-- 
j.gedearka <[email protected]>






Kolomhttps://news.detik.com/kolom/d-4837494/mengoptimalkan-pertanian-lahan-kering?tag_from=wp_cb_kolom_list


Mengoptimalkan Pertanian Lahan Kering

Yoseph Yoneta Motong Wuwur - detikNews
Jumat, 27 Des 2019 14:56 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Lahan kering di Grobogan, Jawa Tengah (Foto: Akrom Hazami)
Lahan kering di Grobogan, Jawa Tengah (Foto: Akrom Hazami)
Jakarta -
Pertanian lahan kering identik dengan pemanfaatan air sekecil mungkin dalam 
usahanya. Pertanian lahan kering beriklim kering selalu bergantung pada curah 
hujan. Sehingga usaha tani lahan kering sering dihubungkan dengan rendahnya 
produktivitas. Di samping itu, lahan kering selalu terdiri dari lahan dengan 
topografi tidak merata yang mempunyai lereng cukup besar sehingga keberadaan 
solum tanah atas selalu terusik oleh erosi yang terjadi.

Lahan kering beriklim kering perlu mendapat perhatian yang serius khususnya 
terkait dengan sumber air dan pengelolaannya. Ketersediaan air merupakan faktor 
pembantas utama. Wilayah dengan kategori rawan pangan dicirikan oleh daya 
dukung lahan pertanian untuk kebutuhan produksi pangan relatif terbatas, sumber 
daya manusia rendah, sarana dan prasarana terbatas, penguasaan lahan pertanian 
terbatas, rata-rata pendapatan di bawah garis kemiskinan.

Oleh karena itu curah hujan yang rendah di wilayah beriklim kering menyebabkan 
tanah tidak mengalami pencucian yang intensif. Hal tersebut merupakan salah 
satu keunggulan lahan kering beriklim kering dibanding wilayah beriklim basah, 
di mana pencucian sangat intensif sehingga tanah miskin hara. Tingkat pencucian 
dan pelapukan ini mengakibatkan solum tanah di wilayah iklim kering umumnya 
dangkal dan di wilayah beriklim basah umumnya dalam. Ancaman lain seperti curah 
hujan yang semakin tidak menentu, perubahan pola hujan dengan periode hujan 
lebih singkat tetapi dengan intensitas yang lebih tinggi.

Optimalisasi lahan kering iklim kering sering kali terbentur pada kendala 
sosial ekonomi, dan akses petani ke input produksi sangat terbatas. Rendahnya 
produksi juga disebabkan lahan tidak dikelola secara tepat sehingga mudah 
terdegradasi, sedangkan upaya konservasi membutuhkan biaya tinggi yang sulit 
dipenuhi oleh masyarakat petani.

Inovasi teknologi pertanian untuk pengembangan lahan kering iklim kering sudah 
banyak dihasilkan meliputi varietas toleran kekeringan dan tahan hama/penyakit 
serta pengelolaan hara dan tanah. Kendala lainnya ialah rendahnya akses dan 
adopsi teknologi tersebut oleh masyarakat. Pengembangan pertanian di lahan 
kering iklim kering diutamakan untuk memanfaatkan potensi sumber daya air yang 
tersedia dengan teknologi yang sederhana dan murah, dipadukan dengan penggunaan 
varietas unggul, sehingga dapat meningkatkan produktivitas lahan.

Mempertimbangkan beberapa permasalahan yang ada, maka pengelolaan lahan kering 
menitikberatkan pada tata cara untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan. 
Pertama, kemiringan lahan dan berbagai kemungkinan akibat negatif ikutannya, 
Kedua, ketidakmampuan tanah berfungsi sebagai lumbung air serta kemiskinan 
bahan organik. Mengatasi permasalahan lahan kering berserta kemungkinan 
pemanfaatannya akhirnya akan sampai kepada terciptanya pola tanam konservasi 
yang cocok untuk lahan pertanian tersebut.

Masalah yang timbul akibat adanya berbagai tingkat kemiringan lahan adalah 
aliran permukaan dan erosi beserta potensi kesuburan. Pembuatan teras bertujuan 
mengurangi panjang lereng serta pada akhirnya mengurangi kecepatan aliran 
permukaan.Terdapat suatu hubungan antara tingkat kemiringan dengan perlakuan 
bentuk permukaan tanah guna mengurangi laju aliran permukaan ini, mulai dari 
sekadar membuat guludan sampai berbagai bentuk teras yang harus diterapkan.

Penerapan teknik konservasi tanah selayaknya mempertimbangkan tiga hal, yaitu 
curah hujan yang sering terjadi, kondisi lahan yang meliputi kemiringan, 
ketebalan solum dan sifat-sifat tanah, serta kemampuan petani setempat untuk 
mengadopsi baik menyangkut biaya, waktu dan ketersediaan tenaga kerja.

Pemilihan teknik konservasi diterapkan berdasarkan kemiringan lahan, solum 
tanah, dan kepekaan tanah terhadap erosi. Konservasi mekanik dalam bentuk 
pembuatan guludan dan teras bangku merupakan teknik konservasi yang lebih 
sesuai. Konstruksi guludan lebih cocok diterapkan di atas lahan dengan 
kemiringan kurang dari 15% baik yang bersolum dangkal maupun dalam yang 
ditanami tanaman pangan.

Sedangkan jika kemiringan lahan kurang dari 5% cukup dibuat guludan yang 
diperkuat dengan penanaman berbagai jenis rumput pakan ternak. Guludan 
berfungsi untuk memperpendek panjang lereng, mengurangi terjadinya erosi 
permukaan dan alur, mencegah timbulnya erosi parit, dan meningkatkan laju 
infiltrasi air ke dalam tanah.

Teras bangku dapat diterapkan di atas lahan dengan kemiringan 10-30%, bersolum 
dalam. Secara umum teras bangku ini mempunyai fungsi memperlambat aliran 
permukaan, menampung dan menyalurkan aliran limpas dengan kekuatan yang tidak 
merusak, dan meningkatkan laju infiltrasi air ke dalam tanah. Jika kemiringan 
lahan berkisar antara 8-15%, sebaiknya dibuat konstruksi teras bangku yang 
dilengkapi dengan saluran pembuang, yang memudahkan aliran air permukaan secara 
terkendali.

Yoseph Yoneta Motong wuwur Fakultas Pertanian Universitas Flores, Ende

(mmu/mmu)
pertanian
pertanian lahan kering
konservasi







Kirim email ke