-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://news.detik.com/kolom/d-4834284/catatan-terpenting-di-tahun-politik?tag_from=wp_cb_kolom_list

Kolom

Catatan Terpenting di Tahun Politik

Bambang Soesatyo - detikNews
Selasa, 24 Des 2019 11:35 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Foto: Biro Pers Setpres
Foto: Biro Pers Setpres
Jakarta - Nurani kebangsaan mendorong Joko Widodo dan kawan-kawannya dalam 
Koalisi Indonesia Maju memilih model penyelesaian politik yang menyatukan 
seluruh elemen bangsa. Inilah catatan terpenting bagi warga bangsa selama 
mengarungi 2019, tahun politik itu.

Dalam hitungan hari, tahun segera berganti; 2019 berakhir, untuk kemudian 
bersama menyongsong tahun 2020. Ada sejumlah catatan tentang dinamika global 
maupun nasional yang tidak hanya akan menjadi kenangan, melainkan juga menjadi 
sisa masalah yang masih harus dituntaskan di tahun mendatang.

Dunia masih harus menghadapi ketidakpastian ekonomi akibat perang dagang. 
Sedangkan di dalam negeri, pemerintah dan masyarakat yang peduli keutuhan NKRI 
masih harus bekerja merawat persatuan dan kesatuan dalam naungan Pancasila dan 
UUD 1945.

Tahun 2020 pun pasti dinamis. Beberapa pemicunya sudah bisa diprediksi. Awal 
tahun mendatang, dunia akan heboh saat menyimak proses lanjutan pemakzulan 
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Di dalam negeri, ruang publik juga 
akan dinamis oleh persiapan pilkada serentak yang dijadwalkan pada pekan ketiga 
September 2020. Pasti dinamis karena Pilkada itu diselenggarakan pada 270 
daerah pemilihan. Rinciannya, sembilan (9) provinsi memilih gubernur, 224 
kabupaten memilih bupati dan 37 kota memilih walikota.

Kendati harus membawa beragam persoalan di tahun baru nanti, Indonesia layak 
lebih optimis memasuki tahun 2020. Sebab, modal dasar untuk mewujudkan 
stabilitas nasional dan ketertiban umum, yakni persatuan dan kesatuan semua 
elemen bangsa telah dimulai dan terus berproses. Kecenderungannya pun positif. 
Memang, di beberapa tempat masih saja muncul kasus-kasus yang merefleksikan 
terganggunya persatuan dan kesatuan itu. Namun, insiden-insiden bernuansa 
diskriminasi itu diharapkan tidak menimbulkan gelisah berlebihan.

Sebab, dari hari ke hari, arus perlawanan masyarakat terhadap perilaku seperti 
itu semakin kuat. Arus kuat itu bisa diamati di banyak forum, termasuk media 
sosial. Perubahan zaman, yang juga ikut mengubah perilaku hidup Generasi 
Milenial dan Generasi Z, pada gilirannya akan menghadirkan peradaban yang 
mengutamakan harmoni karena tereliminasinya banyak sekat pemisah. Sehingga, 
diyakini bahwa di kemudian hari, perilaku diskriminatif tidak akan mendapatkan 
tempat di mana pun, termasuk di negara ini. Mereka yang diskriminatif akan 
terkucil.

Gejala disharmoni atau masyarakat yang terpolarisasi sudah terlihat dan 
dirasakan selama kurang lebih satu dekade terakhir. Gejala itu kemudian semakin 
menguat sejak sebelum dan sepanjang tahun politik 2019. Sumber masalahnya 
adalah ketidakdewasaan sebagian masyarakat dalam menyikapi perbedaan. Sejumlah 
ekses pun bermunculan di berbagai tempat. Menyikapi gejala itu, negara dan juga 
kelompok-kelompok masyarakat yang peduli, termasuk para tokoh agama, terus 
berupaya merekat persatuan dan kesatuan.

Paling signifikan adalah langkah atau model penyelesaian masalah yang dipilih 
Presiden Joko Widodo. Tentu saja dia tidak sendiri. Dia butuh dukungan solid 
dari teman-temannya, para elite partai politik dalam Koalisi Indonesia Maju 
yang mendukungnya pada ajang pemilihan presiden tahun 2019. Tak hanya 
menguatkan nurani kebangsaan, tetapi juga mendorong mereka mendengar suara hati 
untuk bagaimana menyikapi fakta tentang masyarakat yang nyaris tercerai-berai 
karena alasan perbedaan itu.

