikupas pada artikel pengamat politik dan ekonomi dari Universitas Airlangga, Ichsanuddin Noorsy spt berikut ini:
20 Ribu Ton Beras Busuk, Bukti Buruknya Kebijakan dan Egoisnya Penguasa Politik SELASA, 03 DESEMBER 2019 , 06:33:00 WIB | LAPORAN: RMOL NETWORK LJatim. Membusuknya 20 ribu ton beras senilai Rp 160 miliar yang disimpan di gudang Bulog dan segera dimusnahkan, diduga kuat akibat kebijakan impor beras yang dilakukan oleh mantan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Pengamat politik dan ekonomi dari Universitas Airlangga, Ichsanuddin Noorsy menilai dampak impor tersebut merupakan bentuk kegoisan penguasa. "Membuktikan buruknya kebijakan dan egoisnya kekuasaan," kata Ichsan melansir Kantor Berita Politik RMOL, Senin (2/12). Selain itu, Ichsan juga menilai bahwa pemusnahan ribuan ton beras adalah bukti ketahanan pangan dalam negeri gagal. Ia membeberkan hukum besi ekspor impor dalam sudut pandang makro ekonomi. Poin pertama yang harus diperhatikan adalah informasi asimetris di dalam pemerintahan. Salam. Lusi.- Am Wed, 11 Dec 2019 23:51:00 +0100 schrieb "kh djie [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>: > Agak aneh, kok bisa beras membusuk ?. Sistem pergudangan biasanya > First in, First out. > Barang yang lama, harus dikeluarkan, dipakai dulu. > Selain itu gudang mestinya didesinfeksi dulu, dan kadar uap air diatur > dengan airco. > Kok bisa ada beras membusuk. Salahnya di mana? Belum kering sudah > disimpan atau sebab lain? > Atau sekedar berasnya ditumpuk, dan yang terbaru jusru dibongkar dulu > dan dipakai? > Tidak pakai sistim karung beras ditaruh di tumpuk di pallet yang > dilengkapi jeruji. > Dan ditumpuk di sekat2 dengan hefttruck ? > > Pada tanggal Kam, 5 Des 2019 pukul 10.31 Sunny ambon > [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis: > > > > > > > *Beras sudah mendekati daluwarsa (mendekati waktu busuk)?* > > > > > >
