MEMAHAMI PANCASILA DENGAN KACAMATA EKOLOGI-SOSIAL
Disamping ekologi-dalam, ekologi sosial adalah salah satu aliran filosofi yang penting dalam konteks ekologi.Untuk Memahami Pandangan ekologi sosial kita harus siap melakuknan Perubahan Paradigma. Perubahan paradigma bukan hanya menghendaki suatu perluasan dalam persepsi-persepsi dan cara-cara berpikir kita, tetapi juga menyangkut nilai-nilai kita. Apa yang kita lihat di jaman modern sekarang ini, perubahan-paradigma bukan hanya yang berlangsung dalam ilmu pengetahuan, tapi juga dalam ranah sosial. Perubahan kultural ini diperlukan karena paradigma lama, yaitu paradigma mekanistik (Cartesian) yang kini telah mendominasi kebudayaan manusia selama beberapa ratus tahun lamanya, yang selama itu telah membentuk suatu masyarakat Barat modern yang berdampak kuat bagi ketenangan dunia. Paradigma lama ini terdiri dari sejumlah ide-ide dan nilai-nilai yang mengungkung budaya manusia, diantaranya adalah: Pandangan alam semesta sebagai suatu sistem mekanik yang tersusun dari pilar-pilar dasar bangunan, yang menganggap dunia sebagai mesin, demikian juga manusianya, juga di pandang sebagai mesin. Pandangan seperti itu dihasilkan oleh penemuan-penemuan baru dibidang fisika, astronomi dan matematika, yang dikenal sebagai Revolusi Ilmiah, dan dihubungkan dengan nama-nama seperti Copernikus, Galileo, Decartes, Bacon dan Newton; Yang mewakili pandangan dunia abad ke 19. Pandangan Dunia seperti itu sejak abad ke 20 terus dikembangkan dalam teori-teori tentang materi. Konsep-konsep baru dalam fisika telah menimbulkan perubahan mendalam, dalam pandangan dunia, dari pandangan dunia mekanistik menjadi pandangan holkistik, dan ekologis, yang mewakili Paradigma baru, yaitu : Paradugma Ekologi, yang didalamnya mengandung 2 bentuk ekologi, yaitu : 1.Pandangan Ekologi-Dangkal. Ekologi-dangkal adalah bersifat antroposentris, atau berpusat pada manusia.. Memandang manusia berada diatas atau diluar alam, sebagai sumber nilai, sedangkan alam dianggap bersifat instrumental atau hanya memiliki nilai ´guna` saja. Pandangan ekologi-dangkal ini tercermin dalam sikap pemerintah Indonesia era Jokowi jilit ke.2 dalam kontels pembangunan infrastrutur, tanpa dilengkapi Amdal (Analisis mengenai dampak lingkungan), Ini berarti bahwa pemerintah Jokowi jilit ke-dua meskipun mengaku telah mengibarkan tinggi-tinggi bendera Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP),tapi dalam konteks pembangunan infrastruktur, menurut pengamata saya nampaknya BPIP secara hakekat belum melek Pancasila. Melek Pancasila dalam kontels ini berarati semua pembangunan infrastruktur harus dilengkapi Amdal. Menurut pengamatan saya dewasa ini masalah lingkungan adalah merupakan masalah politik dunia internasional, maka perkembangan dalam teknologi semakin menuntut penggunaan energi yang efisienn dan managemen kenyamanan lingkungan, Ini berarati bahwa semua pembangunan infrastruktur harus dilengkapi Amdal. Tapi sayangnya beberapa pembangunan infrastruktur di beberapa titik di Jakarta tidak dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Akibatnya muncul berbagai macam masalah lalu lintas (lalin). Seperti yang tercermin dalam berita yang tertera dalam attach terkait (JAKARTA.ODT) <https://www.netralnews.com/news/tag/halim%20pagarra> Dewasa ini kita sedang menghadapi dampak-dampak