-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://manado.antaranews.com/berita/73144/kesejahteraan-nelayan-manado-ironi-di-tengah-perkembangan-ekonomi


Kesejahteraan Nelayan Manado, Ironi di Tengah Perkembangan Ekonomi

Selasa, 24 Desember 2019 11:52 WIB

Nelayan yang baru kembali dari melaut. (jo/ANTARA) (1)
Sekarang rumah-rumah ada yang dijadikan penginapan bagi wisatawan yang mau 
berwisata ke pantai, tetapi di desa nelayan, justru kami hidup tetap susah, 
padahal wisata berkembang bagus di Manado
Manado (ANTARA) - "Bicara sejahtera untuk nelayan, barangkali hanya untuk yang 
sudah memiliki kapal ikan atau pemilik pajeko, kalau yang tradisional seperti 
kami masih jauh," kata Benyamin Loho, nelayan dari Kampung Bahowo, Tongkaina, 
Kecamatan Bunaken, Manado. 

Kata-kata Benyamin Loho, ketua kelompok nelayan sengkanaung, Bahowo Tongkaina, 
semakin membuka kondisi sebenarnya nelayan tradisional di Manado, sebagai kota 
yang justru terletak di pesisir pantai. 

Nelayan yang berasal dari wilayah paling utara Kota Manado itu, Benyamin 
mengatakan kemajuan ekonomi Kota Manado belum menyentuh nelayan, yang terlihat 
dari banyak yang tetap harus memiliki profesi lain, supaya bisa tetap menafkahi 
keluarga. 
Benyamin Loho, ketua kelompok nelayan, Sengkanaung. (jo/ANTARA) (1)


"Sekarang rumah-rumah ada yang dijadikan penginapan bagi wisatawan yang mau 
berwisata ke pantai, tetapi di desa nelayan, justru kami hidup tetap susah, 
padahal wisata berkembang bagus di Manado ini," katanya. 

 

Semua pernyataan ketua kelompok nelayan sengkanaung itu, diperjelas oleh 
Sekretaris Asosiasi Nelayan Tradisional (Antara) Kota Manado, Sudirman Sudiro.. 

Sudirman mengatakan, dalam 37 tahun terakhir, atau sejak 1982, nelayan di 
pesisir pantai Manado terus  terpinggirkan, yang diawali pembangunan boulevard, 
yang menyebabkan pantai dari sepanjang Bahu sampai belakang Kampung Texas atau 
Pinaesaan hilang. 

"Kemudian reklamasi yang mulai dilakukan pada awal tahun 1991, dan sampai saat 
ini, membuat nelayan kehilangan tempat menambatkan perahu, ikan semakin sulit 
ditemukan di Teluk Manado, sehingga harus melaut lebih jauh bahkan sampai 
bermil-mil bisa ke 

belakang pulau Manado Tua atau Nain, kalau mau dapat tangkapan banyak dan 
bagus," kata Sudirman. 

Dia mengatakan, pada 20-35 tahun lalu di teluk Manado, nelayan bisa memancing 
tuna, namun sekarang itu hanya tinggal cerita yang disampaikan ke anak-anak 
tentang kejayaan orang tua saat menjadi nelayan yang saat itu menggunakan layar 
untuk melaut. 
Kondisi kampung nelayan di Malalayang Dua, Manado. (jo/ANTARA) (1)


Bahkan yang paling memukul dan menyedihkan bagi nelayan tradisional, katanya, 
adalah tidak menjadi prioritas pertimbangan sebagai salah satu yang harus 
mendapatkan perhatian khusus dalam pembangunan dan pengelolaan pantai Manado, 
sehingga terpaksa harus menerima kehilangan pantai, pasir, dan tambatan perahu, 
yang merupakan sumber kehidupannya. 

Bahkan kata Sudirman, nelayan di sepanjang pesisir pantai Sario terpaksa alih 
profesi menjadi pedagang BBM seperti premium karena bingung harus melaut 
bagaimana karena akses ke pantai tertutup dengan portal dan tambatan perahu tak 
ada, belum lagi jika cuaca buruk kerusakan perahu menjadi risiko yang harus 
ditanggung sendiri.        

