Kenang Gus Dur, Gus Mus: di Dekatnya Selalu Merasa Kecil
Reporter:
Marvela
Editor:
Istiqomatul Hayati
Jumat, 27 Desember 2019 09:05 WIB
Gus Mus Unggah Foto Lawasnya dengan Gus Dur di akun Instagramnya, Kamis,
26 Desember 2019.Gus Mus Unggah Foto Lawasnya dengan Gus Dur di akun
Instagramnya, Kamis, 26 Desember 2019.
*TEMPO.CO*,*Jakarta*- Ahmad Mustofa Bisri atauGus
Mus<https://www.tempo.co/tag/gus-mus>mengenang pertemuan pertamanya
dengan mendiang Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ketika di Kairo, Mesir.
Kedua sahabat karib ini pertama kali bertemu 55 tahun lalu pada 1964.
Gus Mus juga mengunggah foto ketika mereka mereka masih muda. "Sosok di
sebelahku ini sejak pertama kali aku mengenalnya (di Kairo Mesir, tahun
1964), sudah menarik hatiku," tulis Gus Mus di Instagramnya pada Kamis,
26 Desember 2019.
Walaupun itu merupakan pertemuan pertamanya, Gus Dur tidak
memperlakukannya seperti orang asing. "Begitu berjumpa, sikapnya
seolah-olah dia sudah mengenalku sejak lama," tulisnya.
Dengan sikap yang ditunjukkan Gus Dur itu membuat Gus Mus merasa
canggung. "Tak ada basa-basi lazimnya orang baru bertemu dan berkenalan.
Justru aku yang canggung dengan sikapnya yang tidak umum itu," ujarnya.
Unggahan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa
Tengah ini untuk memperingati haul sepuluh tahunGus Dur
<https://seleb.tempo.co/read/1258463/soroti-sikap-arteria-dahlan-gus-mus-belajar-jadi-orang-beradab>.
Presiden keempat Indonesia ini wafat pada 30 Desember 2009.
Gus Mus menuturkan, usai pertemuan pertama itu, Gus Dur memanggilnya
dengan sebutan "Mus." Ia sendiri memanggil cucu pendiri Nahdlatul Ulama
ini dengan panggilan "Mas." Namun panggilan tersebut berubah ketika
mereka pulang ke Indonesia.
Almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur bersama Mbah Liem (kanan)
dalam acara Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU di
Bandar Lampung, 1992. Dok. TEMPO/Hidayat S. G.
"Baru ketika pulang di tanah air, ketika orang-orang memanggilnya Gus,
dia pun memanggilku "Gus", meski aku tetap memanggilnya Mas," tulisnya.
Gus Mus mengaku setiap berada di dekat Gus Dur, ia merasa sangat kecil.
"Mungkin karena, aku selalu memperhatikan pikiran-pikirannya yang
besar," tulisnya.
Mustofa Bisri
<https://seleb.tempo.co/read/1233935/datang-di-tahlilan-mbah-moen-gus-mus-rela-uji-nyali> pun
salut dengan sahabat yang sudah seperti saudaranya ini, karena sejak
kuliah ia sudah memikirkan kemajuan Bangsa Indonesia. Saat ia masih
sibuk memikirkan kuliah dan persiapan menghadapi ujian,
Abdurrahman Wahid sudah memikirkan Indonesia dan bagaimana bisa
mempersiapkan khidmah yang optimal bagi negeri yang dicintainya itu.
ADVERTISEMENT
"Ketika aku baru memikirkan bagaimana setelah pulang nanti aku membangun
rumah tangga, dia sudah memikirkan bagaimana membangun peradaban dunia."
Gus Mus juga mengungkapkan bahwa Gus Dur sangat mengutamakan Sang
Pencipta. "Baginya dunia ini, termasuk kekuasaan hanyalah main-main dan
senda gurau belaka, seperti difirmankan oleh Tuhannya sendiri,"
tulisnya, "Baginya, yang terbesar dan terpenting ialah Allah, kemudian
hamba-hambaNya."
Sehingga menurutGus Mus
<https://seleb.tempo.co/read/1232802/anak-anak-maimun-zubair-ingin-cegah-ayahnya-berangkat-haji>kalimat
yang sangat identik dengan Gus Dur memiliki arti yang sangat mendalam
dan penuh makna. "Karena itu ungkapannya, 'begitu saja kok repot...' ,
bagiku, bukan ungkapan majaz atau kinayah belaka," tulisnya.
MARVELA