konkrit dari pelaksaanaan ekologi dangkal yang telah menyebabkan terjadinya konflikkonflik ekologi, yang dampaknya telah membahayakan biosfer (Biosfer adalah bagian luar dari planet Bumi, mencakup udara, daratan, dan air, yang memungkinkan kehidupan dan proses biotik berlangsung). Atau secara singkat dapat dikatakan bahwa Biosfer adalah lapisan udara yang menindungi Bumi. <https://www.netralnews.com/news/tag/halim%20pagarra> <https://www.netralnews.com/news/tag/halim%20pagarra> 2. Pandangan Ekologi-Dalam. <https://www.netralnews.com/news/tag/halim%20pagarra> Ekologi-dalam tidak memisahkan manusia atau apapun dari lingkungan alamiah. Benar-benar melihat dunia sebagai kumpulan objek-objek yang terpisah, tetapi sebagai suatu jaringan fenomena yang saling berhubungan dan saling bergantung satu sama lain secara fundamental. Ekologi-dalam mengakui nilai intrinsik (hakekat) semua mahluk hidup dan memandang manusia tak lebih dari satu untaian dalam jaringan kehidupan.(Fritjof Capra The Web of Life) <https://www.netralnews.com/news/tag/halim%20pagarra> Menurut pengamatan saya, kesadaran ekologis yang mendalam (ekologi-dalam) adalah sebagai kesadaran spirituil atau religius, yang senafas dengan sila pertama Pancasila. Ini berarti ketika konsep tentang jiwa manusia dimengerti sebagai pola kesadaran dimana individu merasa dirinya memiliki adanya rasa keberhubungan kepada kosmos sebagai suatu sistem keseluruhan dalam alam semesta yang teratur atau harmonis, maka jelaslah bahwa kesadaran ekologis bersifat spirituil dalam esensinya yang mendalam. Yang secara religius disebut bahwa setiap individu manusia mempunyai keberhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itulah, maka semua pembangunan infrastruktur harus dilengkapi dengan Amdal, yang senafas dengan ekologi-dalam yang terkandung dalam Pancasila. Tapi sayanya yang kita saksikan sekarang ini adalah Pancasila telah ditafsirkan menurut ideologi neoliberalisme (neolib), yang menghalalkan pembangunan infrastruktur tidak perlu dilengkapi dengan Amdal, ini berarti bahwa kebijakan pembangunan infrastruktur di Indonesia dewsa ini hanya di laksanakan sesuai dengan ekologi-dangkal, yang anti Pancasila. Penomena seperti itu telah menunjukkan bahwa rezim yang berkuasa di NKRI belum memahami hakekat Pancasila secara mendalam, segingga terjalikah konflik ekologi dan ekonomi, yang dampaknya adalah pencemaran alamsemesta. <https://www.netralnews.com/news/tag/halim%20pagarra> Sistem Kapitalis Neiliberal (Neolib) inilah yang sekarang diparaktekan di NKRI oleh rezim-rezim ´´Reformasi`` yang silih berganti, yang 100% bermuatan sifat anti ekologi-dalam, khususnya dalam konteks struktur-struktor sosial ekonomis, ini termanifestasikan dalam bentuk : >exploitation de l´homme par l´homme< (penghisapan manusia atas manusia) yang tercermin dalam sistem penjualan buruh murah bangsa Indonesia (baca:perbudakan model baru) yang antara lain termanifestasikan dalam bentuk TKI/TKW, korupsi besar-besaran yang didukung oleh budaya KKN ciptaan orde baru, selain itu juga melakukan perusakan genetika sumber-sumber daya alam, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia, yang tercermin dalam penomena penggundulan Hutan lindung kawasan Gunung Slamet, dalam pelaksanaan proyek infrastruktur dalam konteks Pembangunan Listrik Tenaga Panas (PLTP ) Baturraden Gunung Slamet, perampasan lahan pertanian, disulap menjadi bandara seperti di Sukamulya Majalengka dan di Kulonprogo dan perampasan lahan pertnian di sekitar gunung Kendeng yang dirusak sumber airnya demi kepentingan pabrik semen, yang di aminni oleh pak presiden, dan masih manyak lagi pelanggaran-pelanggaran AMDAL yang lainnya. <https://www.netralnews.com/news/tag/halim%20pagarra> <https://www.netralnews.com/news/tag/halim%20pagarra> Kecuali itu partek ekologi dangkal yang dilakukan oleh rezim-rezim reformasi adalah menguras dan menjual habis-habisan sumber-sumber daya kekayaan alam bumi Indonesia pada pihak asing (cermati: Freeport Perpanjangan sampai 2041,dan Exxon Mobil blok Cepu); yang seharusnya digunakan sebagai cadangan-cadangan strategis untuk kemakmuran rakyat Indonesia yang berkelanjutan; telah disajikan pada pihak asing, untuk memenuhi kepentingan industri-industri raksaya di negara-negara Neolibral. Penomena-penomena seperti tersebut diatas akan terus berlanjut selama kehidupan NKRI ini terus targantung dari Utang Luarnegeri dan modal asing. <https://www.netralnews.com/news/tag/halim%20pagarra> <https://www.netralnews.com/news/tag/halim%20pagarra> Inilah yang terjadi di negara kita dibawah kekuasaan kaum penganut setia yang latah pada >holargi-globali-ekonomi pasar bebas< yaitu para elite bangsa Indonesia pendukung faham neoliberal yang di Indonesia diwakili oleh rezim-rezim ``reformasi`` , yang didukung oleh partai-partai politik busuk dan korup di DPR RI. Jadi tidak mengherankan jika kemiskinan di NKRI semakin menggunung!! Karena NKRI yang Merdeka telah dirubahnya menjadi NKRI yang terjajah oleh kapitalisme neoliberal pimpinan A. S; yang pelakunya adalah golongan oligarki ekonomi, yaitu kelompok eksekutif ekonomi besar (konglomerat-konglomerat) yang mendominasi kekuasaan politik di NKRI, yang berkolaborasi dengan kaum Neoliberal asing pimpinan imperialsme AS. <https://www.netralnews.com/news/tag/halim%20pagarra> Kesimpulan akhir : <https://www.netralnews.com/news/tag/halim%20pagarra> Menyadari kesaling tergantungan ekologis berarti memahami hubungan-hubungan. Ia memerlukan peruhaban persepsi yang mencirikan pemikiran sistem. Jadi merubah paradigma berarti harus membuang pandangan Cartesian (polapikir mekanistil) dan menganti dengan pandangan yang menggunakan pandangan holistik ,ekologi-dalam dan pemikiran sistem. <https://www.netralnews.com/news/tag/halim%20pagarra> Dalam masalah ini saya berpendapat bahwa, hanya dengan kesadaran Ekologi khususnya ekologi-dalam kita bangsa Indonesai yang melek Pancasila akan dapat memberantas secara mendasar proses terjadinya kemiskinan dan pemiskinan; menjalankan secara konsekuen pasal 33 UUD 45, yaitu Pasal 33 UUD 45, dan Amanat penderitaan rakyat serta menolak praktek-praktek kapitalis Neoliberal, yang mengaminni praktek-praktek >exploitation de l´homme par l´homme< yang menjadi sebab utama terjadinya kemiskinan di seluruh NKRI. Menolak semua kegiatan yang anti ekologi-dalam (AMDAL) yang dampaknya cenderung merusak ekosistem- dunia, yang mendorong terjadinya bencana alam ciptaan manusia, yang tidak hanya merugikan kehidupan kita,tetapi juga kehidupan generasi-generasi masa depan kita. <https://www.netralnews.com/news/tag/halim%20pagarra> Roeslan
JAKARTA.ODT
Description: application/vnd.oasis.opendocument.text