"Pantai dibangun menjadi pertokoan dan didirikan hotel-hotel berbintang 
sehingga orang berbelanja di pertokoan bahwa mal yang dulunya adalah laut, dan 
nelayan jadi sulit ke pantai untuk sekadar melihat perahu yang ditambatkan 
diatas bebatuan," katanya. 

Sekarang, kata Sudirman, nelayan tradisional tidak punya banyak harapan, 
permintaan pun hanya satu, yaitu perahunya tidak bertabrakan dengan batu-batu 
reklamasi, dan bisa melaut nyaman di teluk Manado, meskipun menyadari itu 
ibarat pungguk merindukan bulan.  

Akibatnya, meskipun harga ikan sudah membaik, tetapi jika dihitung dengan 
pengeluaran untuk melaut hampir tidak ada kelebihannya, karena jarak melaut 
jauh, karena ikan berkurang di teluk Manado terusir reklamasi, sehingga harapan 
untuk memperbaiki atau meningkatkan perekonomian menjadi sulit sekali terwujud. 

"Pembangunan dan kemajuan Manado tak membuat nelayan tradisional sejahtera, 
masih jauh itu dari kami, karena semakin terhimpit dengan kebijakan yang tak 
berpihak pada kami. Nelayan tak butuh batu reklamasi hanya perlu pantai luas 
dan laut untuk hidup dan meningkatkan perekonomian supaya tidak punah," 
katanya.     

Kehilangan Banyak 

Kondisi nelayan tradisional Manado, yang memiriskan itu, menurut Pakar 
Oceanografi yang juga ketua Antra Dr. Rignolda Djamaludin, adalah akibat tidak 
hadirnya pemerintah membela nelayan tradisonal saat para pemodal besar 
"merampas" pantai dan laut yang menjadi sumber kehidupannya. 

Rignolda mengatakan, dalam semua perencanaan pembangunan reklamasi dan lainnya, 
nelayan tidak masuk sebagai prioritas pertimbangan, dengan berkilah sudah 
memiliki Amdal, memegang izin dan mendapatkan hak mengelola dari pemerintah, 
para pengembang mereklamasi pantai dan tak meninggalkan sejengkal pun akses 
bagi nelayan. 

"Kalau tidak diprotes berkali-kali oleh nelayan, tambatan perahu tidak ada, dan 
untuk melihat laut saja harus membayar, karena sempat ada larangan duduk 
berlama-lama di kawasan reklamasi hanya untuk sekadar memandang laut atau 
melihat dan mengamati kondisi cuaca di laut," katanya. 
Pakar dari Universitas Sam Ratulangi, Rignolda Djamaludin. (jo/ANTARA) (1)


Pakar dari Universitas Sam Ratulangi yang sudah bertahun-tahun melakukan 
penelitian terhadap laut di Manado itu, mengatakan, reklamasi yang mendorong 
peningkatan perekonomian Kota Manado, dalam dua dekade karena pantai berubah 
menjadi kawasan bisnis, tidak menyentuh kesejahteraan nelayan. 

"Nelayan tradisional tetap miskin, tidak menikmati kemajuan perekonomian yang 
terjadi karena pantai dan laut tempat hidup nelayan dirampas, dan dari sekitar 
1.500-1.800 nelayan tradisional di Manado, lebih dari separuhnya, masih hidup 
biasa, belum mampu mencapai tingkatan sejahtera," katanya. 

Dia mengatakan, jika mau jujur, yang paling kehilangan dalam proses 
pengembangan pantai di 

Manado, adalah nelayan, hilang tempat mencari nafkah karena terampas pemodal 
besar yang menggunakan tangan pemerintah lewat perizinan yang diterbitkan..  

        

"Kalau mau jujur hilangnya pasir adalah kehilangan besar bagi nelayan, karena 
tak ada lagi ruang selamat bagi perahunya yang menjadi sarana mencari nafkah 
dan pemerintah tak bisa hadir membela kepentingan mereka," katanya. 

Apalagi reklamasi itu justru adalah ancaman yang baru, karena perubahan di 
pantai akan menyebabkan perubahan tak terduga pada alam, karena arus jadi 
berubah dan ancaman bahaya besar mengintai.       

Posisi Pemerintah 

Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Kelautan Manado, Marus Nainggolan, 
mengakui memang pemerintah terus berupaya memberikan perhatian kepada 
masyarakat nelayan, tetapi memang belum maksimal. 

