-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://news.detik.com/kolom/d-4830275/un-dihapus-bukan-kiamat-dunia-pendidikan?tag_from=wp_cb_kolom_list

Kolom

UN Dihapus Bukan Kiamat Dunia Pendidikan

Tamsil Linrung - detikNews
Jumat, 20 Des 2019 15:33 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Selamat tinggal, Ujian Nasional! (Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom)
Selamat tinggal, Ujian Nasional! (Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom)
Jakarta -
Pemerintah sudah bulat tekad menghapus Ujian Nasional (UN). Presiden Joko 
Widodo juga sudah merestui. Kemendikbud akan mengganti UN menjadi Asesmen 
Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Penilaiannya terdiri dari kemampuan 
bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan 
matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter.

Kebijakan tersebut kita harapkan mendorong peserta didik berpikir logis, 
berprestasi sesuai kompetensi dan mengasah karakter siswa lebih baik. Selain 
itu, guru juga ditantang agar menerapkan proses belajar dua arah. Yang dapat 
dipahami siswa dan bukan hanya sekedar hafalan semata.

Berbeda dengan penerapan UN yang menilai siswa dari nilai-nilai kognitif yang 
tertulis dengan angka di hasil lembar jawaban. Sementara nilai dari sikap dan 
perilaku untuk membentuk siswa yang berbudi pekerti serta berkarakter justru 
dikesampingkan. Saya melihat kebutuhan dunia pendidikan kita pada penguatan 
basis pendidikan karakter dan kompetensi moral sangat krusial.

Berdasarkan pengalaman menekuni dunia pendidikan 10 tahun terakhir dengan 
mendirikan jaringan sekolah Insan Cendekia Madani (ICM), konsep sekolah 
berasrama (boarding school) dapat diandalkan untuk membangun kompetensi 
intelektual dan moral atau karakter siswa. Pendidikan Islam modern berbasis 
boarding school merupakan solusi implementatif konsep link and match.

Gagasan besar link and match dalam terjemahan implementatifnya memang bakal 
merombak sistem pendidikan kita. Mungkin akan ada kejutan lain dari Mas Menteri 
setelah penghapusan UN ini. Pasalnya, link and match tidak bisa dilihat secara 
konvensional mengingat tantangan dunia pendidikan kita semakin kompleks.

Seperti penghapusan UN, konsep link and match juga menuai pro kontra sejak awal 
dimunculkan pasca-pelantikan. Jalan implementasi link and match memang tidak 
mudah. Regulasi lama harus dibongkar kembali (deregulasi) agar relevan. 
Birokrasi pun harus ditinjau lagi (debirokrasi) agar sesuai dengan kebutuhan 
implementasi konsep pamungkas link and match.

Link and match yang dilontarkan Mas Menteri dan disambut dengan sorot 
kecurigaan itu sebetulnya bukan barang baru. Tudingan bahwa link and match 
mengarah pada kapitalisasi dan industrialisasi pendidikan juga tidak berdasar. 
Pasalnya ide ini sudah ketengahkan sejak era Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro 
memangku jabatan Mendikbud RI tahun 1993-1998. Sebelum wajah dunia sekapilastik 
dan seindustrialis saat ini.

Bila dilacak lebih dalam, link and match lahir dari rahim Ikatan Cendekiawan 
Muslim Indonesia (ICMI). Pak Wardiman, Mendikbud kala itu adalah kolega B.J 
Habibie, penggagas dan Ketum ICMI. Kedua sosok ini sama-sama beraktivitas di 
ICMI yang tokoh sentralnya adalah Habibie. Ketum ICMI saat ini, Prof. Jimly 
Asshiddiqie adalah Sekretaris Pak Wardiman ketika link and match mulai jadi 
perbincangan publik. Bahkan jadi materi forum-forum seminar.

Oleh Habibie, saya bersama teman-teman di ICMI didaulat terlibat langsung dalam 
merealisasikan pilot project link and match di dunia pendidikan. Saat menjabat 
sebagai Sekretaris Orwil ICMI Jakarta, kami ditugaskan oleh Majelis Pusat ICMI 
untuk mendirikan institusi pendidikan yang bisa menerjemahkan konsep link and 
match.

Maka lahirlah sekolah Insan Cendekia. Kini Madrasah Aliyah Negeri di bawah 
Kementerian Agama. Jaringannya pun telah berkembang sangat luas ke berbagai 
daerah. Di awal-awal 100% beasiswa dengan seleksi superketat. Saat ini, 
kabarnya sudah ada yang berbayar.

Di sektor swasta, di bawah pengelolaan yayasan, saya lantas mendirikan Insan 
Cendekia Madani (ICM) di Serpong. Dengan berbagai inovasi, pengembangan 
kurikulum hingga adopsi teknologi mutakhir. Termasuk rutin mengirim pelajar ke 
Singapura, Inggris hingga Amerika Serikat untuk belajar tentang berbagai hal. 
Pergaulan global lintas negara, kultur, etnis, dan agama. Hingga belajar 
tentang terobosan terkini di bidang sains dan teknologi.

Dalam perkembangannya, sambutan terhadap ICM sangat luas. Lalu mulai 
dikembangkan. Kini ada ICM Gunung Geulis di Puncak Bogor, ICM Mandalle di 
Pangkep, tanah kelahiran saya, dan Insan Cita di Serang, Banten.

Gagasan dasar institusi-institusi pendidikan ini sama. Untuk menyiapkan 
generasi mendatang yang siap mengarungi dan berkiprah untuk perubahan dunia, 
dengan bekal iman dan takwa. Link and match dalam bahasa Mas Menteri. Bahasa 
teknis link and match itu dibingkai secara filosofis oleh Habibie. Pendidikan 
berbasis iman takwa (Imtak) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).

Maka gugatan moral dalam membaca gagasan link and match saya kira tidak relevan 
lagi. Bahwa konsep tersebut lahir dari rahim yang mewadahi para cendekiawan, 
dipimpin oleh putra bangsa paling jenius hingga saat ini.

Tantangan kita sebagai insan pendidikan adalah menerjemahkan link and match 
dengan memfirasati masa depan lingkungan lokal dan global satu hingga dua 
dekade ke depan. Kegelisahan di balik gagasan link and match tahun 90-an 
terbukti saat ini. Bahkan sangat presisi.

Misalnya, shifting paradigma melihat lembaga pendidikan sebagai institusi yang 
menerbitkan sertifikat belajar atau ijazah, menjadi kawah candradimuka 
melahirkan manusia yang dibekali kompetensi dan siap berkiprah dengan 
karya-karya monumental. Derivasi paradigma link and match yang dikemukakan 20 
tahun lalu itu bahkan telah diadopsi oleh global company. Seperti Google, 
Apple, IBM, Intel, hingga Starbucks yang dalam beberapa divisi merekrut 
karyawan tanpa melihat ijazah sebagai acuan.

Hal itu membuktikan bahwa link and match akan selalu relevan di setiap zaman. 
Tantangannya bagaimana menafsirkan kerangka kerja gagasan tersebut agar 
adoptable dalam bentuk kebijakan yang berdampak masif terhadap stakeholder 
pendidikan. Bukan cuma siswa, tapi juga guru, dan penyelenggara pendidikan 
lain. Termasuk juga melibatkan keluarga, komponen primer institusi pendidikan 
yang sering dilupakan.

Tamsil Linrung Senator di DPD RI, Pendiri Jaringan Sekolah Insan Cendekia 
Madani, Ketua Majelis Wakaf ICMI

(mmu/mmu)
penghapusan un
un dihapus
link and match





Kirim email ke