Sosok Presiden terpilih itu, bersama rekan-rekannya, sampai pada kesadaran 
bersama, dan juga bersepakat bahwa kemenangan mereka di Pilpres 2019 tidak 
boleh menambah persoalan bagi bangsa, baik sekarang maupun di kemudian hari. 
Tidak pula kemenangan itu boleh menggoreskan luka baru bagi mereka yang merasa 
kalah.

Menjadi tidak elok pula jika pemenang bersikukuh menerapkan prinsip the winner 
takes it all. Kemenangan itu haruslah menjadi solusi, pun menyembuhkan, serta 
menjadi sumber kekuatan yang mempersatukan dan merawat keberagaman. Menyatukan 
kembali warga bangsa yang terpolarisasi menjadi yang paling utama. Harmonisasi 
kehidupan bermasyarakat harus diupayakan dengan tulus dan penuh kesungguhan.

Mengakhiri Polarisasi

Sebagaimana dicatat bersama, upaya mengakhiri polarisasi masyarakat tidak 
berhenti pada pertemuan Jokowi dengan sang rival, Prabowo Subianto, di Stasiun 
Lebak Bulus Jakarta pada pekan kedua Juli 2019. Tulus dan kesungguhan Jokowi 
berlanjut saat dia menggodok formasi kabinet. Kejutan dan juga sangat 
menggembirakan karena Prabowo bersedia masuk dalam Kabinet Indonesia Kerja. 
Rivalitas keduanya yang begitu sengit di ajang Pilpres 2019 diakhiri dengan 
cara yang sangat elegan.

Demi kepentingan negara dan bangsa yang jauh lebih besar dan strategis, kedua 
sosok itu mewujudkan kebersamaan dan mengabdi kepada negara. Memang ada 
kelompok mencemooh Jokowi, ada pula yang mengejek Prabowo. Respons negatif 
kepada Jokowi-Prabowo itu karena mereka berpikir sempit dan lebih mengutamakan 
kepentingan sendiri atau kelompok. Bukan kepentingan bangsa dan negara.

Sedangkan kebersamaan Jokowi-Prabowo dalam pemerintahan sekarang ini lebih 
mencerminkan niat tulus keduanya untuk mengakhiri polarisasi masyarakat. 
Keduanya mendorong seluruh elemen bangsa untuk merajut lagi persatuan dan 
kesatuan demi terwujudnya stabilitas nasional dan ketertiban umum. Mewujudkan 
dua faktor ini sangat penting, tidak hanya demi kenyamanan semua warga negara, 
tetapi juga untuk merawat citra bangsa dan negara dalam pergaulan antar-bangsa.

Cara Jokowi dan Prabowo menutup rivalitas mereka dalam berpolitik tidak hanya 
memuat pesan, tetapi juga mengandung pembelajaran bagi masyarakat, terutama 
mereka yang awam dalam politik praktis. Keduanya membuktikan bahwa tidak ada 
yang abadi dalam politik. Tidak ada lawan abadi, pun tak ada pula kawan abadi. 
Hanya ada kepentingan. Untuk mencapai tujuan, etika yang berlaku adalah taat 
aturan untuk melakoni persaingan sehat, bukan perilaku politik yang dibungkus 
sikap bermusuhan.

Di permukaan, masyarakat bisa melihat bahwa masih kelompok-kelompok tertentu 
yang coba mempertahankan dan memelihara polarisasi itu. Jangan terkecoh. Mereka 
tidak menyuarakan aspirasi masyarakat, tetapi sedang memperjuangkan kepentingan 
kelompoknya. Baik kepentingan ekonomi atau kepentingan bisnis, maupun agenda 
lain demi kepentingan asing.

Pada peringatan Hari Bela Negara tahun ini, Kementerian Pertahanan mengemukakan 
bahwa Indonesia dewasa ini menghadapi berbagai tantangan yang tidak mudah di 
bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya hingga persoalan pertahanan dan 
keamanan. "Tantangan dan ancaman yang kompleks tersebut membutuhkan persatuan 
dari kita semua. Setiap anak negeri jangan pernah mau dipecah belah karena 
perbedaan sikap politik," kata Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Ada kekuatan asing di balik kelompok-kelompok yang ingin mengubah dasar negara 
Pancasila. Dan, karena Indonesia kaya akan sumber alam, ada pula kekuatan asing 
yang ingin menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa agar bisa meruntuhkan 
Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hanya persatuan dan kesatuan seluruh elemen bangsa yang bisa mengeliminasi 
niat-niat jahat itu. Di tahun mendatang, harus ada dorongan kepada seluruh anak 
bangsa, khususnya Generasi Milenial dan Generasi Z, agar lebih bersemangat 
merajut persatuan dan kesatuan bangsa.

Selamat Tahun Baru 2020!

Bambang Soesatyo Ketua MPR

(mmu/mmu)




Kirim email ke