Nainggolan mengakui belum maksimal memberikan perhatia kepada nelayan, karena 
memang sampai saat ini masih banyak program yang tak bisa dilaksanakan dinas 
yang dipimpinya, dengan alasan tak ada anggaran. 

Bahkan untuk tahun 2019, kata Nainggolan, di dinas pertanian kelautan dan 
perikanan Manado, sama sekali tidak ada bantuan bagi nelayan tradisional, 
dengan alasan tak tertata dalam anggaran. 

"Tahun ini belum ada anggaran untuk bantuan bagi nelayan, terakhir yang 
diberikan pada 2018 lalu, itupun sedikit, karena tak disetujui oleh DPRD jadi 
tak berjalan," katanya. 
Nelayan di Malalayang yang siap melaut. (jo/ANTARA) (1)


Dia mengatakan, bantuan yang diterima kelompok nelayan tradisional di Manado 
hanya yang berasal dari DKP Provinsi Sulawesi Utara, yakni sarana dan 
prasarana, serta dari pusat yang merupakan program Presiden RI melalui KKP 
yakni kartu nelayan sekarang diganti Kusuka dimana sudah termasuk asuransi bagi 
nelayan dan sepanjang 2019 ada 300 nelayan Manado 

yang dapat kartu nelayan. 

Nainggolan mengatakan bukannya tak memberikan memperhatikan nelayan, tetapi 
memang saat ini anggaran untuk nelayan tidak ada, tetapi akan diupayakan tahun 
depan. 

Sementara Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Utara, Tineke Adam, 
mengatakan, banyak langkah yang sudah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan 
taraf hidup dan menolong nelayan tradisonal. 

"Diantaranya adalah masih berlakunya moratorium perizinan kapal asing, 
berdasarkan Peraturan Menteri KKP nomor 10/2015, dan masih berlaku sampai saat 
ini, jadi tak ada kapal asing yang beroperasi di lautan Indonesia, termasuk di 
Sulawesi Utara dan Manado," katanya.                

Sehingga katanya, tidak ada lagi yang mengganggu nelayan lokal terutama yang 
tradisional dalam melaut, dan bisa dengan leluasa mencari nafkah di laut.

Sedangkan untuk bantuan, kata Tineke, ada yang diberikan dalam bentuk sarana 
dan prasarana seperti bantuan peralatan tangkap, perahu pelang, katinting 
hingga kartu Kusuka yang diberikan kepada nelayan di Sulawesi Utara termasuk 
Manado. 
Wakil ketua DPRD Manado, Adrey Laikun. (jo/ANTARA) (1)


Sementara Wakil ketua DPRD Manado, Adrey Laikun, yang berasal dari Dapil 
Tuminting-Bunaken dan Bunaken Kepulauan, terkejut mendengar tak ada bantuan 
sama sekali bagi nelayan di Manado. 

Sebab menurutnya nelayan di Manado masih susah kehidupannya, sehingga perlu 
mendapatkan perhatian dan bantuan pemerintah jangan sampai diabaikan. 

"Apalagi Manado ini adalah kota pantai dengan posisi sebagian besar adalah 
berada di pesisir, seharusnya masyarakat yang didominasi nelayan itu 
mendapatkan perhatian besar, meskipun tidak menjadi prioritas utama, tetapi 
harus terus diperhatikan," tegasnya. 

Dia menegaskan akan mempertanyakan hal tersebut kepada dinas pertanian kelautan 
dan perikanan karena nelayan butuh perhatian, sebab menjadi penyumbang 
perkembangan ekonomi, jangan sampai kota maju secaa perekonomian dan nelayan 
justru tidak maju-maju dan malah menjadi miskin. 

"Kalau memang alasan anggaran, tahun depan saya sendiri selaku pimpinan DPRD 
Manado akan mendorong dinas pertanian kelautan dan perikanan untuk 
menganggarkan hal itu, jika tak bisa di induk maka harus dilakukan pada 
perubahan APBD," tegasnya. 

Tulisan untuk fellowhip Mongabay. 

 
Pewarta : Joyce Hestyawatie B   
Editor : Guido Merung   
COPYRIGHT © ANTARA 2019






Kirim email ke