-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://mediaindonesia.com/read/detail/279477-jokowi-dianggap-tutup-mata-soal-maraknya-intoleransi


Senin 23 Desember 2019, 19:57 WIB

Jokowi Dianggap Tutup Mata soal Maraknya Intoleransi

Thomas Harming Suwarta | Politik dan Hukum
 
Jokowi Dianggap Tutup Mata soal Maraknya Intoleransi

AFP
Presiden Joko Widodo
 

INTELEKTUAL muda Nahdlatul Ulama Zuhairi Misrawi atau biasa disapa Gus Mis 
mengaku prihatin dengan makin maraknya aksi intoleransi di masyarakat.


Presiden Joko Widodo, menurutnya, harus turun tangan merespons aksi-aksi 
intoleran dengan semua kekuatan yang dimiliki oleh negara. Jika negara diam, 
tandasnya, bisa jadi isu intoleransi tidak dilihat sebagai masalah serius.

"Soal maraknya intoleransi, Presiden Jokowi harus turun tangan, memastikan 
negeri ini merdeka dari intoleransi dan kekerasan," kata Misrawi melalui akun 
twitternya @zuhairimisrawi, Senin (23/12).

Ia sendiri heran sampai saat ini Istana Kepresidenan cenderung diam dan tidak 
memberi merespons, termasuk dalam polemik pelarangan  perayaan natal di dua 
kabupaten di Sumatera Barat. "Ya saya juga kaget. Istana belum melihat 
intoleransi sebagai masalah yang serius," katanya.

 

Baca juga: Dugaan Pelarangan Perayaan Natal di Sumbar Terjadi di 4 Daerah

Baca juga: PBNU: Toleransi Jangan Sebatas Ucapan Natal

 

Ia juga menyoroti sikap MUI Jawa Timur yang melarang umat islam untuk tidak 
menyampaikan ucapan selamat Natal. "Ada apa ya dengan MUI Jatim," tanyanya.

Sebelumnya, MUI Jawa Timur meminta umat Muslim tidak mengucapkan selamat Natal 
kepada umat Kristiani.

Sekretaris MUI Jatim, Mochammad Yunus menyebut pengucapan selamat Natal atau 
selamat hari besar agama lain, bisa merusak akidah Islam.

"Jadi mengenai ucapan Natal karena ini masuk wilayah akidah, ketika kita 
mengucapkan selamat kepada peringatan itu. Ini berpotensi merusak akidah kita," 
ujar Yunus di Surabaya,

Terpisah Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Vox Point Indonesia meminta Presiden 
Jokowi untuk turun tangan menyelesaikan polemik perayaan natal umat Katolik di 
Kabupaten Sijunjung dan Dharmasraya, Sumatera Barat. Pasalnya perlakuan 
diskriminatif yang berujung pada sulitnya umat kristiani di dua wilayah 
tersebut merayakan Natal merupakan bukti nyata pelanggaran hak-hak dasar warga 
negara yang memiliki kebebasan menjalankan agama dan kepercayaannya di dalam 
negara berdasarkan Pancasila, UUD dan Bhineka Tunggal Ika.

"Setelah kami dalami semua informasi termasuk keputusan Pemda setempat yang 
memang menyatakan tidak ada pelarangan ibadah natal namun itu kami anggap 
sangat diskriminatif dan karena itu Presiden Jokowi harus turun tangan langsung 
menyelesaikan polemik ini," kata Ketua Umum Vox Point Indonesia Yohanes Handoyo 
Budhisejati. (OL-8)






Kirim email ke