China Kecam WSJ, Sebut Laporan soal Uighur Fitnah dan Keliru
CNN Indonesia | Kamis, 19/12/2019 07:39 WIB
Bagikan :
China Kecam WSJ, Sebut Laporan soal Uighur Fitnah dan KeliruIlustrasi
demo bela Uighur. (AFP Photo/Timothy A. Clary)
Jakarta, CNN Indonesia --*China
<https://www.cnnindonesia.com/tag/china>* membantah dan mengecam
laporan/The Wall Street Journal/(WSJ) yang menuding Beijing merayu
sejumlah organisasi Islam Indonesia dengan donasi dan bantuan finansial
agar tak lagi mengkritik kebijakan terhadap
etnis*Uighur*<https://www.cnnindonesia.com/tag/uighur>di Xinjiang.
Kedutaan Besar China di Jakarta memaparkan laporan/WSJ/itu telah
memfitnah upaya Tiongkok dalam mempertahankan kedaulatan negara,
menegakkan hak asasi manusia, serta menjalankan program anti-teror dan
deradikalisasi di Xinjiang.
"Laporan itu sengaja menyampaikan penafsiran keliru terhadap kontak dan
aktivitas normal antara Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia dengan
Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, MUI, serta berbagai kalangan lainnya
di Indonesia. Kami menyatakan kecaman keras dan penolakan tegas terhadap
laporan tersebut," bunyi pernyataan kedubes China melalui situs resminya
pada Kamis (19/12).
Lihat juga:
Media Asing: China Rayu Ormas Islam RI Agar Diam soal Uighur
<https://www.cnnindonesia.com/internasional/20191212202601-106-456537/media-asing-china-rayu-ormas-islam-ri-agar-diam-soal-uighur/>
Dalam artikel berjudul 'How China Persuaded One Muslim Nation to Keep
Silent on Xinjiang Camps',/WSJ/memaparkan China menggelontorkan sejumlah
donasi dan program beasiswa terhadap sejumlah ormas Islam RI seperti NU
dan Muhammadiyah ketika isu Uighur mencuat sekitar akhir 2018 lalu.
Isu Uighur kembali mengemuka di Indonesia setelah laporan kelompok HAM
internasional menuding China menahan sekitar satu juta etnis Uighur
dalam sejumlah penampungan layaknya kamp konsentrasi di Xinjiang.
China melalui kedubesnya di Jakarta disebut membiayai puluhan tokoh NU,
Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), sejumlah wartawan, hingga
akademisi Indonesia untuk berkunjung ke Xinjiang.
Usai serangkaian kunjungan ke Xinjiang berlangsung, sejumlah ormas Islam
RI dikatakan tak lagi nyaring dalam menyuarakan keprihatinan mereka
terkait dugaan persekusi dan diskriminasi yang diterima etnis Uighur
dari pemerintah China.
Sebelum "pendekatan" kedubes China berlangsung ormas-ormas itu disebut
lantang menyuarakan dugaan persekusi yang diterima Uighur.
Sebagai contoh, sekitar akhir 2018 lalu Muhammadiyah mengeluarkan surat
terbuka yang mengangkat keprihatinan nasib Uighur di China.
Lihat juga:
Pertahanan AS Fokus pada Kekuatan Militer China dan Rusia
<https://www.cnnindonesia.com/internasional/20191215193425-134-457193/pertahanan-as-fokus-pada-kekuatan-militer-china-dan-rusia/>
Namun, melalui rilisnya lagi pada Februari lalu, salah satu ormas Islam
terbesar di Indonesia itu membantah bahwa pemerintah China telah menahan
jutaan etnis Uighur di sejumlah kamp penahanan di Xinjiang.
Muhammadiyah, NU, dan MUI membantah seluruh tudingan/WSJ/itu.
China juga mengatakan undangan mengunjungi Xinjiang adalah hal lumrah.
Beijing menuturkan pemerintah Tiongkok telah mengundang lebih dari
seribu pejabat pemerintahan asing, organisasi internasional, awak media,
ormas agama, dan akademisi dari lebih 70 negara, termasuk Indonesia, ke
Xinjiang sejak akhir 2018.
Lihat juga:
China Kebakaran Jenggot Usai Dokumen Soal Uighur Bocor
<https://www.cnnindonesia.com/internasional/20191216162226-134-457431/china-kebakaran-jenggot-usai-dokumen-soal-uighur-bocor/>
"Para undangan itu banyak memuji bahwa pengalaman anti-teror dan
deradikalisasi di Xinjiang patut dipelajari dan diteladani," kata
kedubes China.*(rds/dea)*