-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://news.detik.com/kolom/d-4826179/menangkap-semangat-generasi-milenial?tag_from=wp_cb_kolom_list


               Kolom

Menangkap Semangat Generasi Milenial

Hatim Gazali - detikNews
Selasa, 17 Des 2019 16:02 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Presiden Jokowi ajak dua stafsus milenial, Gracia Billy Mambrasar dan Adamas 
Belva Syah Devara, dalam kunker ke Cilegon (Foto: Istimewa)
Presiden Jokowi ajak dua stafsus milenial, Gracia Billy Mambrasar dan Adamas 
Belva Syah Devara, dalam kunker ke Cilegon (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Yang muda memberikan harapan, yang tua menawarkan kebijaksanaan. Yang muda 
miskin pengalaman, yang tua lemah kreativitas. Demikian anggapan kebanyakan 
orang.

Dengan nyali dan tekat yang kuat, anak muda tak takut jatuh dan gagal. 
Keyakinan akan rentang hidup yang lebih panjang menguatkan optimisme bahwa 
selalu ada ruang untuk memperbaiki kesalahan. Kemampuan terbesar yang dimiliki 
adalah mencoba kebaruan, sehingga miskin pengalaman bukan menjadi soal.

Dengan modal asam garam kehidupan, orang tua mampu berhitung cermat sehingga 
rencana-rencananya dapat terwujudkan. Kebijaksanaan yang dimilikinya menjadikan 
langkahnya mudah diterima orang.

Begitulah, harapan dan kekhawatiran yang muncul di benak publik ketika Presiden 
Joko Widodo mengumumkan tujuh Staf Khusus Presiden (SKP) milenial. Sebagian 
menaruh harap terjadinya perubahan dan terobosan darinya. Namun, sebagian 
lainnya mengirim pesan cemas karena mereka dianggap fakir pengalaman. Respons 
serupa juga tertuju kepada Staf Khusus Wakil Presiden yang secara umum berusia 
"senior".

Dikotomi Usia

Jika kita meminjam kebijaksanaan yang dimiliki umumnya orang tua tentu kita tak 
perlu cemas berlebihan. Benar bahwa anak muda miskin pengalaman, tetapi ia 
memiliki keberanian dan terobosan. Kesuksesan tak serta merta ditentukan 
seberapa panjang pengalaman yang dilewati, tetapi seberapa ia mampu 
merefleksikan dan mengambil pelajaran dari setiap jengkal perjalanan hidupnya.

Sidharta Gautama, pendiri agama Buddha itu mengajarkan hal ini. Sama seperti 
manusia pada umumnya, Buddha Gautama menyaksikan peristiwa yang terjadi pada 
manusia: tua, sakit, dan mati. Namun, tak banyak di antara kita mampu menangkap 
makna di balik peristiwa itu. Karena itu, Sidharta Gautama memilih bertapa 
(samadhi) mengasingkan diri dari kemewahan, istana dan keduniawian, hingga 
akhirnya ia mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samma sam-Buddha di usia 
35 tahun.

Nabi Muhammad pun melakukan proses yang serupa; mengasingkan diri dari 
kebisingan duniawi di Gua Hira, hingga akhirnya Malaikat Jibril mendatangi 
Muhammad di umur 40 tahun untuk menyampaikan wahyu Tuhan. Nabi Ibrahim pun 
melalui pemikiran yang mendalam tentang fenomena alam, dari berpikir tentang 
matahari di siang hari sampai bulan di malam hari, menjadikannya ia sampai pada 
keyakinan hakiki akan kebenaran Allah (QS. Al-An'am:75-79).

Dengan demikian, kearifan dan kebijaksanaan tak ditentukan seberapa banyak umur 
yang dimiliki, seberapa panjang liku-liku kehidupan yang dilewati, tetapi 
seberapa dalam kemampuan untuk merefleksikan dan mengambil makna kehidupan. Tak 
ada jaminan orang yang lebih tua pasti lebih bijaksana. Begitu juga, tak 
seorang bisa menjamin bahwa orang yang lebih muda pasti tidak bernyali 
ketimbang yang lebih tua.

