Keterbukaan Hasilkan Lebih Banyak “Bonus Tiongkok”
2019-12-27 11:12:15 http://indonesian.cri.cn/20191227/186da4b3-e184-8bb6-8b8d-aa8cdcc5e764.html
Komisi Peraturan Tarif Dewan Negara Tiongkok baru-baru ini meluncurkan pemberitahuan, mulai dari 1 Januari tahun 2020, tarif masuk sebagian komoditas akan diaturkan kembali. Juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok dalam keterangan pers kemarin (26/12) menyatakan, menurunkan tarif masuk merupakan langkah konkret untuk memperluas lebih lanjut keterbukaan pasar, hal itu bermanfaat untuk memperluas impor produk yang berkualitas. Sebenarnya pada tahun 2019 yang segera lewat, “keterbukaan” selalu merupakan kosakata kunci dalam perkembangan Tiongkok, juga merupakan kunci bagi Tiongkok untuk menghasilkan lebih banyak bonus.
Di bawah dorongan serangkaian langkah keterbukaan terhadap dunia luar, perekonomian Tiongkok mencapai kemajuan nyata pada tahun 2019. Dari Januari hingga November tahun ini, nilai total impor dan ekspor perdagangan barang Tiongkok tercatat 28,5 triliun yuan RMB, naik 2,4% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Status negara perdagangan menjadi semakin kuat, sedangkan penggunaan investasi asing mencapai 845,9 miliar yuan, naik 6,0% dari pada masa sama tahun lalu. Sementara itu, Tiongkok meneruskan reformasi dengan berdasarkan keterbukaan, mendorong inovasi teknik perusahaan dan eskalasi struktur produk dengan mengizinkan pedagang asing untuk memegang saham atau melalui bisnis modal sendiri, dalam rangka mendorong perkembangan ekonomi beralih ke kualitas tinggi.
Tiongkok yang terus memperluas keterbukaan telah menciptakan semakin banyak “bonus Tiongkok” kepada dunia. Tiongkok membuka pasar konsumsi yang luas untuk dunia dengan mengambil berbagai langkah penurunan tarif masuk, sementara ekspor Tiongkok telah menyediakan sejumlah besar produk berkualitas dengan harga rendah kepada berbagai negara.
Di samping itu, Tiongkok terus mendorong pembangunan ekonomi dunia tipe terbuka, dengan tegas mengeluarkan “suara Tiongkok” untuk mendukung globalisasi ekonomi, meluncurkan serangkaian langkah terkait. Misalnya berkoneksi efektif antara pembangunan “sabuk dan jalan” dengan strategi pembangunan berbagai negara serta dengan agenda perkembangan regional dan internasional, menganjurkan lebih banyak negara dan perusahaan untuk berpartisipasi dalam pembangunan bersama “sabuk dan jalan”. Forum Puncak Kerja Sama Internasional “Sabuk dan Jalan” yang diadakan pada April tahun ini telah mencapai 283 hasil pragmatis dan program kerja sama senilai US$ 64 miliar. Mengenai hal tersebut, Ekonom Kolombia Enrique Posada berpendapat, inisiatif “sabuk dan jalan” dapat mendorong perkembangan ekonomi, saling menguntungkan dan menang bersama.
Yang patut diperhatikan ialah, pada tahun ini, Tiongkok berupaya bersama dengan berbagai pihak, perundingan tentang Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) mencapai terobosan besar, sementara aktif mendorong proses perundingan terkait perdagangan bebas antara Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan serta Dewan Kerja Sama Teluk.
Pada tahun 2018, Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam pidatonya di depan Forum Asia Bo’ao menunjukkan, perkembangan ekonomi Tiongkok selama 40 tahu dicapai dalam kondisi keterbukaan, perkembangan berkualitas ekonomi Tiongkok di masa depan juga akan terwujud dalam kondisi yang lebih terbuka. Ketika memasuki era baru keterbukaan yang lebih berkualitas, Tiongkok akan terus memperluas pasar, terus menyempurnakan konfigurasi keterbukaan, terus mengoptimalkan iklim bisnis, terus meningkatkan kerja sama multilateral, terus mendorong pembangunan bersama “sabuk dan jalan”, menginjeksi keyakinan kuat dan daya penggerak kepada perekonomian dunia.