Karena itulah, dalam merespons diangkatnya 7 SKP milenial, sekaligus Staf 
Khusus Wakil Presiden senior tersebut, kita perlu keluar dari dikotomi usia 
tua-muda. Yang perlu kita cermati bukan usianya, tetapi apa visi dan mimpinya 
untuk melakukan lompatan-terobosan besar demi kemajuan Indonesia. Telah banyak 
contoh bagaimana anak muda meraih sukses, sebagaimana juga telah banyak teladan 
kesuksesan oleh orang yang lebih tua.

Menangkap Milenial

Sebagai jabatan politik yang dipilih langsung oleh presiden, diangkatnya 7 SKP 
milenial diharapkan bukan sekedar aksesoris atau gimmick politik dengan tujuan 
pencitraan keberpihakan kepada milenial, sebagaimana yang dikhawatirkan banyak 
pihak. Begitu juga, tak perlu cemas berlebihan terhadap dipilihnya sejumlah 
tokoh senior sebagai Staf Khusus Wakil Presiden.

Agar tak dituding sebagai gimmick politik ataupun sebagai balas jasa, maka 
Presiden sekurang-kurangnya perlu melakukan dua hal penting. Pertama, 
memberikan tugas-tugas khusus kepada masing-masing staf khusus beserta 
indikator kinerja utama (key performance indicators) yang spesifik dan terukur, 
sehingga masyarakat dapat memberikan penilaian secara objektif. Tanpa ada tugas 
khusus, staf khusus yang diharapkan sebagai "teman diskusi" tersebut tidak 
sesuai dengan semangat perampingan di tubuh pemerintahan serta menjadi beban 
negara. Jika mengacu kepada Perpres No 144/2015, besaran gaji Staf Khusus 
Presiden sebesar Rp 51 juta yang jika dikalikan 14 menjadi Rp 714 juta per 
bulan. Ini belum termasuk asisten dari staf khusus tersebut.

Kedua, menghadirkan semangat dan atmosfer kerja milenial yang mengandalkan 
kreativitas, inovasi, dan kecepatan lebih penting ketimbang menghadiahkan 
jabatan kepada kelompok milenial. Seperti kita mafhum, struktur dan mekanisme 
kerja birokrasi kita masih cenderung konvensional, seremonial, dan bahkan 
feodal.

Dalam kerangka ini, perlu reformasi sistem kerja pemerintah, kementerian, dan 
lembaga. Sistem kerja berbasis target yang jelas, mengandalkan kolaborasi, 
berbasis teknologi, dan mengedepankan kreativitas-inovasi, dan memotong jalur 
birokrasi yang panjang harus menjadi budaya kerja pemerintah, kementerian, dan 
lembaga.

Ini penting, karena dalam waktu singkat, Indonesia akan menikmati bonus 
demografi di mana jumlah penduduk usia produktif berada pada posisi tertinggi. 
Tanpa menghadirkan dunia yang ramah terhadap perkembangan kelompok milenial 
maka bonus demografi itu hanya menjadi mitos belaka. Dampaknya, para milenial 
akan semakin "jera" dengan dunia politik yang selalu dikonotasikan sebagai 
dunia yang korup dan kaku.

Akhirnya, sembari menunggu terobosan dan inovasi pemerintah melalui "bisikan" 
para staf khusus ini, keterpilihan anak-anak muda yang bukan dari makhluk 
politik sebagai SKP perlu disambut dengan baik sebagai cara presiden untuk 
"menyapa" kelompok milenial yang pada pilpres kemarin (2019) mencapai 30% dari 
jumlah pemilih.

Hatim Gazali dosen Universitas Sampoerna, aktif di Rabithah Ma'ahid Islamiyah 
PBNU



(mmu/mmu)
generasi milenial
stafsus milenial







Kirim email ke